
"Ini kenapa ada lukisan di sini, in? Tanya Mario, sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Oh, ini aku ambil dari gudang untuk di pajang di lobby butik. Sayang kan, kalau lukisan sebagus ini cuma di taroh di gudang."
"Oh, iya. Aku juga liat lukisan kamu sama perempuan yang namanya siapa tuh? Hmm.. Sasha." ucap inka lagi.
Seketika Mario menghentikan aktifitasnya, dadanya seolah berhenti berdetak. "Sasha? Tau dari mana nama itu?"
"Sukma." Jawab Inka yang tengah duduk di bibir tempat tidur.
"Dia cerita apa lagi?" Tanya Mario yang kemudian menarik kursi hingga duduk berhadapan dengan Inka.
"Justru aku mau denger ceritanya dari kamu. Dia cinta pertama mu kan? Ciyee.." Ledek Inka dengan senyum yang di paksakan, padahal di hati nya yang paling dalam, ia sedih.
"Itu dulu." Mario ikut duduk di samping Inka.
"Terus sekarang dia di mana, Kak?" Mario hanya menggelengkan kepalanya.
"Kalau kamu, siapa cinta pertamamu?" Tanya Mario dengan lembut, sambil mengambil anak rambut yang menutupi wajah cantik Inka dan menyelipkan di telinganya.
"Aku? Hmm.. Ngga ada."
"Masa? Kamu cantik, ga mungkin ga ada yang ngejar-ngejar kamu. Oh, atau si Vino itu." Inka tetap menggeleng.
"Atau jangan-jangan, aku cinta pertamamu?" Mario memancing Inka untuk bersuara, ia ingin tahu lebih dalam tentang istrinya itu.
"Cinta pertamaku adalah papa. sejak kecil di kepalaku papa yang paling ganteng, papa yang paling baik dan papa yang paling mengerti aku. Kelak dewasa aku ingin menikahi seseorang yang seperti papa. Namun semua berubah seiring kekecewaanku terhadapnya. Di tambah, beberapa pria yang dekat denganku tidak bisa menjaga kesetiaannya. Mereka lebih memilih Adhis. Aku takut dengan yang namanya cinta, Kak. Aku takut sakit hati." Inka berkata dengan pandangan lurus ke depan.
Mario menatap wajah sedih itu. Seketika, ia takut dengan keputusannya yang telah menikahi Sasha. Guratan kekecewaan itu nampak jelas di wajah Inka. Akankah, ia memutuskan untuk cerai dari Sasha sebelum Inka mengetahuinya? keputusannya itu memang sungguh terburu-buru. Yang pasti saat itu, hanya satu di dalam pikirannya, menolong kejiwaan Sasha dan memberikan status pada bayi yang tak berdosa, karena yang terjadi pada Sasha, itu pun akibat keteledorannya juga.
"Aku mencintaimu." Ungkap Mario, tangannya mengambil dagu Inka agar mereka saling bertatap mata.
"Ah?" Inka seolah tidak mendengar ungkapan cinta dari Mario, atau ia merasa salah dengar.
"Aku mencintaimu Inka. Bagaimana denganmu?"
Kepala Inka menggeleng, ia masih belum tahu hatinya. "Entahlah."
Kening mereka beradu. "Kita akan menjalani pernikahan ini, sekarang dan seterusnya." ujar Mario lirih. Inka mengangguk, dari awal ia memang bersungguh-sungguh untuk pernikahan ini.
"Aku suka sentuhanmu, Kak. Apa itu namanya cinta?" Mario tergelak mendengar pertanyaan Inka.
*****
"Mario..." Teriak Laras, setelah membuka kasar pintu ruang kerja Mario.
"Ada apa sih, Ma? Kenapa teriak-teriak?" Mario segera menghampiri Laras.
Plak.. Plak..
Laras menampar pipi putranya.
"Ada apa, Ma?"
"Ada apa, katamu? Mama kecewa sama kamu, Yo." Laras terus menggeleng, air matanya sudah tak terbendung.
"Apa salah Inka? sampai kamu tega menikah lagi, Hah? Apa Rio?" Laras menarik kerah kemeja putranya. Untung saja, pintu ruang kerjanya sudah ia tutup, sehingga teriakan Laras tidak mengundang kegaduhan di luar.
"Ma, dengar, Ma" ucap Mario sambil menangkup wajah ibunya.
Mario mengajak Laras untuk duduk dan berbicang dengan kepala dingin. Kemudian ia menceritakan kronoligis pertemuannya dengan Sasha, hingga akhirnya ia menikahinya dan belum menceraikannya sampai sekarang.
"Tapi bagaimana nasib Inka, nak?"
"Inka tetap satu-satunya yang Mario cintai, Ma. Rio pun tak pernah menyentuh Sasha, Sungguh Ma."
"Awalnya mama tidak percaya dengan perkataan salah satu teman mama yang lihat kamu bersama wanita di Yogya. Namun, kemarin kamu meninggalkan Inka dengan waktu yang lama. Membuat mama dan papa harus mencari tahu."
"Jadi, Papa tahu hal ini?" Laras mengangguk.
Mario harus siap mendapatkan amukan dari sang ayah, ketika bertemu nanti. Memang ternyata semua tidak semudah yang ia bayangkan.
Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Saat ini, Mungkin baru mama dan papanya yang mengetahui ini. Tidak menutup kemungkinan, Inka pun akan mengetahui, hanya tinggal menunggu waktu saja..
"Mama tahu, kamu ingin menolongnya, Yo. Tapi mama ga mau kehilangan Inka, mama ga mau kehilangan anak perempuan mama."
"Tidak, Ma. Inka sangat membutuhkan Rio. Dia ga akan kemana-mana, Ma." Ucap Rio yakin.
"Mama minta kamu segera selesaikan ini. Hanya itu pesan mama." Laras meninggalkan Mario yang masih mematung.
"Iya, Ma. Mario akan menceraikan Sasha. Mario hanya menunggu waktu yang tepat." Mario berkata, setelah Laras tak lagi berada di ruangan itu.