
Waktu terus berjalan, satu tahun berlalu. Inka menepati janjinya untuk mengajak Ambar dan Tari ke Belanda. Walau janjiya itu telat, karena banyak yang terjadi di sini. Dari mulai hilangnya Sari yang bersamaan dengan meninggalnya Desi, hingga kabar gembira dari Sukma, yang resmi di lamar Husein dan kini sudah menyandang gelar istri konglomerat Emirat Arab.
Keluarga Mario menjadi orang yang paling di repotkan Sukma, karena Husein selalu melibatkan Mario dalam proses kedekatannya dengan Sukma hingga pernikahan mereka di gelar. Mario pun dengan suka rela menjadi penengah antara keluarga Sukma dan keluarga Husein. Hal ini membuat Inka bangga. Ia semakin mencintai suaminya itu, karena Mario tidak pernah pamrih menolong orang lain dan tidak juga membedakan status soaial orang lain.
“Hmm..” Inka memeluk Mario dari belakang, kala suaminya itu tengah menikmati udara pagi dari pintu balkon kamar Inka yang berada di Belanda. Kamar yang menjadi saksi proses perbaikan hubungan pernikahan mereka.
Mario tersenyum dan menggenggam tangan sang istr, lalu membalikkan tubuhnya
“Yang semalam kurang?”
Inka tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya dan mengangguk, hanya untuk menggoda sang suami.
“Benar-benar nakal sekarang.” Mario menggendong Inka untuk kembali ke tempat peraduannya.
Keduanya tertawa.
****
“Ayo makan!” Ucap Indah dengan mawajh sumringah sambil membawa senampan ayam panggang utuh yang baru ia keluarkan dari mikrowave.
“Wah.. ini pasti lezat.” Inka menggosokkan telapak tangannya dengan wajah berbinar.
Indah sangat bahagia karena malam ini, di ruamahnya penuh dengan orang-orang yang ia cintai. Inka bersama dengan suami dan kedua anaknya, lalu ada Harris yang juga di temani oleh istrinya yang tak lain adalah Bella.
Di dapur, Karel menghampiri istrinya yang dari siang sibuk memasak,
Ia melingkarkan tangannya pada pingga Indah. “Kamu bahagia, Sayang.”
Indah menoleh ke wajah Karel dengan senyum ceria.
“Tentu, aku selalu bahagia. Terima kasih.” Indah menepuk pipi suaminya.
Karel pun tersenyum, walau ia masih megingat jelas, kata-kata Indah dua tahun lalu, ketika ia sedang berbincang dengan puterinya .
Di meja taman, Mario repot melayani Maher dan Mahira yang meminta banyak makanan untuk di coba. Sementara Inka sudah sekian lama tak berjumpa Bella, kini asyik berbincang bersamanya. Harris tengah sibuk membakar daging barberque, berdiri di rumput taman. Lalu, Ambar dan Tari yang membantu menyiapkan bumbu daging barberque yang akan di bakar Harris, serta menata peralatan makanan yang di gelar dengan karpet di atas rumput taman di rumah Karel.
Suasana hangat begitu terasa di sana.
“Bel, sorry ya, aku tidak datang ke pesta pernikahanmu waktu itu.”
“It’s oke, aku tahu kok. Di sana kalian juga sedang berduka.” Jawab Bella yang sedang ngobrol berdua dengan Inka.
Ya, tepat sehari satu minggu sebelum hari bahagia Bella dan Harris, Desi meninggal. Inka pun langsung memberi kabar itu pada Indah dan Karel.
“Lagian yang penting kadonya dateng.” Ucap Bella meledek, karena walaupun pada saat itu Inka tidak hadir di pernikahan Harris dan Bella. Namun, Mario telah menyiapkan akomodasi bulan madu kedua pengantin baru itu ke Maldives selama tujuh hari.
“Dasar.” Inka mencibir.
“Terus, katanya di sini sudah ada yang hidup.’ Inka berkata algi, lalu berdiri menghampiri Bella dan mengelus perut rata itu.
“Ayo semua merapat, makanan sudah matang.” Teriak Harris yang memegang dua piring berisikan daging bakar barberque.
“Uuhh.. makan besar.” Ucap Bella.
Mario menggandeng Maher dan Mahira menuju karpet di atas rumput taman buatan itu.
Ting—Ting—Ting—
Harris membenturkan sendok beberapa kali ke gelas yang ia pegang. Semua yang hadir di sana menuju ke arah Harris.
“Attention please. Malam ini malam yang sangat membahagiakan, pertama karena Inka dan keluarga tengah hadir bersama kita. Terima kasih Mario karena telah mengizinkan Inka datang ke sini, sekaligus menemaninya.” Harris menundukkan kepalanya ke arah Mario tanda penghormatan.
“Kedua, ini juga tanda syukur, perayaan kecil-kceilan dari kami karena Tuhan telah memberi sesuatu yang hidup di sini.” Harris merangkul pundak Bella sambil mengelus perut rata istrinya.
“Sesuatu yang tidak terduga akan datang secepat ini.” Ucap harris lagi dengan mata berkaca-kaca.
“Terima kasih Dady Karel dan mama Indah, atas semua yang telah kalian berikan padaku. Sungguh sebanyak apapun aku membalasnya, itu tidak akan cukup.” Kata harris lagi.
Indah tersenyum sumringah di iringi eratan tangan Karel yang memeluk pinggangnya dari samping. Indah pun membalas pelukan karel dengan melingkarkan lengannya ke pinggang suaminya itu. Mereka berdua saling bertatapan, lalu tersenyum.
INka yang melihat pemandangan itu, langung bahagia. Walau ia sedih, kala ingat kondisi sang ayah kini.
“Ternyata semburan Harris jitu juga.” Bisik Mario membuyarkan lamunan Inka yang tengah menatap sang ibu.
“Ish, kamu.” Inka menyenggol sikunya pada perut Mario yang masih sixpect.
“Terus kamu kapan?” Tanya Mario tepat di wajah Inka.
“Kapan apa?”
“Hamil lagi.” Mario menampilkan wajah innocent-nya.
Inka memalingkan wajahnya dengan senyum. Pasalnya Mario selalu memberi kode seperti ini. Membuat Inka tak tega, lalu ia membuka alat kontrasepsi yang tertanam di rahimnya itu tanpa sepengetahuan Mario. Ia pun siap jika Tuhan memberinya bayi lagi, bahkan jika itu akan kembar lagi. Ia akan sangat senang, mengingat Mario pun ingin memiliki anak yang banyak.
____________________________________________________
Genks, sebelumnya saya minta maaf untuk part David dan Sari akan saya lanjutkan di "Istriku Canduku 2" karena sepertinya kurang nyambung, kalau menceritakan mereka di sini, karena di sini part nya Mario dan Inka.
Saya akan menulis cerita David dan Sari dengan detail di "Istriku Canduku 2" sambil tetap merampungkan kisah Mario dan Inka di sini.
Stay tune ya guys.. terima kasih
Muuuuaaacchhhhhh
Salam sayang dan sehat selalu ❤❤❤