
Adhis tengah menatap gedung tinggi itu. Ia memberanikan diri untuk menemui Mario, walau ia masih trauma dengan penolakan Mario pada lima tahun silam. Tapi kali ini niatnya berbeda. Ia khawatir dengan nasib suaminya, jika Mario mengetahui bahwa suaminya telah mengganggu istri kesayangannya. Ia takut Mario tak mengampuni suaminya, mengingat Mario bukan tipe yang mudah memaafkan, apalagi ini menyangkut Inka. Mario yang mempunyai kekuasaan, pastinya akan dengan mudah melakukan apapun.
Tok.. Tok.. Tok..
“Pak, ada seseorang ingin bertemu.” Ujar Sherly, setelah membuka pintu ruangan Mario.
“Siapa?” Tanya Mario heran, pasalnya hari ini ia tak ada janji dengan siapapun.
“Ibu Adhisty.’ Jawab sekertaris Mario. Sontak membuatnya mengeryitkan dahi.
“Suruh dia masuk!”
“Baik, pak.”
Beberapa menit kemudian, Adhis memasuki ruangan Mario.
“Silahkan duduk! Ada yang bisa aku bantu?” Tanya Mario dengan suara dingin. Hari ini ia sangat pusing, mengingat pekerjaan yang masih menumpuk, di tambah nomor asing yang sering menelepon dan mengirim pesan pada Inka belum terdeteksi pelakunya, karena orang itu menggunakan nama dan kartu keluarga yang tidak Mario kenal ketika registrasi.
Adhis menarik kursi yang berada tepat di hadapan Mario.
“Maaf, sebelumnya. Karena sudah menganggu waktumu.” Ucap Adhis terbata-bata, karena Mario menatapnya dengan tajam.
“Saya kesini.. ingin menyampaikan sesuatu. Tetapi sebelumnya, saya mohon untuk tidak marah.” Ucap Adhis lagi.
“Oke, saya dengarkan.” Mario menegakkan tubuhnya yang masih duduk di kursi kebesarannya.
“Hmm... Saya minta maaf atas nama Vino, karena telah mengganggu kak Inka akhir-akhir ini. Saya tau, dia yang sering menelepon dan mengirim pesan pada istrimu. Saya akan mengatasinya, saya akan terus melarangnya untuk tidak mengganggu kalian.” Adhis berkata dengan terus menundukkan kepalanya, seolah ia tak mempunyai harga diri di hadapan Mario.
Seperti gayung bersambut, Mario menerima maaf Adhis, kebetulan sekali ia belum menemukan si penelepon asing itu.
Mario memegangi dagu yang di tumbuhi jenggot tipis. “Hmm.. Baiklah, jika suamimu masih tetap tidak bisa di atur, maka jangan salahkan jika aku akan melakukan perhitungan langsung padanya.”
Adhis mengangguk. Ancaman Mario sangat mengerikan, terlihat dari caranya berkata tadi. Suaranya dingin dan penuh dengan isyarat.
“Baiklah, kalau begitu saya permisi.’ Mario mengangguk dan tetap duduk di tempatnya. Ia tak mengantarkan Adhis hingga keluar ruangan.
****
Sudah tiga hari berlalu, dan selama itu pula, nomor asing itu masih menelepon dan memberi pesan pada Inka.
Mario berada di ruang kerja Inka, kali ini ia menjemput Inka lebih awal. Ia duduk di hadapan Inka. Mereka berhadapan, tapi terhalang oleh meja kerja Inka yang besar. Mario melipat kakinya dan mengetuk-ngetuk meja kerja Inka.
Inka yang masih mengerjakan beberapa designnya, merasa terganggu. Ia menoleh ke arah Mario.
‘Kamu bosan ya? Sebentar lagi selesai” Ucap Inka, lalu Mario langsung menggeleng.
“Nomor asing itu masih mengirimimu pesan atau menelepon?” Inka mengangguk.
Mario langsung meraih ponsel Inka yang tergeletak tak jauh dari jangkauannya. Ia membuka ponsel itu dan membuka aplikasi whatsapp, terdapat banyak pesan yang tak Inka buka dari nomor itu.
“Inka, hingga saat ini, aku masih mencintaimu.”
“Ayo, kita bertemu!”
“Aku sangat merindukanmu.”
“Sore ini, aku akan menjemputmu.”
“Jawab, In. Aku selalu menunggu jawabanmu.”
“Shit.” Mario melempar ponsel Inka sembarang.
Inka langsung menangkap ponselnya. “Ih, Kak. Kalau rusak gimana?’
“Beli lagi, sekalian beli nomor baru.” Jawab Mario ketus.
‘Loh, kok kamu jadi marah.” Rengek Inka.
“Biarin aja sih, dia mau ngirim pesan atau telepon, suka-suka dia, yang penting aku ngga membalasnya. Cuekin aja!” Kata Inka lagi.
“Tapi, aku ngga bisa seperti itu. Sayang. Aku ngga suka ada orang yang mengusik kebahagiaan kita.” Mario masih kesal, karena ia tahu siapa pemilik nomor itu.
Inka bangun dari kursinya dan menghampiri Mario. Ia duduk di pinggir kursi, lalu memeluk kepala Mario.
“Udah sih, jangan marah-marah mulu, jelek tau!” Inka mencibir, lalu tersenyum.
Mario langsung ******* bibir itu. Inka dengan senang hati membalas pangutannya, dari yang lembut hingga menuntut. Inka melepaskan pangutan itu tiba-tiba, membuat Mario kesal dan menarik tengkuknya. Padahal, Inka melakukan itu hanya ingin bercanda saja, tapi lagi-lagi ‘sultan’ tak bisa di lawan.
****
Mario berdiri memasuki ruangan Vino dengan paksa.
Brak..
Pintu ruang kerja Vino terbuka lebar, dan membuat Vino terkejut.
“Maaf pak, Bapak ini maksa untuk masuk.” Suara pria yang merupakan pegawai toko Vino, membungkukkan badannya kearah Vino.
Vino berdiri dan menghampiri Mario.
Bugh..
Tiba-tiba Mario memukul tepat di wajah Vino, membuat tubuh Vino terhuyung. Untung pegawai lelaki itu langsung menahan tubuh Vino yang akan tersungkur ke lantai.
“Lo inget sekali lagi. Jangan ganggu Inka! Jangan coba-coba lo telepon dan mengirimkan dia pesan! Gue udah berbaik hati membiarkan kelakuan lo, karena istri lo memohon dan minta maaf. Tapi kalau lo masih belum bisa di atur, gue akan bertindak.”
Setelah selesai berbicara, Mario langsung meninggalkan Vino yang masih memegangi bibirnya.
“Satu lagi, lo tetap berdiri di posisi lo, gue juga akan tetap berdiri di posisi gue. Maka semua akan berjalan dengan baik.” Kata Mario lagi, dengan suara dingin, wajah garang dan masih berdiri di ambang pintu, sebelum akhirnya ia benar-benar menghilang dari pandangan Vino.
Vino pun kesal dengan perlakuan Mario. Ini kali kedua ia mnedapatkan pukulan dari Mario. Ia teringat lagi dengan kata-kata Mario tadi. Lalu, ia bergegas pergi untuk menemui istrinya. Namun, tertahan dengan telepon yang berdering, dan meminta Vino untuk datang ke toko di daerah selatan, karena banyak barang di toko itu yang mengalami keterlambatan pendistribusian.
Mario sudah tiba di kantornya. Setelah mendudukkan diri, ia mengatur nafasnya. Lalu memulai mengambil kembali berkas yang berada di hadapannya.
Tring..
Bunyi pesan masuk di ponsel Mario. Ia melihat notifikasi, ternyata itu pesan dari istrinya.
“Sayang. Aku mampir ke rumah papa, nanti sore. Kalau jemput langsung ke rumah papa aja ya. Luv U.”
Mario langsung membalas. “Di antar siapa ke rumah papa?’
Inka menjawab. “Bareng Bianca. Sayang.” Inka menambah emot senyum dan kiss.
“Baiklah. Hati-hati, Sayang.”