
Inka sudah mengemas barang-barang yang akan di perlukan selama di Dubai. Semua keperluan Mario, Maher, dan Mahira sudah di persiapkan, hingga hal yang terkecilpun.
“Tari, Ambar, kalau kalian bosan, kalian boleh pulang kampung dulu, yang penting saat saya pulang kalian sudah berada di sini lagi” Kata Inka kepada kedua pegawai rumahnya itu.
Tari dan Ambar langsung mengangguk senang. “Baik, Bu.”
Mario berpesan kepada satpam dan penjaga kebunnya.
“Jagain rumah ya!”
“Siap, pak.” Jawab sigap kedua satpam berkulit hitam itu.
Mario, Inka, Sukma, dan si kembar sudah berada di lapangan udara Halim Perdana Kusuma. Mario sengaja memakai jet pribadi sang ayah untuk kenyamanan keluarga kecilnya.
“Wah, pesawat sebesar ini, hanya kita saja nih penumpangnya, Non?” Tanya Sukma dengan mata berbinar. Tak henti-hentinya ia terpesona dengan interior di dalam pesawat ini.
“Gue udah bilang, Jangan norak, Sukma!” Ucap ketus Mario.
“Iya, Den. Maap.” Jawab Sukma lesu.
“Ya udah, di sana tempat istirahat kamu ya, Suk, dan di sebelah sini kamar Maher dan Mahira.” Inka menunjuk letak kamar Sukma yang bersebelahan persis dengan bayi kembarnya.
“Siap, Non.” Jawab Sukma, sambil membereskan semua bawaannya dan barang bawaan majikannya yang di bantu oleh pramugari pramugara di sana.
Mario dan Inka masih menggendong kedua anaknya. Hingga di atas awan pun Maher dan Mahira masih terjaga, karena ini adalah pengalaman pertama si kembar melakukan perjalanan jauh. Mario sangat senang, bermain, tertawa, dan bersenda gurau bersama anak istrinya di sini. Ia tak bisa membayangkan jika saat itu Inka keras kepala dan tidak ikut bersamanya. Pasti akan sangat hampa rasanya.
Setelah delapan jam dua puluh menit. Mereka sampai di Bandar Udara Iternasional Dubai, Uni Emirat Arab. Mario dan keluarga langsung di sambut oleh supir, pemandu sekaligus penterjemah di sana. Tepat jam sepuluh malam, mereka sampai di hotel. Walau selama perjalanan di lengkapi dengan akomodaasi yang super nyaman, namun tetap saja terasa melelahkan.
Sukma menemani Maher dan Mahira di kamar yang telah di siapkan, sementara Mario dan Inka berada persis di sebelah kamar mereka.
“Capek?” Mario mendekati Inka yang tengah duduk di temapt tidur besar yang berwarna putih, sambil memijit sendiri punggungnya.
Mario mengambil alih, dan ikut memmijit punggung sang istri. “Kamu tadi terlalu sering menggendong Maher, sekarang anak kita sudah semakin berat.”
“Tidak apa.” Jawab Inka tersenyum.
“Hmm... pijitan kamu enak.” Kata Inka meledek.
“Khusus, untuk kamu, sebagai rasa terima kasih aku karena sudah mau ikut ke sini dan meninggalkan pekerjaanmu.”
“Memang sudah seharusnya, Kak. Aku juga ngga bisa jauh dari kamu.”
“Masa sih?” Mario menghentikan pijatannya dan menatap wajah Inka tanpa jarak.
“Iya. Beneran.” Inka menepuk dada Mario.
“Aku tahu tatapan kamu mau apa.”
“Apa?” Tanya Mario meledek.
“Mau mandi.” Inka mendorong Mario dan berlari secepat kilat ke kamar mandi.
****
Satu hari, dua hari, tiga hari, Inka selalu di tinggal Mario bekerja. Memang sudah di prediksi akan seperti ini, tapi Mario justru benar-benar hanya bisa bertemu kedua anaknya di pagi hari, sedangkan bersama Inka, ia harus terjaga hingga tengah malam sampai Mario pulang. Jika ia tertidur duluan pun nasibnya akan sama dengan kedua anaknya yang bertemu Mario hanya di pagi hari saja.
“Maaf, Sayang.” Mario masih mebujuk istrinya yang tengah merajuk. Pasalanya sejak ia sampai di hotel, Inka tak menyambutnya dengan senyum manis seperti biasanya.
“Sudah empat hari kamu seperti ini, terus apa gunanya kami di sini.”
Inka mencibir. “Tapi kami juga bosen.”
“Iya, aku janji hari ini selesai, besok kita mulai jalan-jalan.” Mario mengangkat kedua jarinya ke atas.
“Bohong, kemarin kamu juga berjanji seperti itu.” Inka membaringkan dirinya lebih dulu di tempat tidur. Ia tak mau berdebat dan langsung segera tidur.
“Hey, kok ngambek sih.” Mario menghampiri Inka dan berjongkok tepat di wajahnya.
Inka membalikkan tubuhnya. Kemudian Mario menaiki ranjang itu agar bisa menatap wajah istrinya lagi. Inka membalikkan tubuhnya lagi, menjadi ke posisi semula. Mario menghelakan kasar nafasnya, ia beranjak lagi dari tempat tidur itu. Lalu berdiri persis di hadapan Inka dengan jarak yang dekat. Ia melepaskan kemeja dan celana panjangnya di depan Inka yang sedang berpura-pura tidur.
“Kamu mau ngapain?” Inka langsung membuka matanya, setelah merasa ada gelagat aneh dari sang suami.
“Ya.. mau ngapain lagi kalau bukan..” Mario tak melanjutkan perkataannya, melainkan berganti dengan bahasa tubuh yang sangat di mengerti istrinya.
“Ih, udah nyebelin masih mau minta jatah. Ngga ada.” Inka menutup seluruh tubuhnya, hingga ke wajah dengan selimut tebal yang tadinya menempel sampai pinggang.
“Ya udah.” Mario tetap dengan aksinya yang melepas seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya.
“Kak... Parno tau.” Inka menutup matanya dengan jari yang masih di renggangkan. Ia tertawa geli melihat aksi suaminya yang mencoba membuatnya tertawa.
“Parno itu pesulap yang suka bilang, ‘hayo.. prok prok prok jadi apa’.” Kata Mario memeragakan persis gerakan si pesulap yang ia maksud, membuat Inka semakin tergelak dan memukul pelan dada bidang suaminya itu.
“Rese..”
“Biarin.” Mario menubruk Inka an menggulingkannya.
“Satu kali, please.” Rengek Mario.
“Dua kali, Please.” Ledek Inka yang langsung di balas dengan senyum menyeringai Mario.
Sejak Mario mulai berangkat dan sampai ke kota terkaya di negara timur tengah itu, ia selalu mengunggah kebersamaannya dengan istri dan kedua anaknya. Ketika di dalam pesawat, hotel, bahkan ketika sarapan pun, ia mengunggahnya.
Di Bali, David melihat semua unggahan yang di pasang Mario di akun media sosialnya. Sejak ia bertemu dengan Inka tepat di sebuah lift, ia sudah terpesona oleh sosok wanita yang sedang repot membawa banyak makanan. Wajahnya yang anggun dan senyumnya yang manis membuat matanya tak beralih ke pandangan manapun, di tambah kesopanannya yang membuat David semakin terpesona oleh sosok istri dari teman lamanya itu.
“Oiy.. kenapa lo? bengong aja.” Tanya salah satu teman David, yang ikut duduk di sofa bersamanya.
Kemudian teman David itu ikut melihat apa yang sedang ia lihat, pasalnya David sangat serius melihat ponselnya, hingga ia tak menjawab sapaan temannya itu.
“Ini, gue lagi liat sosial media nya si Rio.” Jawab David.
“Rio temen kuliah lu, yang sekarang jadi pengusaha cyber itu.”
“Yoi. Gue ngiri banget liat dia. Dia udah dapet cewek baik sekarang, padahal kita dulu begajulannya sama. Tapi sekarang dia udah punya istri dan anak.” Kata David lagi.
“Coba gue liat.” Teman David merebut ponselnya.
“Ini istrinya? Ya wajarlah dia insyaf, istrinya cantik banget.” Ucap teman David.
“Bukan cuma cantik, tapi..” David menjeda ucapannya.
“Dari dulu kami selalu punya selera wanita yang sama, bahkan tidak jarang kami berbagi wanita.” Pikiran David melayang, mengingat masa lalunya bersama Mario saat masih kuliah di Inggris.
“Jangan gila lo, Vid. Jangan bilang lo mau ngerebut istri temen lo ini!” Kata teman david menyelidik.
“Ya, enggaklah, gue ngga punya apa-apa sekarang, mana bisa gue ngerebut istrinya, bersaing aja gue ngga bisa.” Jawab David, sambil menyesali atas kebiasaan buruknya selama ini, yang suka berfoya-foya dan menghabiskan harta peninggalan sang ayah.