Istriku Canduku

Istriku Canduku
percayalah akan kekuatan do'a


Tok.. Tok.. Tok..


Indah mengetuk pintu kamar Inka.


“Sayang, boleh mama masuk?”


“Iya, Ma. Masuk saja, Pintunya tidak Inka kunci.”


Indah memasuki kamar putrinya, terlihat Inka yang masih duduk di meja rias dengan pensil di tangannya. Ia membuat beberapa design gaun untuk menghilangkan kejenuhannya, sekaligus menghilangkan sedikit pikirannya tentang Mario. Jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, sejujurnya Inka pun merindukan Mario.


“Mama ingin tidur di sini malam ini, Boleh kan?” Indah duduk di tepi tempat tidur, persis menghadap ke arah Inka.


“Tentu saja, Ma.” Jawab Inka tersenyum.


Kini, Ibu dan anak itu tengah berada di tempat tidur kamar Inka. Indah terus menciumi tangan putrinya.


“Seperti mimpi rasanya, bisa memelukmu dan mencium tangan ini lagi.” Indah terus memegang punggung tangan Inka sambil mengecupnya, seperti yang selalu ia lakukan ketika Inka kecil.


“Mama tahu apa yang sedang kamu rasakan sekarang. Mama pernah di posisi kamu.” Ucap Indah sambil menatap langit-langit kamar.


“Maksudnya?” Tanya Inka bingung.


“Iya, mama pernah berada di posisimu.” Indah menoleh ke samping, di mana ada putrinya yang juga sedang berbaring di sana.


“Mama sudah tahu semuanya dari Harris. Dia yang selama ini mengabari mama tentangmu di sana. Mama juga tau siapa suamimu. Harris sempat memfoto pernikahan kalian.” Imbuhnya lagi.


“Jadi selama ini, mas Harris jadi penguntit Inka?” Indah pun tertawa mendengar pertanyaan putrinya.


“Mas mu itu sangat bisa di andalkan, Nak. Mama beruntung mengasuhnya.” Inka pun ikut mengangguk, setuju dengan pernyataan sang ibu.


Lalu Indah mulai menceritakan kisahnya dan Raka. Kisah pahit yang sudah lama di kuburnya. Kisah, bagaimana akhirnya dirinya berpisah dengan ayahnya Inka, dan bagaimana dirinya bertemu dengan Karel. Inka mendengarkan dengan seksama cerita ibunya itu. Sungguh ia baru mengetahui alasan sebenarnya, mereka berpisah.


“Papamu lebih memilih Desi dan putrinya. Maaf mama egois, mama mementingkan perasaan mama di bandingkan perasaaanmu. Mama lebih memilih kebahagian hati mama sendiri, di bandingkan kebahagiaanmu.” Indah menangis, airmatanya tak bisa terbendung lagi.


Inka memeluk ibunya dan berkata. “Sekarang Inka mengerti ma, mungkin waktu itu Inka belum mengerti dan marah sama mama. Tapi sekarang Inka tahu rasanya, mama memang berhak mencari kebahagiaan mama sendiri. Terkadang kita memang harus mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan kebahagiaan.” Kini giliran Inka yang tak bisa membendung airmatanya.


“Terima kasih, Sayang.”


“Jadi, Adhis itu saudari Inka, Ma? Saudari beda ibu?”


“Iya, betul. Adhis itu bukan anak sambung ayahmu, tapi anak kandungnya.” Jawab indah.


Inka membulatkan matanya dan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ia terkejut dengan kenyataan ini. Pantas saja, Raka begitu menyayangi Adhis.


“Tapi, kenapa papa tidak pernah beritahu hal ini ke Inka, Ma.” Indah mengangkat bahunya dan menggeleng.


“Mungkin, papamu ingin menjaga perasaanmu.” Ucap Indah.


Lama keduanya hening, Inka berpikir dengan pikirannya sendiri. Mengingat, bagaimana Raka membedakan dirinya dan Adhis.


“Sekarang, kamu bisa memulai dari awaal, menata lagi hidup barumu di sini.” Kata Indah.


Inka pun mengangguk.


“Lalu, apa kamu dan suamimu sudah bercerai/” Tanya Indah lagi.


Inka menggeleng. “Inka ga tahu, Ma. Yang jelas, sebelum Inka pergi, Inka sudah menandatangani surat cerai, tapi tidak tahu dengan Mario. Apa dia mengurusnya atau tidak.”


“Mama yakin, dia tak mengurusnya.” Ucap Indah dengan tatapan yang masih pada langit-langit kamar.


“Kok, mama bisa yakin gitu?” Tanya Inka menatap ibunya.


“Semoga saja.” Batin Inka.


Akhirnya percakapan mereka di tutup dengan dengkuran halus Inka, dan hembusan nafasnya yang teratur. Inka tertidur sambil di elus-elus kepalanya oleh sang ibu.


Di sisi lain. Mario masih belum berubah, keadaannya masih tetap sama, walau hari sudah berlalu beberapa hari.


Tok.. Tok.. Tok..


Gedoran pintu apartemen Mario terdengar sangat kencang. Sepertinya, orang yang ada di luar sana, tidak sabar menunggu yang punya rumah untuk segera membukakan pintunya.


Ceklek... Mario membuka pintu apartemennya.


Bugh... Pukulan tepat di wajah Mario.


“Papa?” ucap Mario pada Raka.


Wajah Raka sudah sangat memerah. Ia baru mngetahui kabar menghilang putrinya.


“Di mana Inka?’ Teriak Raka.


“Di mana?” Raka menarik kerah kaos oblong, ysng di kenakan Mario.


“Mario juga sedang mencarinya, Pa.”


Bugh.. Mario di pukul lagi, kali ini membuat sudut bibirnya berdarah.


“Maaf, Pa.’ Ucap Mario lirih.


“Papa sudah bilang, Jaga Inka! Jangan pernah menyakitinya, seperti papa yang sudah menyakitinya.” Suara Raka melemah, ia menangis dan mnedudukkan dirinya di sofa yang ada di sana.


“Maaf, Pa. Maaf.” Mario memohon pada raka sambil berlutut.


“Mario janji akan membawa Inka kembali ke sini. Mario janji, Pa” Suara rintih Mario sanagt terdengar, begitu pilu dan menyayat hati.


****


Mario mencoba bangkit, ia mulai kembali bekerja dengan masih di dampingi sang ayah. Karena keadaan Mario saat ini masih labil dan terkadang keputusan yang ia ambil untuk perusahaan menjadi tidak logis. Tidak seperti sebelumnya yang penuh perhitungan dan matang. Hampir setiap malam Mario juga pergi ke club untuk minum alkohol, hanya minum hingga mabuk berat. Hal ini membuat repot kedua sahabatnya yang juga sudah menikah. Kedua sahabatnya harus meninggalkan anak istri, guna menemani Mario. Andre dan Rey sampai harus membuat jadwal hari-hari apa saja mereka bergantian menjaga Mario di apartemennya.


“Yo, sampai kapan lo kaya gini sih!” Seru Rey yang tengah membopong Mario ke apartemennya.


“Mabok ga bikin masalah lo selesai, Yo.” Rey berucap lagi.


Dengan telaten sahabat Mario ini, membuka sepatunya dan pakaiannya, serta membaringkan Mario di tempat tidur.


Keesokan harinya. Rey membuka tirai jendela kamar Mario.


“Silau Rey, tutup lagi!” Ucap Mario yang masih memegang selimutnya.


“Bangun, Yo. Gue udah pesenin makanan buat lo. Ini udah siang.”


Mario menuruti ucapan sahabatnya. Kini mereka berada di meja makan.


“Gue tahu apa yang lo rasain, Yo. Gue juga pernah di posisi lo, dulu gue ngerasa bakal kehilangan Cinta karena dia mau nikah sama laki-laki lain. Tapi percayalah akan kekuatan do’a. Berdo’alah padaNya, supaya Inka kembali sama lo. Setelah itu lo pasrah, biar semua berjalan dengan semestinya. Cukup yakin kalau doa lo bakal di jawab Tuhan. nanti akan ada waktu dimana lo dipertemukan lagi sama Inka dengan waktu yang pas. Percaya deh.” Mario menghentikan garpu dan sendok yang ia pegang. Ia mencerna setiap perkataan Rey.


Ia menatap Rey lama, dan tersenyum.


“Terima kasih, Bro. Maaf gue ngerepotin lo dan Andre selama ini.” Mario berkata dengan penuh senyum.


“Ga ada kata ngerepotin, Yo. Kita tuh deket dari SMA, udah seperti sodara. Gue sedih kalau liat lo seperti ini terus.” Ucap Rey.