
Inka menatap dirinya di cermin kamar mandi dengan masih di balut pakaian dalam saja. Ia melihat perutnya yang mulai membuncit, dada yang lebih besar, serta bagian belakangnya yang lebih bulat. Ia membolak balikkan dirinya di depan cermin itu.
Mario tersenyum, berdiri menyender di pintu kamar mandi itu dengan melipat kedua tangannya di perut, sambil terus memperhatikan tingkah istrinya di cermin. Inka selalu terlihat cantik, terlebih saat ini, ia lebih sering berdandan walau tipis. Ia juga lebih sering menggunakan pakaian yang girly dan berwarna cerah.
Mario perlahan mendekati Inka yang sedari tadi tak merasa bahwa ada yang memperhatikannya.
Mario memeluk Inka dari belakang, meraba perut yang buncit itu, sambil terus menelusuri leher jenjang istrinya dengan bibirnya.
"Kenapa, Sayang?" Tanya Mario lembut, dengan menopang dagunya pada bahu Inka. Tangannya pun terus mengelus bahu mulus yang terbuka itu
"Aku gendut ya, Kak?" Inka balik bertanya dengan mengerucutkan bibirnya.
Mario menggeleng. "Aku suka, malah semakin suka."
Inka menatap Mario dari cermin, begitupun sebaliknya.
"Kalau nanti setelah melahirkan, aku gendut, gimana? kamu masih suka?"
Mario tergelak dengan pertanyaan Inka, ia membalikkan tubuhnya. Lalu, mengecup keningnya. Ia mengangkat tangannya untuk menyentuh anak rambut yang menutupi wajah Inka, perlahan ia menyelipkan anak rambut itu ke belakang telinganya.
"Kamu tempatku pulang. Seperti seekor merpati yang mengepakkan sayapnya jauh entah kemana, tapi dia selalu tau akan rumahnya, merpati itu akan selalu tau kemana dia pulang. Aku pun seperti itu, kamu adalah rumahku. Walaupun rumah itu telah berganti dekorasi, kamu tetap rumahku, rumah yang nyaman untukku dan untuk anak-anakku nanti."
Inka terharu, airmatanya sedikit menggenang. Ia terus menatap wajah tampan suaminya. Mata mereka beradu. Lalu, Mario menempelkan dahinya pada Inka.
"Aku akan selalu berusaha untuk menjadi suami dan ayah yang baik."
"Aku percaya." Jawab Inka tersenyum. Suaranya terdengar merdu, membuat libido Mario naik.
Inka selalu menggigit bibir bawahnya, setiap kali mendapat tatapan mangsa dari Mario, membuatnya tak bisa menahan diri lebih lama.
Mario tersenyum, dan menggendong istrinya yang sudah semakin berat, lalu membawanya ke tempat peraduan mereka. Ia membaringkan Inka di sana, saling mengecap, dan memberi kenikmatan. Wanita hamil memang mempunyai sensasi tersendiri saat berhubungan. Hal itu pun di rasakan oleh Inka, selama hamil, ia lebih agresif. Namun, justru itu membuat Mario senang. Ingin rasanya ia melakukan sehari 3 sampai 5 kali. Tapi itu tak mungkin, karena sebelumnya Mario pernah melakukan hal itu, imbasnya Inka mengalami keram pada perutnya, dan itu membuat Mario merasa sangat bersalah.
Satu jam mereka melakukan penyatuan, di iringi suara merdu Inka yang terus menyebut nama Mario, dan Mario yang tak henti mengatakan cinta. Pelepasanpun terjadi, keduanya tumbang. Mario menarik Inka untuk di dekap dalam pelukannya.
Inka mendengakkan kepalanya. "Kamu sudah tidur?"
Mario mengusap rambut Inka dengan lembut. "Kamu belum tidur?" Ia balik betanya dengan mata yang terpejam.
Inka menggeleng, tangannya masih menyentuh bagian dada Mario yang terbuka, ia menyentuh luka jahitan panjang yang tercetak jelas persis di hadapan wajahnya.
"Apa di sini masih suka terasa sakit?"
Mario menggeleng. "Tidak sama sekali."
"Apa kabar, Sasha? Biar bagaimanapun, aku berterima kasih padanya, karena ibunya telah menyelamatkanmu."
"Bryan dan Sasha sekarang tinggal di Singapura. menurut kabar dari Bryan, Sasha sekarang juga sedang hamil."
"Oh, ya?" Inka menenggakan kembali kepalanya, dan mensejajarkan pada Mario.
"Waktu itu baru 8 minggu, mungkin sekarang lebih."
"Wah, pasti kak Bryan senang."
Mario mengangguk. "Dia sama gilanya denganku, malah lebih parah. Tapi sekarang dia juga sudah tau tempatnya pulang."
Dret.. Dret.. Dret..
Suara ponsel Inka berdering.
Inka meraih ponselnya yang berada di nakas. Ia membangunkan sedikit tubuhnya, dan menatap nomor di layar itu. Lagi-lagi nomor tak di kenal yang sering memberinya pesan whatsapp.
"Siapa?" Tanya Mario menghampiri Inka yang membelakanginya.
"Ngga tau siapa? Akhir-akhir ini aku sering mendapatkan pesan dan telepon dari nomor ini." Inka memperlihatkan ponselnya pada Mario.
Mario membuka isi pesan itu. Terlihat di sana, Inka tak membalas semua pesan yang datang.
"Aku akan mengeceknya." Suaŕa dingin Mario, sambil terus memegang ponsel Inka, membuka setiap hal yang ada di dalam ponsel itu.
Di tempat lain, pria itu sedang memandangi ponselnya. Ia kesal karena pesan dan teleponnya tak pernah di jawab Inka. Sudah hampir dua minggu ia mencoba menjalin komunikasi dengan Inka, tapi nihil.
"Kakakku tidak akan mau berurusan denganmu lagi. Dia sudah bahagia sekarang, karena suaminya sangat mencintainya. Hah.. Kakakku memang beruntung." Ucap wanita itu tiba-tiba dari belakang.
Wanita itu adalah Adhis.
Vino murka mendengar ucapan Adhis. Ia membalikkan tubuhnya dan mendorong Adhis ke dinding, dan mencekik lehernya.
"Diam, aku bilang diam. Mulutmu tidak pernah enak di dengar!"
Vino menampar pipi Adhis, Lalu menjambak dan menariknya.
"Lepas Vino, kamu sudah sering menyakitiku. Lepas!" Adhis berteriak sambil memegang rambutnya.
Mereka tengah berada di kamarnya. Suara gaduh di tengah malam, memang sering terjadi, karena mereka memang hampir setiap.hari bertengkar. Pembantu di rumah itu, sudah terbiasa mendengar teriakan Vino dan tangisan Adhis. Jika sedang seperti ini, pembantu di rumah itu biasanya akan membawa Deandra main keluar, taman atau menenangkannya untuk tidur di kamar yang jauh dari kedua orangtuanya. Setelah menikah dengan Vino, Adhis tak lagi seperti dulu, kemanjaannya hilang, kebiasaan berfoya-foya lenyap, keberanian pun tak ada. Yang ada di pikirannya adalh Deandra, putra semata wayangnya. Ia bertahan hanya untuk putranya, yang harus lengkap dengan kasih sayang kedua orangtua, di tambah papanya, yang telah merelakan 50 persen usahanya jatuh di tangan Vino, membuat Adhis tak bisa dengan mudah lepas dari Vino.
Vino menjatuhkan Adhis di temoat tidurnya. Ia ingin pelampiasan. Tubuh Adhis menjadi pelampiasan nafsu dan amarah suaminya. Seharusnya penyatuan suami istri itu indah dan nikmat, berubah menjadi hal yang buruk dan menakutkan untuk Adhis.
Adhis menangis, setelah Vino mencapai pelepasannya dan pergi meninggalkannya di kamar sendirian.
"Maafkan aku, Kak. Ini buah atas ulah jahatku padamu dulu." Batin Adhis.
Ia terus terisak. Andai waktu bisa di putar, ia tak akan mengambil Vino dari Inka, karena kepunyaan orang yang terlihat bagus, belum tentu tetap bagus ketika berada dalam genggaman kita.
......................................................................................
Maaf ya guys, mataku udah ngga kuat pengen merem, dari tadi nguap mulu. Besok di lanjut lagi ya. InsyaaAllah.. Makasih 😘😘