
Mario keluar kamar mandi dengan rambut yang basah dan handuk putih yang melingkar di pinggulnya.
Inka yang tengah duduk dengan kaki di angkat melipat di sofa, hanya melirik suaminya yang keluar dari kamar mandi dan memakai boxernya di sana.
Mario hanya tersenyum melihat istrinya yang memang seperti itu.
"Sayang. Keringkan rambutku!" Mario menyerahkan handuk kecil pada Inka.
"Duduk sini!" Inka memerintahkan Mario untuk duduk di lantai yang di lapisi karpet permadani tebal dengan ukuran sedang.
Inka yang tetap duduk di sofa, mulai menggoda Mario. Ia meletakkan kedua kakinya pada bahu Mario yang sedang berada di bawahnya.
Mario terkejut, lalu menoleh ke atas dengn senyum menyeringai. "Kamu yang mulai, siap-siap ya."
"Aku kan mau mau mengeringkan rambutmu." Inka mengusap dan memijat pelan kepala Mario. Kepala Mario kembali lurus. Inka dengan telaten memijatnya seperti sedang di creambath.
"Hmm.. kamu memang multi talent."
Inka tersenyum mendengar penuturan suaminya.
Tak lama kemudian, Mario memegang pergelangan Inka dan membalikkan tubuhnya. Ia mulai ******* bibir ranum Inka, menggigit di leher dan pundaknya. Tangan Mario pun sudah bergerilya ke bagian intinya, membuat Inka melenguh dan mengeluarkan desahannya. Ia pun rindu sentuhan ini.
"Kak.." Inka menggingit bibir bawahnya, karena hentakan tangan Mario yang sangat cepat di bagian intinya itu.
Mario tersenyum melihat wajah sayu Inka. Wajah yang membuatnya bergairah setengah mati. Ia kembali mengecap bibir itu dengan rakus, terus menuntut dan tidak ada kata lembut.
Tring.. Tring.. Tring..
Ponsel Inka yang sedang berada di atas meja rias berdering. Sekali, dua kali, mereka.mengacuhkan bunyi itu. Lalu, ponselnya kembali berdering untuk ketiga kalinya.
Inka mendorong tubuh Mario, untuk berhenti sejenak dan memberi kesempatan ia menerima telepon itu. Namun, Mario tidak mengizinkan, ia mendekap Inka dengan kuat, hingga akhirnya pangutan itu terlepas.
"Aku terima telepon dulu."
Mario melepaskan pekukannya dan membiarkan Inka berjalan menuju meja rias.
Tak lama kemudiam, Mario ikut menghampiri Inka yang masih berdiri di meja itu. Ia melingkarkan tangannya pada pinggang Inka, dan menaruh dagunya di bahu itu.
"Siapa?"
"Adhis." Jawab Inka.
"Tapi aku halo halo ngga ada suaranya, terus di matiin. kira-kira ada apa ya, Kak? Kok aku jadi kepikiran papa, apalagi akhir-akhir ini papa tidak bisa di hubungi." ucap Inka lagi.
"Positif thinking, papa Raka ngga apa-apa."
Inka memgangguk dan meletakkan kembali ponselnya.
Mario langsung membopong Inka menuju singgasana malamnya. Inka di baringkan perlahan di sana, lalu Mario kembali melakukan aksinya.
"Aku boleh melakukannya berkali-kali?"
"Iya." Inka mengangguk sambil tersenyum.
Mario menatap wajah istrinya lagi dengan elusan lembut. "Kita buat si kembar season 2."
"What? kamu pasang alat kontrasepsi itu lagi?" Mario mulai menegakkan tubuhnya yang di sangga oleh kedua tangannya.
Inka mengangguk dengan mata memelas. "Maher dan Mahira masih sangat kecil, dan aku belum siap hamil lagi. Tiga atau empat tahun lagi ya?"
"Berarti kamu pasang ini selama 5 tahun lagi?" Mario menyentuh bagian inti istrinya.
Inka mengangguk dan menunjukkan puppy eyes.
Mario lupa, atau memang tidak fokus saat Inka mendiskusikan hal ini satu bulan sebelum melahirkan. Pasalnya Inka meminta izin pada Mario pada saat penyatuan mereka, sehingga membuat Mario antara sadar dan tidak mengiyakan pertanyaannya.
Ketika akan melahirkan, Inka juga sudah meminta dr. Mediana untuk langsung memasang alat kontrasepsi itu di rahimnya setelah operasi caesar selesai, karena keadaan itu lebih efektif dan tidak sakit.
"Oke.. Apapun maumu, Ratuku." Mario mencubit.
Inka tersenyum dan langsung memeluk erat tubuh suaminya.
"I'm Yours.. lakukan sebanyak yang kamu mau." Bisik Inka di telinga Mario, membuat ia melebarkan senyum sumringah di bibirnya.
****
Seperti biasa, Inka melakukan rutinitas pagi dengan melayani kedua bayinya dan satu bayi besarnya. Lalu, ia mengantarkan Mario persis di depan rumahnya, melambaikan tangan, setalah Mario menghidupkan mesin mobilnya dan berlalu hingga tak lagi terlihat di hadapannya.
Inka memasuki rumahnya kembali dan menutup rapat pintu ruang tamu itu.
Ting.. Tong..
Bel rumahnya berbunyi, setelah ia melangkahkan beberapa langkah kakinya ke dalam.
Inka membalikkan tubuhnya dan mendekati pintu itu lagi, lalu membukanya.
Ceklek...
Terlihat Adhis sudah berdiri di hadapannya.
"Assalamualaikum, Kak."
"Waalaikumusalam, Dhis. Ada apa?" Tanya Inka pada adiknya yang terlihat lesu.
"Kak, mama Indah masih ada di sini kan?"
Inka menyuruh Adhis untuk masuk ke dalam rumahnya dan duduk.
"Mama masih di sini. Memang kenapa?" Tanya Jnka bingung.
"Mama Desi ingin bertemu." Jawab Adhis.
Lalu Adhis menjelaskan kedatangannya ke rumah itu. Inka mendengarkan dengan seksama apa yang adik tirinya itu tuturkan.
"Aku akan coba bicara pada mama." Kata Inka
Adhis menggenggam tangan Inka, saat kakaknya itu bangkit dari duduknya dan pergi menemui Indah.