Istriku Canduku

Istriku Canduku
~bonus chapter 4~


"Pipi.." Panggil Mahira dari kejauhan. Ia membentangkan tangannya untuk segwra memeluk sang ayah.


Mario pun sudah membentangkan kedua tangannya.


"Sayang.."


Hap


Mario menangkap Mahira yang tengah berlari ke arahnya.


Mereka pun berpelukan dan tertawa.


"Bagaimana sekolahmu tadi?" Tanya Mario sambil mencium gemas pipi putrinya.


"Semua lancar."


"Good." Mario menampilkan ibu jarinya ke atas.


Lalu, dengan cepat Mahira pun menempelkan ibu jarinya pada ibu jari sang ayah.


"Di mana kakakmu?" Tanya Mario.


Siang ini, Mario tengah menjemput langsung si kembar di sekolahnya.


"Si kakak suka ngga langsung keluar sekolah, Pi."


"Terus?" Tanya Mario bingung.


"Dia tuh suka ngobrol dulu sama temen-temen perempuannya. Tuh di sana!" Mahira menunjuk Maher yang sedang ngobrol dengan teman wanitanya.


"OMG" Gumam Mario sambil menggelengkan kepalanya, melihat Maher yang tengah di kelilingi teman-teman wanitanya. pasalnya Maher saat ini baru memasuki Sekolah dasar, usianya pun baru enam tahun, tapi sudah mulai tebar pesona.


Mario dan Mahira menghampiri Maher di sana.


"Hey, Son." Panggil Mario pada putranya.


"Bye, aku pulang duluan." Kata Maher tengah pamit pada teman wanitanya, setelah melihat sang ayah dan adik kembarnya tengah menghampiri.


"Hey. Siapa dia?" Tanya Mario meledek putranya.


"Teman." Jawab Maher.


"Bohong, Pi. itu pacarnya Kak Maher." Sanggah Mahira.


"Pacar?" Tanya Mario mengeryitkan dahinya.


"Kata Mimi, semuanya teman. Masih kecil tidak boleh pacaran." Jawab Maher.


"Tapi kakak suka bilang kalau Asha itu cantik."


Asha salah satu teman wanita di kelas Maher yang tadi berada bersama yang lain di sana.


"Memang kenapa kalau aku bilang dia cantik? Memang teman perempuanku tadi itu cantik."


"Tuh kan? berati kakak suka dia, kalau suka berarti pacaran."


Maher dan Mahira berdebat di hadapan sang ayah.


"Ssstttt.." Mario menempelkan ibu jarinya pada bibirnya yang monyong.


"Sudah jangan ribut! Stop! Semua diam. sekarang waktunya pipi yg bicara."


Mario menarik nafasnya. Memberi arahan gender pada usia seperti Maher dan Mahira memang gampang-gampang susah.


"Dengar ya, anak-anak pipi yang pintar. Usia kalian masih sangat kecil. Tidak ada pacar-pacaran."


"Tapi kemarin aku di berikan surat ini pada teman lelaki di kelasku." Mahira mengeluarkan secarik kertas dari tasnya dan memberikan pada sang ayah.


Lalu, Mario membacanya.


"Mahira cantik, boleh aku jadi pacarmu?"


Mario kembali mengeryitkan dahinya. Ia tak mengangka anak berusia enam tahun sudah bisa memberikan surat cinta.


"Ini dari siapa?" Tanya Mario.


"Teman lelakiku." Jawab Mahira santai.


"Yang mana orangnya?" Tanya Mario lagi.


"Oke, hari senin besok, pipi yang akan jemput kalian lagi."


Maher dan Mahira mengangguk. "Asiik."


"Mahira, nanti kalau pipi jemput kamu lagi. Beritahu pipi teman yang memberimu surat ini."


"Oke, Pi." jawab Mahira tersenyum.


"Maher, ini tidak patut di contoh." Mario menunjuk kertas tulisan tangan teman lelaki yang memberikan surat cinta pada Mahira.


Maher memgangguk. Lalu, Mario merangkul putra putrinya menuju mobil.


"Tugas kalian saat ini adalah belajar. Pacaran hanya di lakukan untuk orang dewasa."


"Seperti pipi?" Tanya Mahira.


"Pacaran itu, di lakukan oleh perempuan dan laki-laki yang sudah dewasa. Sudah kuliah, bekerja, lalu saat ingin menikah, mereka akan saling mengenal terlebih dahulu dengan calon istri atau calon suaminya. Nah dalam waktu pengenalan itu orang menamainya dengan pacaran."


"Berarti Pipi sama Mimi pacaran dan akhirnya menikah?" Tanya Maher, ketika Mario hendak menyalakan mesin mobilnya.


Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sungguh ia sebenarnya pusing dengan semua pertanyaan-pertanyaan ini.


"Pipi sama Mimi tidak pacaran." Jawab Mario sambil menoleh ke arah Maher yang duduk di samping kemudi.


"Lalu?" Tanya Maher, begitu pun Mahira, hingg nak itu menyondongkan dirinya di antara sang ayah dan sang kakak yang berada di kursi depan.


"Pipi memang sudah menyukai Mimi dari dulu, jadi tidak perlu pengenalan karena Pipi sudah mengenal Mimi walau pada saat itu Mimi belum mengenal Pipi. Jadi Pipi langsung menikahi Mimi tanpa pacaran." Jawab Mario panjang lebar.


"Kalau begitu, jika aku dewasa nanti dan menyukai wanita. Tidak perlu pacaran. Aku akan langsung menikahinya."


Mario tertawa.


"Hmm.. aku ngga ngerti." Ucap Mahira, menengok ke arah Maher dan ayahnya bergantian sambil menggigit kukunya yang pendek.


Mario mengusap kepala Mahira dengan satu tangannya. Ia gemas dengan karakter kedua anak kembar yang sangat jauh berbeda ini. Ia menggeleng saat melihat kedewasaan Maher seperti ini. Namun, ia juga menggeleng melihat kemanjaan Mahira yang sering berlebihan.


Setelah setengah jam di perjalanan, akhirnya Mereka sampai di butik Inka.


Hari ini adalah hari jumat, hari terakhir bekerja setelah lima hari berturut-turut melakukan rutinitas itu. Biasanya hari jumat memang jadwal Mario menjemput kedua anaknya yang bersekolah dengan sekolah yang sama. Lalu, Mario akan membawa mereka ke kantor Inka dan meninggalkan Mahira di sana bersama sang ibu, sementara Mario dan Maher pergi untuk sholat jumat di masjid yang cukup dekat dari kantor Inka. Setelah itu, mereka akan makan siang bersama dan berjalan bersama, kemana pun kedua anaknya inginkan.


"Sayang, aku dan Maher ke masjid dulu." Mario bergegas pergi lagi, setelah membawa Mahira ke ruangan istrinya.


"Minum dulu, Pi." Ucap Inka pada Mario di depan kedua anaknya.


"Sudah telat, Sayang." Mario mengecup kening istrinya lalu putrinya.


"Memang tadi kenapa telat?" Tanya Inka sambil berjalan mengantar suami dan putranya hingga depan pontu ruangannya.


"Aku pusing menjelaskan banyak pertanyaan dari anak-anakmu yang kritis. Apalagi Maher yang sudah menanyakan tentang pacaran dan nikah."


Inka tertawa.


"Kamu tau, Sayang? tadi dia di kelilingi banyak teman wanita di kelasnya." bisik Mario.


Inka tertawa lagi.


"Karena dia anakmu, Mario Jhonson. si playboy mesum." Ucap Inka persis di telingan Mario.


"Jangan! cukup aku yang seperti itu dan semoga Maher tidak."


Inka tersenyum.


"Assalamualaikum pipi, Gih sana berangkat." Inka mendorong pinggang suaminya untuk segera menunaikan sholat jumat bersama sang putra yang sudah menunggu dan berdiri di depannya.


Inka dan Mahira kembali memasuki ruang kerjanya.


"Mi, tadi kata Pipi orang pacaran itu di lakukan oleh perempuan dan laki-laki yang sudah dewasa. Sudah kuliah, bekerja, lalu saat ingin menikah, mereka akan saling mengenal terlebih dahulu dengan calon istri atau calon suaminya."


Inka menopang dagu di atas meka kerjanya dan menatap dengan seksama wajah putrinya yang sedang berbicara tepat di hadapannya.


"Nah, kakek sama nenek kan mau nikah. Berarti sebelumnya itu, mereka pacaran?" Tanya Mahira.


Gubrak. Tiba-tiba Inka duduk dengan gelisah. ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Kak Rio, bagaimana jawabnya ini?" gumam Inka, sambil nyengir.