Istriku Canduku

Istriku Canduku
pasangan yang serasi


“Kak, nanti antar aku ke rumah Bianca dulu ya.” Pinta Inka saat rutinitas pagi itu di lakukan. Inka selesai memakaikan dasi suaminya.


“Apapun yang ratu mau, hamba siap melayani.” Ucap Mario dengan tangan di dada sambil membungkukkan tubuhnya.


“Lebay.” Inka mencibir aksi Mario, sambil memukul pelan dadanya,


Bianca dan Dhani memundurkan jadwal pernikahannya. Tepat setelah Inka pulang dari dubai, Bianca mengalami kecelakaan. Ia terjatuh dari tangga portable setinggi dua meter, saat tengah mengecek bahan di gudang butik milik Inka. Ketika terjatuh tangan kanannya menopang bobot tubuhnya hingga tulang pada pergelangan tangan itu geser dan harus menggunakan gips. Hampir empat bulan Bianca istirahat dan melakukan perawatan.


“Sayang, kamu sudah buatkan gaun couple untuk kita, saat di pernikahan Dhani dan Bianca nanti kan?” Tanya Mario, ketika mereka sudah berada di ruang makan.


“Sudah beres.” Inka melingkarkan ibu jari dan telunjuknya membentuk huruf ‘O’ sambil menjentikkan matanya.


Mario menjahili Inka yang tengah membuatkan Maher dan Mahira susu. Seperti kesepakatan sebelumnya, Inka tidak lagi memberikan Maher dan Mahira ASI setelah sampai satu tahun. Tangan Mario meremas bokong Inka saat ia sedang berdiri menempelkan perutnya pada meja marmer kitchen set di depannya.


“Kopi aku mana?” Tanya Mario.


“Ih.. nanya kopi tapi tangannya kemana-mana.” Inka melepas tangan mario yang masih menempel pada bagian belakang tubuhnya.


Mario hanya nyengir,seolah tidak melakukan apapun.


“By the way, Maher dan mahira sudah tidak ASI lagi?” Tanya Mario melihat Inka yang tengah mengaduk dua gelas susu.


“Sesuai permintaanmu Baginda raja. Mulai saat ini, yang ini sudah menjadi milikmu lagi.” Arah mata Inka menuju pada bagian dadanya.


“Hmm.. benarkah?” Maro menghentikan aktifitasnya yang tengah menyeruput kopi yang di berikan Inka tadi, ia menyambut perkataan Inka dengan gembira.


“Lagipula ASI ku memang sudah semakin sedikit, sejak kita berada di Dubai kemarin, aku juga ngga tau kenapa?”


“Iya sudah ngga apa-apa, memang sudah waktunya di balikkan ke pemiliknya.” Ucap Mario dengan senyum.


Inka mencibir. “Itu sih mau kamu.”


Mario tertawa, lalu melangkahkan kakinya lagi menuju Maher dan Mahira yang sudah duduk di meja makan.


“Daah pipi, mimi.” Ucap Maher dan Mahira bersamaan sambil melambaikan tangannya, saat mengantarkan Inka dan Mario hingga depan pintu rumahnya.


“Daah, sayang. Mmuaach.” Inka membalas kecupan di tangannya dari jarak jauh, di ikuti oleh Mario sebelum ia masuk ke dalam mobil.


“Gara-gara Mahira memanggil kita pipi mimi, jadi keterusan sampai sekarang” Kata Inka lirih, saat mereka sudah berada di dalam mobil.


“Tidak apa, terserah mereka mau panggil apa, yang penting mereka nyaman.” Ucap Mario.


“Iya sih.”


“Lagian lucu juga panggilan itu.”


Setelah empat puluh menit di perjalanan, akhirnya Inka dan Mario sampai di rumah Bianca.


“Ini rumahnya, Kak.” Inka menongolkan kepalanya dari jendela, sambil menatap bangunan rumah besar dengan banyak ukiran kayu khas Jepara.


“Iya, walau aku baru ke sini sekali, tapi aku ingat kok.” Inka mengangguk, lalu keduanya memasuiki rumah Bianca.


Ting.. Tong..


Inka menekan bel rumah itu.


Ceklek.


“Miss.” Sapa bianca dengan riang.


Bianca memeluk Inka.


“Bagaimana ke adaaanmu, Bi?” Tanya Inka saat mereka sedang berpelukan.


Bianca mengendurkan pelukannya. “Alhamdulillah baik.”


“Hai, pak Rio.” Sapa Bianca pada Mario sambil membungkukkan separuh tubuhnya.


“Hai.” Jawab Mario dengan senyum di bibirnya.


“Iya, Bu. Ini ada Pak Rio dan Miss Inka.”


“Oalah, ada tamu besar.” Kata Sundari, ibunya Bianca.


“Tapi saya tidak besar kok, Bu.” Jawab gurau Mario.


“Ah, Nak Rio suka bercanda.” Tawa Sundari dan Kedua perempuan di sebelahnya.


“Mengapa tidak bilang kalau mau mampir ke sini, ibu kan bisa buatkan gudeg kesukaan Nak Rio. Kata bianca Nak Inka juga suka gudeg buatan Ibu.”


Inka mengangguk.


“Iya nih, saya kira gaun ini mau di kirim via ojol aja, loh kok malah di natar langsung Miss. Ngerepotin aja.” Ucap Bianca.


“Ngga apa, Bi. Sekalian ingin lihat keadaanmu.” Jawab Inka.


“Alhamdulillah kata dokter, Bianca sudah tidak perlu menggunakan gips lagi. Mudah-mudahan dua minggu lagi acara pernikahan bisa di gelar dan tidak ada halangan.” Sambung Sundari.


“Aamiin.” Ucap Mario dan inka bersamaan.


“Saya harap juga begitu, karena saya juga merasa bersalah atas kecelakaan itu. Bianca celaka di tempat kerja saya.” Ucap Inka.


“Saya juga yang salah Miss, karena saya tidak hati-hati.” Jawab Bianca.


“Yah, ngga ada yang salah, namanya musibah, tidak ada seorangpun yang tau akan terjadi seperti ini. Tidak apa, nak.” Sahut Sundari.


“Masalahnya, sekarang saya bu, yang sering di omeli Dhani. Saya jadi berfikir, ini yang jadi boss nya itu dia apa saya ya” Celetuk Mario, membuat semua wanita yang ada di ruangan itu tertawa.


“Ini gaunnya, Bi. Di coba dulu, masih ada waktu untuk di perbaiki jika ada yang kurang.” Kata Inka sambil memberikan sebuah kotak yang berisi gaun pengantin.


“Wah, terima kasih. Miss.” Jawab Bianca dengan mata berbinar.


Bianca dan ibunya memasuki kamar.


“Kak, aku tinggal ya.” Inka mengikuti Bianca dan Sundari, lalu meninggalkan Mario duduk sendiri di ruang tamu.


“Wah cantik.” Mata Sundari berbinar lebar, ia tak menyangka anak gadisnya akan benar-benar segera menikah.


“Miss, bagus banget hasilnya.” Ucap Bianca saat ia berdiri di depan cermin kamarnya.


“Karena orang yang memakainya juga cantik.” Sahut Inka.


“Ah, Miss. Bisa aja.” Bianca tersipu malu.


“Berart ini fix dan tidak ada yang di rubah ya, Bi?”


“Sudah kok Miss, Ini sudah sangat perfecto.” Jawab Bianca menampilkan jarinya yang membentuk bulatan.


Setelah tiga puluh menit bercengkrama dan bergurau, Mario dan Inka berpamitan.


“Sekali lagi, terima kasih ya, Miss.” Ucap Bianca saat memeluk Inka.


“Terima kasih ya, sayang.” Sundari yang kini memeluk Inka. Kedua bersalaman bergantian dengan Mario.


“Kalian pasangan yang serasi.” Kata Sundari, sebelum Mario dan Inka pergi.


Inka dan Mario tersenyum.


“Ganteng dan cantik, semoga kalian rukun-rukun dan bahagia selalu ya.” Kata Sundari lagi.


“Aamiin..” Jawab Mario dengan lantang, di ikuti Inka dengan suara lembut.


“Kami pamit ya, Bu.” Ucap Inka, dengan tangan yang sudah di gandeng Mario.


“Baik, hati-hati.” Ucap Sundari dan bianca bersamaan, sambil melambaikan tangan.