Istriku Canduku

Istriku Canduku
kamu pasti hamil


Tahun pun berganti lagi, sudah dua tahun sejak Inka berkonsultasi pada Mediana, ia masih tetap belum merasakan tanda-tanda kehamilan.


“Kak, sepi ya.” Ucap Inka saat ia menyandarkan tubuhnya pada dada bidang Mario.


Mereka hanya berdua duduk di sofa, sambil menonton berita di televisi. Tangan Mario memegang remot dan terus mengangganti channel untuk mencari acara yang bagus. Maher dan Mahira tengah berada di rumah Andreas. Laras menjemputnya kemarin, sehingga weekend ini Mario dan Inka hanya di tinggal berdua di rumahnya. Sedangkan Indah, sedang berada di rumah Raka, karena pria paruh baya itu sedang sakit dan butuh perawatan. Indah dengan sukarela menawarkan diri untuk datang merawatnya, dan akan pulang sore harinya.


“Kak.” Inka menengadahkan kepalanya, melihat Mario yang masih seirus dengan TV yang ia tonton.


Ia menoleh ke wajah Inka, sambil mengelus bibir dan dagunya.


“Kenapa?”


“Baru semalam Maher dan Mahira menginap di rumah oma sudah berasa sepinya.”


“Besok kita jemput mereka.” Ucap Mario yang kini mengelus rambut Inka.


“Kak, kok aku lama ya punya anaknya lagi, padahal sebelumnya tidak.”


“Belum rezeki, Sayang.”


Inka mengangguk. “Iya sih, padahal konsultasi ke dokter hasilnya bagus, terus usaha juga sering.”


“Hey, justru semakin kamu pikirkan, malah jadi stres. Enjoy aja.” Kata Mario menenangkan.


“Tapi semakin lama, usiaku semakin tak muda lagi, Kak. Dan di usia yang lebih dari 35 tahun akan semakin rentan untuk hamil katanya.”


“Kalau ternyata aku tidak bisa hamil lagi, Bagaimana? Kamu kan ingin punya anak banyak. Apa kamu akan nikah lagi?”


Mario menoleh ke wajah Inka, ia mengeryitkan dahinya. “Ngomong apa? Hmm..”


Inka kembali menengadahkan kepalanya. Mario semakin menguatkan eratan pelukan itu.


“Kalau ngomong yang baik-baik, karena omongan itu doa.” Ucap Mario.


“Tapi, jawab dulu. Kalau aku tidak bisa hamil lagi, apa kamu akan menikah lagi?”


“Menurutmu, kalau aku menikah lagi, apa kamu mau?” Tanya Mario memancing.


Inka sering memberikan pertanyaan menjebak, padahal iya sangat tahu jawabannya. Namun seolah, ia ingin mengetes kesetiaan suaminya itu.


“Terserah kamu, kalau kamu mau. Aku ngga masalah.” Inka mulai menegakkan tubuhnya dan tak lagi bersandar pada dada itu.


“Yakin?” Tanya Mario dengan terus mendekatkan wajahnya.


Inka mengangguk. “Aku bisa apa kalau kamu memang sudah bosan terhadapku nantinya.”


“Kalau aku bosan, aku tidak akan meminta jatah tiap malam.” Mario kembali merengkuh tubuh istrinya yang mulai menjauh.


“Eh, beneran nih, kamu ngga akan nikah lagi? Walau misalnya aku yang akan pergi lebih dulu menghadapaNya?” Tanya Inka meledek, membuat Mario jengkel.


“Sssttt...” Telunjuk Mario di arahkan pada bibir Inka.


“Jangan pernah berkata seperti itu lagi, aku tidak mau dengar kamu ngomong seperti itu.” Tiba-tiba wajah Mario berubah menjadi serius.


“Ih kamu kok jadi serius banget. Aku kan cuma tanya.”


“Tapi pertanyaannya ngga lucu.”


“Kak..” Rengek Inka, melihat wajah Mario yang dingin.


“Kak..”


Cup


Inka memajukan wajahnya, lalu mencium bibir Mario yang tipis.


“Maaf.” Rengek Inka lagi.


“Apa pun yang terjadi, kita akan selalu sama-sama.” Ucap Mario.


****


“Sayang, sepertinya besok malam aku ke jogja.” Ucap Mario saat ia memakaikan jam tangan di pergelangan tangannya.


“Ikut.”


“Tumben, aku cuma semalam kok.” Kata Mario sambil tersenyum. Memang akhir-akhir ini Inka sangat manja dan sensitif.


“Aku ngga bisa tidur, kalau ngga di peluk kamu.” Jawab Inka, sambil menggelayutkan tubuhnya pada tubuh suaminya.


“Ini kenapa ya? Aneh.”


“Kenapa aneh? Emang ngga boleh kalau seorang istri manja ke suaminya.” Inka melepas pelukannya tadi, lalu pergi.


“Hey.” Mario menahan lengan Inka.


“Kok marah.” Mario melihat wajah Inka yang sedang merengut.


“Aku ikut, please. Ada mama di sini.”


Mario tersenyum. “Aku malah senang kamu ikut, tapi..”


“Tapi apa? Ngga suka.” Inka kembali pergi.


“Bukan itu, haduh.” Mario mengusap kasar wajahnya dan mengejar Inka yang sudah berlalu.


Sesampainya di meja makan, Mario menyapa kedua anaknya yang sudah rapih dengan seragam sekolah. Mario menoleh ke arah Inka yang masih cemberut padanya.


“Mimi, pipi. Kami berangkat ya.” Ucap Maher yang kemudian menyalami orang tua dan neneknya, di ikuti Mahira.


“Hati-hati, sayang. Jangan nakal ya!” Pesan Inka pada Maher. Lalu mengecup kening kedua anaknya. Mario pun melakukan hal yang sama.


Tak lama kemudian, Inka menuju dapur, dan Mario mengikuti langkah istrinya yang sedang merajuk.


Mario berdiri menyilangkan kedua tangannya persis di samping Inka yang sedang menyiapkan makanan yang akan di bawa Mario.


“Hai sexy, cemberut aja sih.” Mario mencubit dagu Inka, lalu dengan cepat Inka menepisnya.


Lalu, tangan Mario beralih mencubit satu gunung kembarnya yang terlihat menonjol.


“Ish, Jangan pegang-pegang!” Inka kembali menepisnnya.


“Aww.. mama.. Inka di gigit.”


“Di gigit apa? In.” Indah langsung berlari ke dapur.


Namun, Inka hanya menggeleng sambil memegang leher yang di gigit Mario tadi. “Ngga apa-apa, Ma.”


Indah pun melihat Mario yang masih nyengir sambil menyesap kopinya, mereka saling bertatapan, membuat Indah mengerti apa yang terjadi.


“Dasar kalian.” Indah tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Sore harinya, Mario menjemput Inka di butik, dan membawanya ke Jogja. Ia pun telah memberitahu Indah untuk menitipkan kedua anaknya. Seperti biasa, ibu mertuanya itu tidak akan keberatan.


Setelah lelah seharian, Mario mengistirahtakan dirinya di tempat tidur empuk dan besar itu. Semula yang awalnya Mario hanya ingin pulang pergi saja, kemudian menjadi menginap karena khawatir Inka akan kelelahan.


Inka mendekati Mario yang bersandar pada dinding tempat tidur, sambil memainkan ponselnya. Ia mencium wajah suaminya, dan terus menelusuri bagian itu.


Mario tersenyum. “kamu pasti hamil.”


“Masa?”


Mario mengangguk. “Aku ingat betul, kamu yang seperti ini saat hamil. Makanya aku suka kalau kamu hamil.”


Inka memukul dada Mario, lalu Mario memegang tangannya.


“Aku minta Sherly untuk membelikan tes kehamilan.” Mario langsung menelepon Sherly.


Kebetulan memang, hari ini Sherly yang di ajak Mario ke Jogya karena Dhani sedang berhalangan untuk menemaninya.


“Kamu yakin banget.”


“Coba aja besok.” Senyum Mario mengembang.


****


Keesokan paginya. Inka mengambil alat tes kehamilan yang langsung di beli Sherly semalam. Ia mengambil alat itu dan mencobanya.


“Kak...” Inka menjerit, membuat Mario panik dan langsung berlari ke kamar mandi.


“In,,,” Mario lega setelah melihat Inka baik-baik saja, dan berdiri di depan cermin.


Mario kemudian menghampiri istrinya dan memeluknya dari belakang.


“Aku kaget dengar teriakanmu. Aku kira ada apa?”


“Kamu benar.” Inka menunjukkan hasil tes yang ia lakukan tadi.


Mario meraih alat yang Inka berikan. “Tuh kan bener.”


“Alhamdulillah.” Mario berjongkok, mensejajarkan dirinya pada perut rata Inka.


“Baik-baik di sini ya, Sayang. Seperti Kak Maher dan Kak Mahira dulu.” Kata Mario dengan mata yang berkaca-kaca. Akhirnya ia akan memiliki anak lagi, rumahnya akan ramai lagi dengan tangisan bayi.


Sesampainya di rumah, dengan hati gembira, Inka memberitahukan kehamilannya pada Indah. Ia juga langsung menelepon Laras dan Andreas untuk memberitahukan kabar ini. Indah pun memberi kabar pada Raka.


Kehamilan Inka, sama seperti saat mengandung Maher dan Mahira. Manja, banyak maunya, dan sangat menggairahkan. Entah memang ini karena hormon ibu hamil, sehingga libidonya agak sedikit naik. Namun, Mario sangat menyukai ini. Belum lagi, tubuh Inka yang semakin berisi dan tambah sekal, membuat Mario lebih rajin untuk menjamahnya.


“Kali ini dia sendiri, disini.” Ucap Mario, setelah keduanya merasakan pelepasan, merengkuh kenikmatan gairah dengan bulir-bulir peluh dan nafas yang masih naik turun.


Mario menstabilkan dirinya dengan memeluk tubuh sang istri yang masih polos. Ia mengelus perut istrinya yang sudah kian membuncit.


Inka mengangguk.


Ya, kali ini Mediana bilang bahwa janin Inka hanya satu kantong, jenis kelaminnya pun sudah terlihat. Ia akan memiliki bayi perempuan lagi.


****


“Maher, jangan lari-lari, sayang!” Inka memperingatkan Maher yang sedang bercanda dengan kelinci kecilnya. Kelinci yang baru saja Mario hadiahkan karena Maher memenangkan lomba robotik.


Maher terus berlari, sengaja membuat kelinci kecil itu mengikutinya, begitupun dengan Mahira, ia mengikuti sang kakak sambil tertawa. Seperti sebelumnya saat hamil, Inka hanya datang ke butik seminggu tiga atau dua hari saja. Selebihnya ia akan mengerjakannya di rumah.


Indah yang suka dengan bunga, tengah berada di taman belakang Mario untuk menata beberapa bunga yang bagus di sana.


“Bi, saya taruh blender portable itu di mana ya?” Tanya Inka pada pelayannya.


Ia ingin meletakkan benda itu di kamarnya, agar ketika ingin menghaluskan buah sendiri, tidak harus beranjak ke dapur.


“Sepertinya, ibu taruh di paling atas sana.” Pelayan Inka menunjuk pada rak kitchen set paling atas.


“Ya udah bi, tolong ambilkan kursi.”


Pelayan itu menurut dan mengambil kursi kecil.


“Biar saya saja yang naik, bu.”


“Biar saya aja, Bi. Sana bibi bantu mama lagi di taman.” Inka langsung menaiki kursi itu.


Tiba-tiba Maher datang sambil berlari ke arah dapur. Kakinya menyenggol kursi yang Inka naiki. Lalu, Inka terkejut dan mencoba menyeimbangkan dirinya. Namun kejadian itu begitu cepat. Kursi yang Inka naiki oleng.


Bruuk.


Inka tersungkur di lantai dengan posisi tengkurap.


“Mama...” Teriak Mahira.


Sementara Maher hanya terdiam bingung, melihat keadaan ibunya dengan darah segar yang sudah mengalir di kakinya.


_________________________________________________


Hai readers, terima kasih atas dukungan kalian yang telah memberikan vote, komen, dan hadiahnya. Tidak pernah menyangka tulisanku bisa masuk sepuluh besar terpopuler. Sungguh, apalah artinya tulisan ini tanpa kalian, aku hanya butiran debu 😜


Istriku canduku part Mario Inka tinggal 1 episode terakhir, besok malam rencananya akan aku up panjaaang beud deh.. hehehehehe


Dan untuk Istriku canduku 2 part David Sari akan muncul hari senin, InshaaAllah..


Sekali lagi, terima kasih guys


Love... Love... Love.. 😘😍