Istriku Canduku

Istriku Canduku
sorry, kali ini tidak ada kata berbagi


Pagi ini, Mario dan keluarga sudah bersiap menuju Jumeirah Beach. Ia tengah menunggu kedatangan Husein yang janji akan menjemputnya. Ia sudah duduk di lobby, sambil menunggu Inka, Sukma, dan bayi kembarnya turun.


“Widih, lu rapih banget, Suk.” Sapa Mario yang melihat Sukma dengan membawa kedua anaknya.


“Cantik kan?” Sahut Inka, yang ikut duduk di samping Mario dengan bangga menunjukkan hasil make up nya pada Sukma.


“Kamu niat banget jodohin mereka berdua.” Bisik Mario pada telinga Inka.


‘Karena sepertinya mereka berdua saling suka.”


“Sok tahu.” Mario mencubit ujung hidung Inka, hingga wajahnya ikut bergoyang.


Inka memegang tangan Mario untuk melepas cubitan di hidungnya itu. “Feeling perempuan itu kuat. Aku bisa ngerasain chemistry di antara mereka.”


“Ck.. Aku iri sama mereka.” Kata Mario lesu.


“Kenapa?”


“Ya, mereka beruntung, karena ada orang seperti kamu, yang dengan senang hati membantu menyatukan mereka.”


“Seandainya, dulu ada orang seperti kamu di antara kita. Mungkin kita tidak akan pernah berpisah hingga dua tahun.”


“Iih, kamu masih aja bahas itu.” Inka memukul pelan lengan Mario, kemudian Mario langsung merengkuh tubuh istrinya untuk masuk dalam peluknya.


“Lagian aku ngga pernah menyesal dengan semua yang terjadi. Takdir kita memang aneh, tapi justru itu menguatkan kasih sayang dan cinta di antara kita sekarang.” Ucap inka dengan menatap lembut kedua bola mata suaminya.


“Iya, benar.” Mario semakin merengkuh tubuh Inka.


“Ekhem.” Suara Husein membuyarkan keasyikan Inka dan Mario.


“Maaf, saya menganggu.” Kata Husein lagi.


“Oh, tidak. Tidak apa.” Inka melepas pelukan Mario, dan merapihkan kembali pakaiannya.


Husein hanya menyunggingkan senyum, dan menanpilkan jejeran giginya. Ia sangat senang melihat keharmonisan partner kerjanya itu.


Satu jam, mereka melakukan perjalanan hingga sampai ke tempat yang di inginkan.


Pantai Jumeirah merupakan pantai yang sangat terkenal di Dubai dan selalu ramai di kunjungi oleh wisatawan. Pantai ini juga mempunyai pasir yang putih dan air laut berwarna biru yang bersih, cocok untuk bersantai sejenak dan bermain bersama keluarga.


“Sudah berapa lama anda menikah?” Tanya Husein, ketika Mario tengah berjalan bersamanya.


“Tahun ini, kami akan anniversary yang ke enam.” Jawab Mario.


“Sudah lumayan lama, tapi masih seperti pengantin baru. Good!” Sahut Husein, menampilkan kedua ibu jarinya ke atas.


Mario tersenyum.


“Dia ngga tau, gue pernah terpisah lama.” Batin Mario.


“Ya, memang seharusnya seperti itu bukan?” Ucap Mario lagi.


“Betul, memang kita sendiri yang harus menciptakan keharmonisan, sehingga hubungan suami istri tetap terus terjaga.” Sambung Husein.


“Setuju.” Mario mengangguk.


Tak lama kemudian, Mario berlari menghampiri Inka yang tengah menggendong kedua anaknya di sisi kiri dan kanan. Sukma tengah asyik bermain di bibir laut bersama kedua anak Husein.


“Sayang, Ini berat. Jangan kamu gendong berbarengan seperti ini!” Mario langsung Meraih Maher, yang bobotnya lebih besar dari Mahira.


“Tidak apa kok, sekali-kali.” Inka menyengir.


“No, Jangan di ulangi!” Kata Mario.


“Iya.” Inka membenturkan bahunya pada bahu Mario, agar suaminya tak marah. Lalu tangan kanan Mario menggandeng bahu Inka dan mencium keningnya.


“Aku takut kamu lelah, dan aku ngga mau kamu sakit.”


Inka mengangguk dan menatap mata suaminya yang tengah menatapnya.


Mario memang selalu seperti ini, ia sangat posessive dan protektif. Tapi Inka menyukai itu, ia mengeratkan pelukan suaminya dengan melingkarkan tagan kirinya pada pinggang Mario, sambil satu tangan keduanya menggendong si kembar dengan pandangan mata yang tertuju di hadapannya, yang menyuguhkan keindahan laut Jumeirah.


Inka kembali menengadahkan kepalanya.


“Aku lebih mencintaimu.” Balas Mario, dengan tatapan yang lembut.


Mungkin ini ungkapan cinta mereka yang ke ratusan kalinya. Namun, mereka tak pernah bosan untuk mengatakan itu. Mereka merasa seperti satu tubuh utuh. Ada kehampaan ketika tak ada salah satunya, ada yang hilang ketika salah satunya pergi. Mungkin ini yang di namakan soulmate.


****


Ini adalah malam terakhir Mario dan keluarga berada di kota ini. Semua barang dan oleh-oleh telah terpacking rapih. Besok siang jadwal kepulangan mereka ke Jakarta.


Tangan Inka meraba tempat tidur di sebelahnya. Ia tak mendapati Mario ada di sana. Mata Inka terbuka, dan mengedarkannya. Ia melihat pintu balkon yang tengah terbuka. Inka bangun dan beranjak dari tempat tidur. Ia memakai jubahnya, lalu mengahmpiri Mario yang tengah berdiri di balkon, sambil menghisap rokok.


“Kamu merokok?” Tanya Inka dengan melingkarkan tangannya pada pinggang Mario dari belakang.


Inka tak pernah sekalipun melihat Mario merokok, ia juga tak pernah melihat Mario mabuk. Memang selama bersama Inka, praktis Mario tak pernah melakukan kebiasaan buruknya. Apalagi alkohol, sudah sejak paska operasi hati, Mario tak lagi sekalipun meminum itu. Hanya saja ketika stress tingkat tinggi, ia sesekali mengebulkan asap rokok di mulutnya.


“Maaf.” Mario langsung mematikan rokok itu.


Kemudian membalikkan tubuhnya. ia menangkup wajah Inka, merapihkan anak rambut yang terbang karena desiran angin malam. Ia mengelus pipi lembut istrinya.


“Kamu cantik, kamu baik, kamu pintar, kamu sexy.” Ucap lembut Mario, sambil terus mengelus pipi Inka.


Inka tersenyum.


“Pasti di luar sana, banyak orang yang bilang kalau aku beruntung mendapatkanmu. Aku yang bas*ard, aku yang sering bermain wanita mendapatkan istri yang tak pernah di sentuh pria manapun. Aku memang beruntung.” Mario menggelengkan kepalanya, tak percaya akan takdir ini.


Entah mengapa Tuhan begitu baik padanya, hingga memberikan kebahagiaan seperti ini.


“Jika ada seseorang yang menggodamu, dan menawarkan kasih sayang melebih aku. Apa kamu akan tergoda?” Tanya Mario lirih.


“Hei, kamu kenapa? Apa ada yang terjadi?” Inka balik bertanya. Ia bingung dengan gurat kecemasan yang terlihat jelas di wajah Mario, walau suaranya begitu tenang.


“Tidak apa. Aku hanya bertanya.” Jawab Mario yang kemudian membawa Inka masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu balkon.


Mereka kembali menempati tempat tidur. Mario membaringkan tubuhnya dan Inka mengikuti, lalu meraih kepala Mario dalam dekapannya. Entah mengapa Inka merasakan apa yang di rasakan Mario saat ini, walau ia tak tahu apa yang terjadi.


“Aku tak akan tergoda oleh pria manapun, sebanyak apapun pria itu memberikan cinta atau harta. Aku akan tetap memilihmu.”


Mario menatap wajah Inka yang tak berjarak.


“Walau aku sudah tak lagi kaya dan banyak uang?”


Inka mengangguk. “Iya.”


“Walau aku sakit dan tidak bisa apa-apa?”


“Iya.” Inka menangguk lagi.


“Tunggu, ini sebenarnya ada apa? Jangan buat aku cemas.” Rengek Inka, yang kemudian menegakkan tubuhnya.


“Tidak apa, sayang. Aku hanya bertanya.” Mario merengkuh kembali tubuh Inka untuk berbaring bersama.


“Terma kasih, terima kasih karena telah mencintaiku. Akan aku balas cintamu dengan lebih dan lebih.” Ucap Mario.


“Peluk aku! aku tidak bisa tidur kalau tidak kamu peluk.” Kata Inka manja, sambil mengeratkan lingkaran tangannya pada perut Mario.


“Benarkah?”


Kepala Inka yang masih berada di dada Mario bergerak untuk mengangguk. Mario tersenyum lebar dan kembali mengecup pucuk kepala istrinya.


#Flashback on


Ketika Inka tengah tertidur pulas. Mario belum benar-benar bisa memejamkan matanya, sesekali ia melihat beberapa laporan di ponselnya. Setelah itu ia pun membuka sosial medianya. Ia tersenyum tatkala melihat hasil jepretan yang ia unggah bersama keluarga kecilnya selama di sini. Ia tertawa dengan beberapa kejadian lucu yang di lakukan Maher atau Mahira. Lalu, Mario men-scrol terus ke bawah, melihat status dari teman-temannya yang lain yang juga mengunggah aktifitas mereka.


Tak lama kemudian, ia berhenti saat membaca postingan yang di tulis David siang ini.


“Entah mengapa wajahmu selalu ada dalam ingatanku, senyummu selalu menyemangati langkahku. Walau aku tahu ini tidak benar, karena kamu sudah ada yang punya. Wanita di lift itu, membuatku bersemangat lagi dalam hidup.” David menulis dalam bahasa Inggris.


Mario termenung, ia berpikir siapa wanita yang David maksud. Apakah wanita itu adalah istrinya? Karena Mario ingat betul, Inka bercerita tentang pertemuannya dengan David di lift kantornya. Lalu tatapan David yang Mario mengerti, di tambah kebiasaan mereka dulu. Mario semakin khawatir.


“Sorry, Vid. Kali ini tidak ada kata berbagi wanita.” Gumam Mario dengan Rahang yang mengeras.


#flashback off