Istriku Canduku

Istriku Canduku
kamu jangan naif!


Selama Dhani cuti, Mario terlihat sangat sibuk. Ada saja halangan yang membuat Inka lupa untuk memberitahu tentang temannya yang bernama David yang memesan pakaian padanya dan sering datang ke butiknya. Inka tak pernah menaruh curiga, ketika David datang kebutiknya dengan membawa banyak makanan.


“Sorry, Kak David. Pakaianmu belum selesai. Masih ada di bagian finishing. Mungkin dua atau tiga hari lagi baru selesai.” Ucap Inka saat David kembali datang, dengan alasan ingin mengambil pakaian pesanannya.


Ini adalah kali ketiga, David datang ke butik Inka.


“Tidak masalah, kebetulan saya ada urusan di daerah sini. Jadi sekalian saja mampir.” Jawab David.


“Saya kira pakaian saya sudah selesai.” Kata David lagi, memecahkan kecanggungan mereka yang berada hanya berdua dalam ruangan Inka.


“Mario tak datang untuk makan siang?” Inka menggeleng, dengan tetap berada di tempat duduk kerjanya. Sementara david duduk di kursi yang berhadapan dengan Inka.


“Saat ini, kak Rio sangat sibuk. Jadi belum ada waktu untuk makan siang bersama.” Jawab Inka dengan mata yang tetap tertuju pada kertas di depannya.


“Kalau begitu, bagaimana jika makan siang denganku? Aku yang traktir.” Celetuk David.


Inka mengeryitkan dahinya.


“Tidak, kak. Terima kasih.” Jawab Inka tersenyum.


"Ayolah, In. Sekali ini saja. Please.” Ucap David dengan mengatup kedua tangannya.


Inka menggeleng. “Aku masih banyak kerjaan, Kak. Lagi pula, aku belum bilang kak Rio.”


“Sial, Inka bgitu patuh pada suaminya.” Batin David.


“Baiklah kalau begitu. Kira-kira kapan pakaianku selesai?”Tanya David lagi.


“Lusa, janji.”


“Okeh, kalau begitu lusa, aku ke sini lagi.” David bangkit dari duduknya.


“Tapi, lusa. Mau ya makan siang bareng aku.” Kata David lagi sebelum meninggalkan ruangan Inka.


Inka mengangguk dan tersenyum. “Baiklah.”


Pikir Inka, David adalah teman dekat Mario, sama seperti Bryan, Rey, atau Andre. Oleh karena itu, ia juga menghormati David seperti ia menghormati teman-teman suaminya yang lain.


Tak lama kemudian, ponsel Inka berdering. Tertera di sana nama “Hubby Mesum” melakukan panggilan video call. Entah mengapa Mario lebih suka video call di banding telepon biasa.


“Halo, Sayang.” Mario melambaikan tanganya di kamera.


“Hai.” Inka pun melakukan hal yang sama.


“Sayang. Maaf malam ini aku harus ke Jogja.” Kata Mario lesu.


“Tidak lama kan?” Jawab Inka manja.


Mario tersenyum. “Ngga, Sayang. Besok aku sudah balik kok.”


“Memang Dhani masih cuti?” Inka masih tak rela di tinggal suaminya.


“Masih, kemarin dia langsung minta cuti dua minggu, karena langsung honeymoon.” Inka mengetuk jidatnya, ia lupa padahal Bianca pun cuti dengan meminta hari yang sama.


“Hmm.. aku pasti akan sangat merindukanmu.” Kata Inka.


“Apalagi, aku. Sayang. Kalau di Jogya troublenya tidak parah, aku pun malas ke sana.” Jawab Mario lesu.


“Baiklah, hati-hati. Sayang. Jangan lupa untuk selalu kabari aku!” Kata Inka lagi.


“Siap, Ratu. Kamu juga jangan capek-capek kerjanya. Oke. Mmuacch.” Mario menempelkan jari ke bibirnya, lalu di berikan pada Inka.


Inka pun membalas dengan hal yang sama.


Lalu menutup sambungan video call itu.


****


Satu kali dua puluh emapt jam, Mario tak berada di sisi Inka, membuatnya merasa ada sesuatu yang hilang. Teriakan Mario di pagi hari, serta kemanjaannya, membuat Inka rindu. Semalam pun., Inka sengaja mengajak putra putrinya untuk menemani tidur di kamarnya.


Dalam satu kali dua puluh emapt jam itu, Inka dan mario saling berkomunikasi dengan video call sebanyak enam kali, karena ini adalah kali pertama Mario pergi tidak dengan membawa istrinya.


“Sayang, sepertinya aku akan pulang besok.” Pesan whatsap Mario pada Inka dengan emot deraian airmata.


Inka langsung melihat pesan itu dan membalasnya.


“Hmm.. rindu itu berat.” Inka pun menggunakan emot sedih di akhir kalimanya.


Tring, ponsel Mario membunyikan pesan. Ia langusung membaca pesan itu dan menyungging senyum.


“Aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku, supaya cepat pulang. Love you.” Mario membalas pesan itu lagi.


Mereka sudah seperti Abege yang sedang jatuh cinta. Mario dan Inka senyam senyum sendiri dengan pesan-pesan alay yang mereka utarakan, di tambah emot-emot gemoy. Hah..


****


Tok.. Tok.. Tok..


Ceklek.


David mengetuk ruangan Inka dan langusng memasukinya.


“Sorry, mengganggu.” Ucap David dan langsung duduk di hadapan Inka.


‘Hai, tidak kok. Tidak ganggu.” Jawab Inka dengan membereskan kertas di mejanya.


“Kita ke ruang fiting yuk!” Inka berdiri dan mengajak David menuju ruang fitting untuk memakai pakaiannya yang telah selesai.


Inka menemani David yang sedang memakai pakaian pesanannya. Kebetulan Inka tidak di temani Sari, karena sari pun sedang melayani pelanggan yang lain.


“Oke, Pas.” David berdiri di depan cermin besar.


“Apa aku terlihat tampan?” Tanya David pada Inka dengan tatapan David melalui cermin di depannya.


“Hmm.. tampan.” Jawab Inka yang langsung membuat David tersenyum.


“Oke kalau begitu, selanjutnya akan di urus pegawaiku yang lain ya.” Ucap Inka yang tengah akan meninggalkan David.


“In, tunggu.” David mencekal lengan Inka.


Inka pun langsung menatapnya tajam, sambil beralih ke tangannya yang tengah di pegang David.


“Maaf.” David langsung melepas pegangannya.


“Maaf, aku hanya meminta janjimu untuk makan siang bersama, sekarang.” Kata David lembut.


“Hmm.. Tapi aku masih ada kerjaan, Kak.”


“Kumohon, In. Temani sekali saja. Aku tidak terlalu banyak teman di sini. Rey, Andre, bahkan Amrio sibuk sekali. Aku berusaha mengajak mereka bertemu tapi tak pernah ada waktu.” Bohong David.


“Iya sih, Kak Rio memang sedang sibuk. Sekarang saja masih di Jogya sudah dua hari.” Jawab Inka lesu.


David semakin menyeringai licik. Aksinya seperti gayung bersambut.


“Baiklah, tunggu. Saya bawa tas dulu.” Kata Inka lagi.


Lalu Inka mengajak Sari, tapi Sari menolak karena klien yang sedang ia tangani masih berada di ruangannya.


Inka memberitahu Sari, kalau ia akan makan siang bersama David di restoran yang biasa ia makan bersama Sari. Jaraknya pun tidak jauh dari butik mereka.


Inka dan David berjalan beriringan. Inka bercerta tentang Mario, dan bertanya ada david bagaimana Mario semasa kuliah. David menceritakan semua kenakalan mereka sewaktu kuliah di luar negeri, tapi David tak bercerita tentang pacar yang sering saling tukar antara dirinya dan Mario.


“Ceritakan awal kalian bertemu.” Kata David lagi, saat mereka menunggu makanan yang di pesan datang.


Di sisi lain. Mario sudah sampai di Jakarta. Ia sengaja membeli sepuket bunga besar untuk istri tercintanya. Ia mengendarai mobilnya sendiri menuju butik Inka.


Ceklek


Mario membuka pintu lobby butik istrinya dan hanya mendapati Sari di sana. Mario langsung ke ruangan Inka yang ternyata kosong.


“Inka di mana, Sar?” Tanya Mario, setelah melepas kacamata hitamnya.


“Oh, Bu Inka sedang makan siang bersama teman Pak Rio.” Jawab Sari, membuat Mario berpikir.


"Teman?”


“Iya, Pak. Teman Pak Rio yang bernama David. Dia memesan dua setelan jas yang langsung di desain Miss Inka.” Jelas Sari.


Dengan rahang mengeras, Mario langsung membuka pintu lobby itu kembai untuk keluar.


“Mereka makan di mana, sar?” Tanya Mario sambil memegang gagang pintu.


“Di Resto XYZ, persis di seberang sana Pak.” Sari menunjuk ke arah depan.


Mario meninggalkan satu puket bunga yang tadi ia pegang itu di lobby butik Inka, lalu ia langsung keluar dan berlari cepat.


Ia melihat Inka yang tengah tertawa, sambil di pandangi intens oleh David. David pun tersenyum hangat menanggapi cerita Inka yang berada persis di hadapannya.


Inka tersenyum ke arah Mario, saat mendapati sosok yang ia rindukan tengah berada di sini.


“Sayang, kamu sudah pulang.” Inka berdiri dan hendak memeluk suaminya, tapi Mario menepisnya dan langsung menghampiri David.


“Gue tau maksud busuk lo.” Mario mencekram kerah kemeja David.


“Wow, maksud lo apa Bro? Gue ngga ngerti.” Jawab David.


“Jangan pura-pura b*go, karena gue ngga b*go.” Ucap Mario dengan wajah memerah.


“Kak, ada apa?” Inka menarik lengan Mario.


“Pulang!” Mario menarik tangan Inka untuk segera pergi dari tempat itu.


Kini mereka sudah berada di dalam mobil Mario. Inka pulang lebih dulu, dan hanya berpamitan pada Sari melalui pesan whatsapnya.


“Kak, kenapa sih? Kenapa kamu diam saja?” Tanya Inka pada Mario yang sedari tadi tak mengeluarkan suaranya.


“Kak kamu kenapa?”


“Kenapa kamu tidak cerita kalau David sering datang ke butik. Bahkan dia jauh-jauh datang ke sini hanya untuk memesan pakaian padamu. Ah shit.” Kata Mario menghentakkan tangannya pada setir di hadapannya.


“Aku pernah ingin cerita, tapi selalu saja ada halangannya.”


“Alasan.”


“Kenapa kamu marah sih, Aku ngga ngerti. Dia teman kamu kan? Terus kenapa?” Inka semakin tak mengerti dengan kemarahan Mario.


Mario pun seperti enggan untuk berterus terang, karena hal ini sangat memalukan. Ia sungguh baj*ngan dulu. Ia malu mengatakan pada Inka bahwa ia dan David sering bertukar pasangan dan saling berbagi.


Mario sampai di depan rumah dan memarkirkan asal mobilnya. Lalu ia meninggalkan Inka yang masih berada di dalam mobil. Ia langsung masuk ke dalam kamar. Kebetulan Maher dan Mahira sedang tidur siang di kamarnya.


Inka mengejar Mario dan menariknya.


“Kamu kenapa? Cerita kak. Aku ngga ngerti dengan sikap kamu.”


“Kamu tahu, David itu menyukaimu.”


“Tidak mungkin.” Inka masih tak percaya.


“Aku mengenal David, dan aku tahu cara dia menatapmu.” Sontak membuat Inka terdiam. Ia ingat memang terkadang sikap David agak aneh.


“Tapi dia temanmu.” Jawab Inka lagi.


“Memangnya tidak ada teman menyukai istri atau suami temannya sendiri, bahkan Adhis yang adikmu bisa menyukai pacar kakaknya.” Kata Mario dengan suara yang keras.


“Kamu jangan naif, In.” Mario meninggalkan Inka yang masih mematung di sana. Ia ingin segera menyegarkan dirinya yang begitu lelah dengan pekerjaan, di tambah dengan kejadian ini. Padahal ia ingin segera pulang dari Jogya untuk bermesraan dengan istrinya. Namun ternyata semua itu tidak sesuai bayangannya.