Istriku Canduku

Istriku Canduku
mencari Sari


Sudah sepuluh hari, Sari masih belum menampakkan dirinya di butik.


“Miss, Sari kemana sih?” Keluh Bianca.


“Ponselnya, ngga aktif sampai sekarang, Miss.” Kata Bianca lagi, saat ia berada di ruangan Inka.


Inka bertopang dagu. Ia juga terus berpikir.


“Aku juga tidak bisa menghubunginya, Bi.” Jawab Inka.


“Saya sudah ke kosannya, tapi kata ibu kos, Sari pergi dan belum balik.”


“Apa dia sedang menemui orang tuanya di Malang?” Tanya Inka.


“Mungkin.” Jawab Bianca.


“Cek alamat Sari di Malang, Bi. Weekend nanti saya usahakan ke sana.” Ucap Inka.


“Ngga usah, Miss. Biar saya dan Dhani yang ke Malang. Miss kan masih banyak urusan di rumah.” Kata Bianca.


“Hmm.. Terima kasih, Bi. Aku nanti akan minta Mario untuk melacak keberadaan Sari dari ponselnya.” Bianca pun mengangguk.


Di sisi lain, David yang sudah berada di Bali tengah menikmati segelas wine sambil memegang ponsel Sari. Ia juga telah mengambil simcard yang ada di dalam ponsel itu, agar tidak ada yang dapat menghubungi Sari. Ia juga telah menyuruh orang suruhannya untuk selalu mengikuti kemanapun Sari pergi. Dunia David kini teralihkan pada Sari. Sensani yang ia rasakan di kamar 201 itu tak pernah hilang dari ingatannya, rasanya ia ingin menyentuh tubuh itu lagi.


Ia kembali tersenyum, saat ingat akan aksi Sari yang melempar segala benda ke arahnya pada waktu itu, serta ekspresi Sari yang tak lagi mendapatkan benda untuk di lempar.


“Gadis Indonesia.” Ucap David tersenyum sambil mengelus wajah Sari di galery ponselnya.


****


“Kak, bagaimana?” Tanya Inka pada suaminya yang sedang fokus dengan laptop di hadapannya. Ia masih menelusuri keberadaan Sari


“Hmm.. di sini terlihat hanya sampai di lokasi hotel XX.” Kata Mario.


“Kalau itu memang terakhir aku bertemu Sari, karena ingin bertemu tante Vivi.”


“Tapi di sini, tidak terdetek lokasi lain setelah itu, karena sepertinya simcard di cabut atau ponselnya tidak di aktifkan lagi.” Jawab Mario.


Keduanya terdiam dan saling berfikir. Inka menatap lurus ke arah laptop Mario, sambil menopang dagunya.


Mario memperhatikan wajah serius istrinya, lalu meraih rambut yang menghalangi wajahnya untuk di rapihkan.


“Mengapa tidak kamu coba menemui tante Vivi, bukankah dia orang terakhir yang di temui Sari?”


Inka menoleh ke arah suaminya. “Aku sudah menelepon tante Vivi, tapi tidak aktif juga.”


“Sebenarnya ini ada apa ya, kak? Kenapa jadi penuh misteri seperti ini.” Inka semakin bingung.


“Bagaimana kalau kita cek CCTV di kamar hotel itu?” Kata Mario.


“Ide bagus. Ayo!” Inka langsung menarik tangan suaminya.


“Sebentar, Sayang.”


****


Sesampainya di Hotel XX, Mario tak mendapati hasil, karena CCTV yang berada di kamar yang di pesan atas nama Vivian itu telah di nyatakan rusak. David sudah membayar petugas di sana untuk merusaknya. David orang yang licik, hal ini tidak akan luput darinya. Semua bukti telah ia lenyapkan.


“Kenapa bisa rusak? Ini semakin aneh, Kak” Geram Inka, yang tengah berjalan di lorong kamar hotel bersama Mario.


Mario mengangguk.


Ting, Notifikasi ponsel Mario berdering.


“Sayang, kita ke lokasi ini. Orangku memberitahu keberadaan tante Vivi.”


Inka mengangguk dan bergegas meluncur ke lokasi yang di berikan orang suruhan Mario.


Mario sudah menyuruh orang untuk datang ke Malang, tapi ternyata keluarga Sari sudah lama pindah dari alamt yang tertera di Curikulum Vitae milik Sari sesuai data di bagian HRD butik Inka.


Inka pun langsung memberitahu Bianca, agar tak perlu lagi ke Malang.


“Sayang, David sudah tak lagi menghubungimu?” Tiba-tiba Mario bertanya, saat mereka sedang berada di dalam mobil untuk menemui tante Vivi.


Inka menggeleng. “Tidak pernah sama sekali.”


Mario mengangguk. “Bagus kalau begitu.”


Setelah emapt puluh menit di perjalanan, akhirnya mereka sampai di tempat yang di tuju. Vivian sedang berada di sebuah salon di daerah Kelapa Gading.


Inka langsung keluar dari mobilnya dengan tergesa-gesa. Ia penasaran dengan apa yang terjadi antara Vivian dan sari pada malam itu.


“Tante Vivi.” Panggil Inka pada Vivi yang masih menegnakan handuk kecil di kepalanya dengan tubuh menghadap ke cermin.


Vivian menatap Inka dari balik cermin. Ia langsung berlari.


Inka dengan sigap menahan lengan Vivi.


“Maaf, In. Aku terpaksa melakukannya. Aku minta maaf.”


“Melakukan apa?” tanya Mario yang tengah membantu istrinya.


“Pak Rio, saya mohon maaf, saya melakukan itu karena terpaksa.” Vivian berlutut di kaki Mario.


Ia sangat takut, karena yag ada di pikiran Vivian adalah Inka sudah terkena jebakannya. Ia pun tak tahu bahwa Inka baik-baik saja dan bukan dia yang menajdi korban David.


“Hey, apa maksudmu?” Tanya Mario bingung.


Inka meraih lengan Vivian untuk bangkit.


“Inka, maafkan tante, jangan jebloskan tante ke penjara!”


“Maksud tante apa? Ceritakan yang jelas.” Teriak Inka. Ia mulai geram dengan sikap tersirat Vivian.


Lalu Vivian menceritakan kronologis kejadian itu, kejadian dimana ia mabuk dan kahal berjudi, hingga ia berada di kamar 201 bersama David. Ia juga menceritakan rencana licik David yang akan menjebak Inka.


Kedua telapak Inka menutup mulutnya, ia terkejut dengan semua cerita yang ia dengar dari mulu Vivian. Rahang Mario pun mengeras, ia tak menyangka David akan se tega ini padanya. Walau rencana itu tak di izinkan Tuhan, dan kejadian itu tak terjadi pada istrinya. Namun, tetap saja, amarah yang menggelora muncul di dada Mario.


“Sial.” Mario menendang meja di hadapannya dan membuat kaca meja itu pecah.


Prang.


“Kak.” Inka menahan tubuh besar suaminya, agar tidak emosi.


“Hey, wanita tua, kamu akan membusuk di penjara.” Mario menunjuk ke wajah Vivian yang sedang menunduk, lalu pergi dengan menyerahkan uang ratusan yang banyak pada kasir salon itu.


“Kak, tunggu!” Inka berlari mengejar suaminya.


Kaki Mario terhenti, tepat di samping mobilnya yang sedang terparkir.


“Kamu tahu, aku tidak bisa membayangkan, jika Adhis tak meneleponmu dan memberi kabar itu. Aku tidak bisa membayangkan David melakukan itu padamu.”


Brak.


Mario memukul pintu mobilnya, di mana Inka sedang berdiri membelakangi pintu itu. Tubuh Inka terhentak kaget.


“Apa mungkin, Sari yang menjadi korban David malam itu?” Tanya Inka lirih.


“Mungkin. Aku akan mencari David.” Jawab Mario dan bergegas masuk kembali ke mobilnya.


Sesampainya di rumah. Mario tak kunjung keluar dari ruang kerjanya. Ia tampak sibuk menghubungi teman-temannya untuk mencari tahu keberadaan David.


Inka hanya mengintip di balik pintu ruang kerja Mario. Ia melihat apa yang sedang suaminya lakukan. Mario benar-benar sangat marah, ingin sekali ia mencincang tubuh David, walau kejadian itu tak terjadi pada istrinya, tapi tetap saja apa yang di rencanakan David membuat Mario membara.


Ceklek.


Perlahan Inka membuka pintu ruang kerja Mario, sambil membawa secangkir kopi kesukaan suaminya itu.


Ia menghampiri Mario yang tengah duduk dan memijat pelipisnya.


“Kak, minumlah dulu, supaya tenang.” Inka memijat kepala Mario.


“David sudah kembali ke Inggris.” Kata Mario.


“Sial, dia lari.” Kata Mario lagi dengan nada kesal.


Sontak membuat pijatan Inka terhenti dan menatap wajah Mario.


“Lalu bagaimana dengan Sari?”


“Entahlah, keberadaan Sari pun tak aku temui.”


Kemudian Mario meminta Inka untuk duduk di pangkuannya.


“Sayang. Aku tidak tahu harus senang atau sedih. Satu sisi aku senang dengan kenyataan bahwa kamu terselamatkan dari rencana liciknya. Tapi aku juga sedih jika Sari yang menjadi korban pada malam itu.”


“Kamu pikir, David pun akan melakukan itu walau ternyata itu bukan aku?” Tanya Inka.


“Apa Sari masih.. Hmm.. perawan?” Tanya Mario.


Inka mengangguk. “Pasti iya, karena aku tahu betul prinsip Sari, dia tidak akan menyerahkan harta berharganya sebelum menikah.”


“Kamu tenang saja. Semua akan baik-baik saja.” Kata Mario yang kembali tenang.


“Maksudmu?”


“David telah menemukan wanita yang ia cari, walau dengan cara yang salah.” Jawab Mario yang membuat Inka semakin tak mengerti.


“Aku ngga ngerti.” Ucap polos Inka.


“Ya.. hanya pria brengsek yang mengerti.” Mario tersenyum dan mengecup bibir ranum istrinya.