Istriku Canduku

Istriku Canduku
Perang dingin


Sesampainya di apartemen, Mario masih menarik lengan Inka dari basement hingga lift.


"Lepas, apa sih di tarik-tarik. Aku bisa jalan sendiri!" Mata Inka melotot dan bersuara tinggi di depan wajah Mario, membuat Mario bingung dan mengeryitkan dahinya.


Tidak pernah sekali pun, Mario mendengar Inka bersuara tinggi. Bahkan pada saat Mario marah dan Inka mendapatkan kekerasan fisik saat berhubungan pun, ia hanya bisa marah dalam diam.


"Kamu kenapa sih? kenapa jadi kamu yang marah? Harusnya aku yang marah. Ngapain kamu tidur di hotel? Terus siapa dia?" Tanya Mario pada Inka yang sedang berjalan cepat, hingga melewati suaminya.


Mereka masih berada di lorong apartemen. Namun, Inka tak menjawab pertanyaan Mario, ia lebih memilih diam.


Tling... Inka membuka pintu, setelah menekan passwordnya.


Mario menarik lagi pergelangan lengan Inka. "Aku dari tadi tanya ke kamu, In!"


"Aku juga sudah jawab kan, dia sepupuku." Inka menjawab santai dan mencoba melepas pergelangan tangannya yang di genggam erat Mario.


"Bohong." ucap Mario ketus.


"Lepas!" Inka menarik tangannya.


Mario malah menarik lengan Inka dan di benturkan pada dada bidangnya. Kini mereka sangat dekat, tak ada jarak. Inka bisa merasakan Nafas Mario yang menghempas wajahnya.


"Kamu ceritakan siapa pria itu? Atau aku cari tahu sendiri. Dan kalau sampai kamu bohong. Kamu akan tahu akibatnya." Suara ancaman Mario persis berada di wajah Inka.


Inka mendorong dada Mario, agar menjauh. ia hanya menggeleng dn bergumam sendiri. "Aku tidak sepertimu, yang pandai berbohong." Ia pun langsung berlari menuju kamar.


Mario menuduh Inka dengan pria lain, apa setiap laki-laki seperti itu? Maling teriak maling. Ia yang berbuat, tapi menyalahkan orang lain.


#Flashback on


Sesampainya Inka di depan rumah Andreas, ia sudah memegang pintu gerbang rumah itu. Namun kakinya berat untuk masuk. Akhirnya ia memesan lagi taksi online, menuju cafe tempat biasa ia menyendiri di kala penat saat masih tinggal dengan ayahnya.


Inka memesan vanila latte hangat, ia memilih duduk di luar, sambil melihat pemandangan kota Jakarta di malam hari. Hilir mudik kendaraan yang silih berganti, menjadi pemandangan yang menenangkan, walau pikiran Inka tidak sedang di sini.


"Hai, boleh ikutan duduk?" Sapa pria itu.


Inka belum menoleh. Hingga pria itu melambaikan tangannya persis pada wajah Inka.


"Hello.., cantik-cantik budek."


Inka langsung menoleh. Setelah melihat pria itu, wajahnya melengos dan memandang ke sembarang arah.


"Kita belum kenalan kan? susah banget sih kenalan sama kamu."


"Ck.. ngapain sih lo ngikutin gue."


"Galak banget, In. Jangan galak-galak nanti cepet tua!" Kata pria itu lagi.


"Hmm.. sejak kapan lo tau nama gue?"


"Sopan dikit, In. Aku lebih tua dari kamu loh, jangan panggil lo gue apa. Ga enak dengernya."


"Okeh, denger ya! Gara-gara ketemu kamu di pesta waktu itu, suami aku cemburu dan marah sama aku. Terus aku juga liat, kamu ngintai di depan kantor aku. Ngapain?" Tanya Inka dengan nada ketus.


"Ya, mastiin lah, mastiin kalau kamu baik-baik aja." jawab pria itu santai sambil sesekali menyesap kopi yang ia pesan.


"Emang kamu siapa?"


"Makanya kenalan dulu, sombong banget sih dari dulu di ajak kenalan susah banget. kalau bukan sodara udah aku pacarin kamu, In."


"Sodara?" Inka mengeryitkan dahinya.


"Iya, Aku tuh Harris, anaknya bude Ratmi, kakak mama kamu."


"Hah, sumpah lo! Seriusan?" Inka tertawa sambil menutup mulutnya.


"Ngga mungkin, dulu lo ga kaya gini Ris." Inka menggeleng sambil terus tertawa.


"Sopan! Panggil mas!" Tegas Harris.


"Iya, iya.. Aku masih ga nyangka mas sumpah, dulu kan kamu gemulai gitu. Kok sekarang cowok banget sih." Inka masih cekikikan.


"Itu dulu, semua orang bisa berubah, In. Sama seperti kamu. Dulu kamu lembut, manja. Ga seperti sekarang yang galak dan pemarah." Inka menghentikan tawanya dan tersenyum tipis.


"Tunggu! bude Ratmi apa kabar?" Tanya Inka serius.


"Ibu udah lama meninggal In, tetap saat tante Indah cerai." Inka terdiam.


"Maaf ya Ris, setelah papa sama mama cerai, aku sama sekali ga pernah silaturahmi ke sodara mama."


Harris mengangguk. "Aku ngerti kok."


Akhirnya, Inka dan Harris berbincang lama. Hingga Inka menceritakan semua yang di alaminya sejak Raka dan indah bercerai. Belum puas berbincang di cafe, mereka pun berbincang kembali di hotel. Harris dan Inka berbincang di dalam kamar hotel tersebut, hingga tengah malam, Harris baru meninggalkan Inka di sana.


#Flasback Off


Inka sudah tidak bisa menangis lagi. Cukup ia meluapkan kesedihannya di toilet rumah sakit pada waktu itu. Hatinya sudah sering tersakiti, dan ini yang paling sakit. Hingga tak ada lagi rasa di hatinya. Inka memilih diam, dan menyusun sendiri apa yang akan ia lakukan setelah ini.


Mario yang arogan, pantang untuk di tantang. Melihat Inka yang bersikap dingin, Mario tak mau kalah, ia pun bersikap sama. Mereka satu atap, namun, tak bicara. Mereka seperti perang dingin Suasana apartemen sunyi, sepi, dan hening.


Mario tidak menyadari bahwa sikapnya terhadap mantan cinta pertamanya itu adalah kesalahan dan telah menyakiti istrinya. Ia hanya ingin menebus kesalahannya pada Sasha, seperti kesalahannya dahulu pada adik kembarnya yang tidak bisa ia tebus. Ia hanya meyakini, bahwa ia tak mencintai Sasha, ia hanya mencintai Inka. Sasha sudah seperti adik baginya. Namun, cara pandang Mario tidak bisa di sama ratakan, karena setiap wanita pasti akan salah faham dengan apa yang ia anggap benar.


Mario lebih banyak di ruang kerjanya, hingga sering ia tertidur di sana. Ia memerintahkan orangnya untuk mencari tahu, pria yang bersama Inka di hotel itu. Namun, CCTV tidak menampilkan sosok pria itu dengan jelas. Sehingga Mario kesulitan untuk mencari jejaknya.


"Shit!" Mario melempar ponselnya, mendengar berita bahwa tak ada rekam jejak tentang pria yang bersama istrinya di hotel.


Sudah tiga hari Mario tak mendengar suara Inka, tak merasakan pelukannya, dan ciumannya. Sungguh rindu itu berat. Hal ini juga di rasakan Mario. Seperti saat ini, Ia berdiri persis di belakang Inka, menatap punggungnya yang tengah memasak.


Walau Inka tak pernah bicara pada Mario, tapi ia masih selalu menyiapkan keperluannya. Makan, menyiapkan baju kerja atau sepulang kerja, Inka tetap menyiapkan pakaian tidurnya, tapi setelah menyiapkan itu, Inka pergi menuju ke ruang yang lain.


****


Di kantor, Mario terus memandangi foto Inka.


"Padahal kalau kamu minta maaf, aku akan memaafkanmu, dan semua kembali seperti dulu. Sebenarnya, aku juga tidak bisa berlama-lama marah padamu, In." Mario berkata sendiri, sambil mengelus wajah Inka di dalam foto.


Begitu pun dengan Inka saat ini, di ruangannya ia terus memandangi foto kebersamaan dengan Mario di ponselnya, banyak kenangan-kenangan indah di sana yang membuat Inka mengulas senyum. Namun, berbeda dengan Inka. Ia tak butuh kata maaf. Jika memang ada orang yang menyakitinya, maka ia akan menutup buku dengan orang itu.


Inka beralih untuk melakukan video call pada ketiga sahabatnya.


"Hai.. Inka apa kabar?" Tanya Cinta.


"Baik, lo sendiri gimana kabarnya, Ta?"


"Gue juga baik. Eh.. Mely nongol tuh." Kata Cinta.


"Hai.." Mely melambaikan tangannya.


"Hai.." Jessy pun muncul.


"Nah, berhubung kita semua udah nongol. Sekarang waktunya kita hang-out. Ayo donk! Please ketemuan yuks." Kata Inka


"Kapan?" Tanya Jessy.


"Hari ini, nanti malem di cafe tempat kita biasa." Jawab Inka.


"Gue sih yess, kebetulan ga ada acara hari ini, dan kak Rey lagi di luar kota malam ini." Kata Cinta.


"Gue juga yess. Rasya mah cincai." Kata Mely.


"Lo mau traktir In, kalau di traktir gue yess." Kata Jessy.


"Uuu.. dasar lo, Jes." Sorak Cinta dan Mely sambil tertawa.


"Iya.. iya gue traktir, tenang." ucap Inka.


"Cap cus, kalau gitu. See you." Kata Cinta dan ketiga yang lainnya mengakhiri sambungan video itu.


Siang ini, Inka begitu sibuk. Ia juga tak lagi mengabarkan kegiatannya pada Mario. Mario sesekali menatap ponselnya, melihat apa ada notif dari Inka. Ternyata tidak sama sekali.


"Oh iya Sar. Ini hape aku kamu bawa, di sini banyak nomor-nomor klien kita. Tolong kamu pindahkan ke ponsel kamu." Kata Inka, setelah bertemu sari sebelum ia pulang.


"Loh, emang kenapa, Mis?" Tanya Sari bingung.


"Ya, engga apa-apa, supaya kamu dan Bianca bisa tetap menjalani bisnis ini tanpa aku." Kata Inka santai.


"Emang Miss mau kemana? ke paris lagi?" Sari semakin bingung.


"Ngga kemana-mana. Tapi kalau aku lagi ga masuk karena ada urusan, jadi kamu ngga teleponin aku terus, Sar." Inka tertawa.


Kemudian Sari pun tertawa dan mengangguk. Benar sekali, Sari memang selalu menggangu waktu libur Inka. Ia selalu menanyakan hal kecil tentang pekerjaan, padahal seharusnya itu sudah tidak di tanyakan lagi, karena ia sudah lama berkecimpung dalam dunia bisnis ini.


Malam ini, Inka menghabiskan waktu bersama ketiga sahabatnya. Tertawa sambil ghibah tentang masa lalu. Lucu, ketika mendengar celotehan Jessy, manusia paling julid, sejulid netizen di medsos, padahal yang di ceritakan adalah keluarga suaminya sendiri. Dasar Jessy.


Mario melihat GPS ponsel Inka, di sana terlihat lokasi Inka berada di tempat asing yang tak pernah Mario kenal. Mario langsung mem-video call nomor Inka.


Dret.. Dret.. Dret..


Sari menjawab telepon itu


"Loh, kok hape Inka ada di kamu, Sar?" Tanya Mario setelah yang di lihat di sana adalah wajah Sari.


"Iya pak, tadi Miss Inka kasih hapenya buat saya pelajari klien-klien yang ada di sini."


"Oh, terus Inka nya kemana?"


"Saya ngga tahu pak, Miss Inka sudah pulang lebih sore." Jawab sari.


Mario langsung menutup sambungan video call itu.


"Ish.. Kebiasaan tuh orang, maen tutup telepon seenaknya aja." Gumam Sari.