Istriku Canduku

Istriku Canduku
semoga kamu selalu baik-baik saja


Sasha menjalani hidupnya sendiri. Ia menata karirnya sendiri, tanpa bantuan dari Mario. Pernah beberapa kali, ia ingin menemui Mario di kantornya, hanya untuk melihat keadaan Mario saja. Namun di sana sudah terlihat Andreas, sehingga membuat Sasha enggan menghampiri Mario. Sasha tahu kondisi Mario sejak di tinggal Inka. Ingin rasanya ia menolong mantan kekasih yang sudah ia anggap sebagai kakaknya itu. Dulu, sewaktu ia terpuruk, Mario lah yang selalu menolongnya. Kini ia ingin membalas itu, tapi di samping Mario selalu ada Andreas dan Laras, sehingga sulit untuk Sasha mendekatinya. Ia hanya bisa berdoa agar Mario selalu baik-baik saja.


Waktu berjalan dengan cepat. Satu tahun sudah Mario menjalani hidup tanpa Inka di sisinya. Sungguh ia sangat merindukan tubuh itu, bibir itu, dan suara itu. Ia hanya bisa memeluk pakaian Inka setiap malam. Dengan cara itu, ia dapat memejamkan matanya.


Di belanda.


“Mommy..” ucap gadis kecil kepada Inka yang tengah tertidur.


“Mommy, wake up! Ayo bangun mommy, ini sudah siang.” Ucap Angel sambil menggoyangkan tubuh Inka.


“Papi sudah menunggu di bawah. Kita kan mau jalan-jalan.” Ucap Angel lagi.


Sudah enam bulan Angel menetap di belanda, persis setelah mengetahui bahwa Inka juga sekarang menetap di sana. Awalnya Angel hanya ingin berlibur di sini. Namun, setelah bertemu Inka. Ia tak mau lagi pulang ke jakarta. Alhasil, Pras pun mengikuti keinginan sang putri. Sudah hampir 3 bulan, Ia harus bekerja jarak jauh, dan berencana untuk membuka travel di negara ini, bersama Harris, juga sokongan dana dari Karel.


Inka pun sudah terlanjur ke pincut dengan anak ini. Di tambah perhatian yang Pras berikan, membuat Inka benar-benar sedikit melupakan Mario.


Seperti saat ini, Pras dan Angel sudah menjemput Inka untuk berjalan-jalan keluar, menikmati kota Amsterdam dengan cuaca yang sedang berawan.


“Sini, aku bantu potongkan.” Ucap Pras tersenyum sambil meraih piring yang ada di hadapan Inka. Setelah ia selesai memotong daging steak milik Angel.


Pras memotong daging steak itu menjadi kecil-kecil. Inka tersenyum, mengingat Mario pun pernah melakukan hal sama padanya ketika mereka di Paris.


“Kenapa?” Tanya Pras yang melihat Inka tengah tersenyum.


Inka menggeleng dan tersenyum lagi. “Ngga apa-apa.”


Inka, Pras, dan Angel menikmati cuaca cerah dengan mengunjungi ke beberapa wisata di sana. Tempat terakhir yang merka kunjungi hari ini adalah VondelPark. Tempat wisata di Amsterdam berupa taman kota ini adalah yang terbesar di Amsterdam. Taman ini terawat dengan baik, terdapat hamparan bunga yang indah, dan pohon-pohon besar. Di sana juga ada teater terbuka, enam area bermain anak, dan kolam besar. Terlihat Angel sangat bahagia, menikmati permainan yang ada.


Inka dn Pras tengah duduk di hamparan rumput, menunggu Angel puas bermain.


“In, Boleh aku mengatakan sesuatu?” Tanya Pras dengan tatapan serius.


Inka pun mengangguk.


“Ekhem.. Entah aku harus bicara daari mana, tapi sepertinya ini saat yang tepat.” Inka menatap intens mata Pras, membuat jantung Pras berdetak hebat.


“Aku menyukaimu...” Kata-kata Pras terpotong karena melihat Inka yang sudah ingin berkata juga.


“Tunggu In, biarkan aku berkata sampai selesai. Aku menyukaimu sejak kamu masih kuliah dan sering menginap di rumahku pada waktu itu. Namun, aku takut untuk mengungkapkannya. Aku tidak meminta balasan cinta darimu. Hanya saja melihat Angel yang begitu menyukaimu juga, membuat aku tergerak untuk berkata jujur padamu. Aku tahu ini terlalu cepat.” Pras menunduk.


Inka pun terdiam. Ia bingung harus menjawab apa, karena jujur ia masih belum bisa membuka hatinya untuk siapapun. Mungkin karena masih ada cinta di hatinya untuk Mario.


Melihat ekspresi Inka yang hanya diam dengan pandangan lurus kedepan sambil menikmati indahnya Taman VondelPark, membuat Pras yakin bahwa Inka tidak menerima cintanya.


“Tidak perlu di jawab, In. Aku hanya ingin mengungkapkannya saja. Semoga hal ini tidak mengurangi kebersamaan kita nantinya.” Ucap lirih Pras.


Inka tersenyum. “Tidak, Mas. Hal ini tidak akan mengurangi kebersamaan kita nantinya. Hanya saja memang saat ini, aku tidak memikirkan itu. Aku masih ingin menikmati sendiriku. Mas, tidak keberatan?”


Pras tersenyum dan mengangguk. “Sama sekali tidak.”


****


Di Jakarta, Mario masih sibuk dengan pekerjaannya. Ia sudah mulai fokus untuk bekerja. Andreas pun hanya memantaunya sesekali. Justru saat ini pekerjaan adalah prioritasnya, sambil terus mencari Inka, Mario menghilangkan kehampaannya dengan kerja dan kerja. Ia menjadi orang yang gila kerja, dan mudah marah.


Saat ini, Mario tengah berada di Hotel bintang lima Jakarta. Ia bersama Dhani tengah menemui kliennya di sini. Ia berdiri di eskalator, persis di depan Dhani. Tiba-tiba kepalanya pusing dan pandangannya buram. Seketika tubuhnya langsung ambruk,


Bruk....


Mario terjatuh di eskalator yang sedang turun. Tubuh Mario terguling ke bawah dan jatuh ke lantai. Dhani merespon cepat, ia berlari menghampiri bosnya yang terkapar. Dhani langsung menelpon ambulans dan membawa Mario ke rumah sakit miliknya.


Andreas dan Laras panik, setelah mendapat berita dari Dhani tentang putranya. Mereka pun bergegas ke rumah sakit.


“Bagaimana dok?” Tanya Andreas, Setelah Mario di periksa.


“Bisa kita bicara di ruangan saya.” Pinta si dokter.


Kemudian, Andreas dan Laras mengikuti langkah sang dokter. Mereka pun ikut duduk berhadapan dengan dokter yang sudah duduk lebih dulu di kursinya.


“Mario... Apa masih mengkonsumsi alkohol berlebihan?” Tanya pria paruh baya yang mengenakan Jas pputi dan stetoskop di lehernya.


“Iya, setahun terakhir ini, dia mengkonsumsinya lagi. Kami sering melarangnya.” Jawab Andreas lesu.


“Sepertinya, hal itu yang membuat organ hatinya semakin buruk. Mennurut hasil lab kami, livernya sudah benar-benar rusak. Dan ini sangat mengancam hidup Mario. Mohon maaf dengan berat hati, saya mengatakan ini.”


Seketika, Laras terisak. Ia tak mau kehilangan lagi anaknya. Cukup ia pernah kehilangan putrinya, kini ia tak mau kehilangan putranya lagi.


“Lakukan apapun dok! Saya mohon.” Ucap Andreas sambil memeluk istrinya dari samping.


“Hanya satu pak Andreas, segeralah anda cari donor liver untuk Mario, kami akan periksa kecocokannya. Selanjutnya, kita akan ambil tindakan untuk pencangkokan atau transplantasi liver.”


Andreas mengangguk. “Saya akan lakukan dok.”


Lalu, keduanya duduk lemas di sebuah ruang tunggu sambil menatap putranya yang terbaring tak berdaya. Tubuhnya kurus. Otot-otot yang menonjol pada lengannya sudah tak berbentuk lagi. Tak henti-hentinya Laras menangis.


****


Inka dan Mario berlari di taman menara Eifel.


“Yeah.. Aku sampai duluan,” kata Mario ketika ia tepat sudah ada di bawah menara Eifel.


Mario dan Inka sedang lomba lari, dari 100 meter sebelum tiang menara itu.


“Hah..” Inka baru berhenti setelah beberapa menit Mario yang lebih dulu berhenti di sana.


‘Kamu kalah.” Mario tertawa.


“Kaki kamu panjang, ya jelas aja aku kalah.” Ucap Inka dengan bibir yang cemberut. Membuat Mario tergelak.


Mario mendekati Inka dan berkata di telinganya. “Karena kamu kalah, jadi kamu harus menuruti semua keinginanku malam ini.”


Inka tersenyum. “Aku tahu permintaanmu apa.”


“Apa?’ Mario tersenyum licik.


“Aku akan pakai lingeri nanti.” Senyum inka menggoda, lalu bibir itu langsung mendapat serangan. Mario mel*matnya dengan durasi yang lama. Tiba-tiba Mario menyudahi pangutan itu, dan berlari menaiki menara Eifel.


“Eifel, I’m in love...” Teriak Mario ketika sudah sampai beberapa meter di atas kaki menara itu.


Inka panik melihat aksi Mario. “Kak, turun, itu tinggi sekali.” Teriak Inka.


Mario sudah ada di atas, sekitar 12 meter dari tempat Inka berdiri. Ia kembali berteriak. “Aku mencintaimu Inka.. Aku sangat mencintaimu... Maafkan aku.....”


“Kak, turun!” Mario hanya menunduk, melihat ke arah Inka yang jauh di bawahnya.


“Jawab dulu, In!” teriak amrio.


“Iya.. Aku juga mencintaimu Mario Jhonson.” Inka tersenyum sambil menengadahkan kepalanya.


Mario pun turun. Namun ketika turun, kakinya terpeleset.


Bruk...


Mario terjatuh persis di hadapan Inka dengan kepala yang penuh lumuran darah.


“Kaaaaaak.... Marioooo.’ Teriak Inka dan langsung membangunkan tidurnya


Kucuran keringat membasahi dahinya. Ia bermimpi buruk.


“Kak Rio, Apa kabarmu? Semoga kamu selalu baik-baik saja.” Inka berkata sendiri, sambil mengatur nafasnya yang tidak teratur, jantungnya berdetak sangat kencang, seolah mimpi itu nyata.


Ia masih belum bisa memejamkan matanya. Mimpi itu masih terasa dalam ingatannya.


"Aku masih mencintaimu kak, rasa itu belum juga hilang hingga saat ini." Gumam Inka.