Istriku Canduku

Istriku Canduku
aku belum siap


Mario langsung meluncur ke tempat yang di arahkan Sasha dan Brian. Memang, ketika sudah waktunya, semua akan berjalan dengan sendirinya.


Mario menatap dari jauh wanita yang ia rindukan itu. Terlihat dari kejauhan, Inka tengah tersenyum pada penjual bunga yang berjenis kelamin perempuan. Jika penjual bunganya itu berjenis laki-laki, mungkin Mario akan langsung menghampiri dan segera meninjunya.


Inka, selalu membeli bunga di toko ini setiap minggu sore. Indah sangat menyukai mawar putih, Inka selalu membeli untuk sang ibu.


Inka berjalan kaki menelusuri padatnya kota di tengah cuaca cerah. Ia selalu menoleh ke belakang saat berjalan. Ia sadar, seperti ada orang yang membuntutinya.


Keesokan hari nya pun sama. Mario membuntuti Inka yang tengah berangkat menuju tempat kerjanya. Tempat kerja yang sama dengan Bella, karena memang Bella yang memasukkan Inka untuk kerja di butik ini.


Inka berangkat kerja menggunakan trem, ia menaiki trem lewat pintu depan, sementara Mario menaikinya lewat pintu belakang. Mario terus menatap wanita yang tengah berdiri sambil tangannya memegang tiang yang berada di sana. Inka menyadari bahwa ada orang yang tengah menatapnya dari samping. Ia mulai gelisah dan sesekali menatap ke arah Mario. Namun, Mario menunduk dan memakai topi yang menutupi wajahnya. Inka masih di ikuti hingga ia sampai di kantornya.


"In, lo kenapa ngos-ngosan begini." Sapa Bella yang melihat Inka tengah memegang pintu masuk butik itu.


Nafasnya turun naik, karena ia berjalan dengan setengah berlari.


"Aku di ikuti orang, Bel." ucap Inka dengan nafas yang masih terengah-engah.


Bella membawakan Inka segelas air mineral.


"Ya udah tenangin diri dulu, tarik nafas." Inka mengikuti arahan sahabatnya itu.


"Buang!" Inka pun membuang kasar nafas yang tadi di hirupnya banyak.


"Sekarang, baru cerita."


"Dari kemarin, di toko bunga, aku mulai ngerasa ada yang ngikutin, Bel."


"Tahu orangnya?" Tanya Bella.


Inka mengeleng. "Ya, kalau aku tahu orangnya, aku ga mungkin sepanik ini, Bel."


"Ya udah, nanti bilang aja sama Harris atau om Pras. Mereka akan jemput kita pulang kerja nanti." Kata Bella menenangkan Inka.


Inka pun mengangguk.


Sesungguhnya, Mario hanya ingin melihat aktifitas yang di kerjakan istrinya di sini. Dengan siapa Inka tinggal, bekerja di mana dan yang lebih ia ingin tahu adalah siapa orang yang membawanya hingga ia sampai ke negeri kincir angin ini.


Sore harinya Inka di jemput oleh Pras dan putrinya. Angel memang selalu mengekor, ketika menyebut nama Inka, ia pasti akan merengek untuk ikut menemui 'mommy' nya itu. Harris, Pras, dan Angel tengah menunggu kedatangan Inka dan Bella sambil menikmati secangkir capucino latte di cafe yang terletak di seberang butik tempat Inka bekerja.


Harris, Pras, dan Angel memilih duduk di tempat terbuka. Di tenpat yang agak jauh dari mereka duduki, tengah ada Mario yang ikut duduk di sana.


"Mommy..." Teriak Angel. Inka pun langsung membentangkan tangannya untuk memeluk anak kecil itu.


Rahang Mario langsung meneras melihatnya. Terlebih ia ingat betul anak kecil yang bersama Inka saat ini. Anak kecil yang sama, ketika Mario pernah melakukan video call sewaktu Inka berada di Paris.


"Oh, mereka yang membantumu lari dariku." Gumam Mario.


Kemudian ia melihat adegan, di mana Pras tengah merangkul Inka dengan mesra, sambil terus tertawa bersama Harris dan Bella. Memang mereka lah penghibur Inka selama ini. Mereka lah yang membuat Inka lupa akan sakit hatinya terhadap Mario.


"Kalau kita menikah, kamu mau punya anak berapa sayang?" Tanya Pras pada Inka.


Wajah Inka bersemu merah, dan memukul perut Pras dengan sikunya yang kebetulan tepat berada di perut sixpect Pras.


"Apa sih, mas." Kata Inka menggantung.


Mario yang mendengar dengan jelas percakapan orang-orang yang menyebalkan menurutnya itu, wajahnya sudah memerah. Jika di ibaratkan kartun Tom and Jerry, Mario sudah seperti Jerry yang mengeluarkan asap dari telinganya.


Mario meneguk minuman yang ia pesan, dan menggengamnya erat, hingga gelas itu pecah di tangannya


Prank...


Hampir semua pengunjung menatap Mario, pelayan pun segera menghampiri Mario yang tengah terluka.


"Sorry..." Mario hanya mengatakan hal itu pada pelayan, dan segera pergi meninggalkan cafe itu dengan meninggalkan beberapa lembar ratusan gulden.


Inka, Pras, Harris, dan Bella pun ikut menengok ke arah yang sedang gaduh itu. Namun, wajah Mario tak nampak pada mereka. Sehingga mereka pun kembali berbincang.


****


Sesampainya di hotel, Mario berdiri di balkon kamarnya dalam waktu yang lama. Ia tengah memikirkan strategi untuk bisa merebut kembali Inka dalam pelukannya.


Malam ini, Inka lembur, ia mngerjakan beberapa design yang deadline. Ia sudah memberitahu Pras untuk datang terlambat saat makan malam mereka. Kebetulan hari ini hanya Inka yang lembur, sementara Bella tidak. Bella sudah sejak sore pulang bersama Harris.


Inka melangkahkan kakinya menuju cafe kemarin. cafe yang terletak di seberang kantornya, karena cafe inilah tempat Pras atau Harris menunggu untuk menjemput Inka dan Bella.


Langkah kaki Inka mulai memelan, setelah melihat sosok pria yang tengah berbincang dengan Pras.


Wajah Inka terlihat pucat dan detak jantungnya berdetak sangat kencang. Nafasnya berhembus cepat, ingin rasanya ia lari. Namun, Pras sudah lebih dulu menangkap tatapan ke arah Inka yang tengah berjalan menghampirinya.


"Sayang, kenalkan ini Mr. Jhonson, kami tengah berbincang tentang bisnis penginapan yang Mr. Jhonson miliki di berbagai negara."


Rahang Mario mengeras mendengar Pras yang memanggil istrinya dengan sebutan 'sayang' tapi sekuat tenaga ia menahan kekesalannya. Kemudian, Mario menoleh ke arah Inka dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Namun, Inka tidak menyambut uluran tangan itu.


"Mas, ayo kita pulang sekarang! aku lelah." ucap Inka tanpa menoleh ke arah Mario.


"Mas?" Batin Mario. Ingin sekali ia mengobrak abrik meja di hadapannya. Namun, ia tahan. Kali ini ia harus mengendalikan emosinya. Seperti Inka yang memainkan perannya dengan sangat cantik, hingga ia menghilang dan memporak-porandakan hatinya hingga saat ini.


"Tapi, sayang. Aku sedang berbincang dengan Mr. Jhonson, ia menawarkan ķerjasama penginapan dengan travelku." ujar Pras.


"Aku lelah, mas. Aku mau pulang sekarang." ucap Inka lagi dengan wajah yang tak bersahabat.


"Baiklah." Pras menuruti keinginan Inka. Tak biasa Inka bersikap sekeras ini rerhadap Pras.


"Mohon maaf Mr. Jhonson, lain waktu saya akan menghubungimu dan berbincang banyak tentang rencana kita." Pras mengulurkan tangannya pada Mario.


Mario pun mengangguk dan menerima uluran tangan Pras. Lalu, mengedipkan matanya pada Inka, di saat mereka berpapasan dan saling memandang.


Namun, Inka langsung memalingkan wajahnya, ia memandang ke sembarang arah. Kemudian, Inka dan Pras berlalu dari hadapan Mario.


"Cepat atau lambat, kamu akan kembali lagi padaku. Aku masih lihat tatapan matamu yang juga merindukanku. Kucing liar." Mario berkata pada dirinya sendiri, setelah tak lagi melihat Inka di pandangan matanya.


Tiga hari, Inka di buat gelisah. Ia terus memikirkan Mario yang malam itu bersama Pras.


"Mengapa secepat itu ia datang kesini, apa mungkin Sasha yang memberi tahu keberadaanku? Apa Mario juga tahu tempat tinggalku?" Inka membuka jendelanya. Ia mengedari pandangannya, tapi tak melihat ada sosok Mario di luar rumahnya. Ia juga baru menyadari beberapa hari sebelumnya, ia merasa di ikuti. Ternyata Mario pelakunya.


"Ah, Sial. Aku masih belum bisa bertemu denganmu, Rio. Aku belum siap." Gumam Inka sambil mengacak-acak rambutnya.