
Bella keluar dari kamar Inka dan melangkahkan kaki menuruni anak tangga rumah Karel.
"Loh, Bel. Kok kamu turun sendirian. Inka mana?" Tanya Indah.
"Masih di kamar. Dia ga mau turun, Aunty." Jawab Bella.
Mario hanya menatap matanya ke atas tangga, berharap Inka segera turun dan menemuinya.
Harris langsung memegang pagar tangga. "Biar aku yang menemuinya."
Sebelum Harris menaikkan kakinya ke atas. Mario sudah bersuara.
"Kalau boleh, saya izin ke kamar Inka, Mom Dad?" Mario meminta izin kepada Indah dan karel.
Wajah Harris sudah terlihat kesal.
"Silahkan, Son. Naiklah ke atas. kamar Inka persis di sebelah kiri dari tangga." Jawab Karel.
Lalu arah mata Mario menuju Indah dan Indah pun mengangguk tanda setuju.
Mario melangkahkan kakinya ke atas, ia mulai membuka hendle pintu kamar Inka perlahan.
Ceklek...
Inka menoleh dan segera menghapus airmata dengan telapak tangannya, setelah melihat Mario membuka pintu itu. Inka tengah berdiri di jendela, memandang lurus ke luar jendela, sambil melipat kedua tangannya.
Mario mendekati Inka. Keduanya hanya saling menatap.
"Kenapa menangis?" Tangan Mario meraih pipi Inka dan mengusap sisa airmata di sana.
Inka menggeleng.
"Kamu masih belum bisa memaafkanku?" Tanya Mario dengan wajah sedih.
Lagi-lagi Inka hanya menggeleng.
"Bukan itu, aku sudah memaafkanmu. Sungguh. Hanya saja aku tidak bisa ikut denganmu kembali ke Jakarta." suara Inka lirih di kalimat terakhirnya.
"Mengapa?"
"Di sini keluargaku, Kak. Aku betah di sini, dan aku tidak ingin meninggalkan mama. Aku belum siap."
Mario menunduk dan menghembuskan nafasnya kasar. Ia kecewa, terlihat dari sorot matanya yang tajam. Lalu, ia mengusap wajahnya kasar.
"Lalu?"
"Aku tidak ikut pulang bersamamu." Ucap Inka sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku masih ingin di sini." ucapnya lagi.
Ingin rasanya Mario marah, tapi lagi-lagi ia harus menahan emosinya.
"Cooling down, Mario. Sabar." Batinnya.
Ya, ia harus sabar menghadapi Inka yang keras kepala. Terlebih, di bawah tadi, Indah banyak menceritakan tentang Inka dan segala karakternya. Indah pun menceritakan, perubahan sikap putrinya paska perceraian mereka, padahal sikap Inka sebelumnya tak seperti itu.
"Baik, aku akan menunggumu sampai siap kembali lagi ke Jakarta. Mama dan Papa sangat merindukanmu." Kata Mario lembut.
"Maaf kak, aku sudah memaafkanmu, tapi aku tidak tahu masih bisa mempercayaimu atau tidak."
Jleb.. Hati Mario langsung mencelos. Benar kata Indah, perceraian yang terjadi pada orangtuanya, sangat berdampak dengan psikis Inka, ia seperti yang krisis kepercayaan.
Mario sangat menyesal dengan keputusan dadakan yang ia lakukan dulu. Ia merutuki keputusannya yang tidak dengan pemikiran matang, sehingga berdampak buruk di kemudian hari, seperti saat ini. Karena Inka bukan perempuan pemaaf, terlebih ini adalah sebuah penghianatan, sedangkan Inka trauma akan hal itu.
"Aku harus bagaimana? Kamu adalah hidupku, aku tidak bisa hidup tanpamu. Jika kamu membenciku, aku pun akan membenci diriku sendiri."
Inka menggeleng dan memeluk Mario. "Jangan, Jangan seperti itu!"
"Maaf, aku hanya perlu waktu." Inka menangis, rintihannya terdengar perih.
Mario pun ikut menangis dan memeluk erat tubuh itu. Menciumi seluruh wajah perempuan yang berada di hadapannya tanpa jarak.
"Beri aku waktu, Kak. Aku mohon!" Kepala Inka mendongak ke atas, menatap mata Mario.
Mario langsung meraih kepala Inka, Ia memeluknya lebih erat. Keduanya larut dalam isakan tangis masing-masing. Mario terus menciumi pucuk kepala Inka.
"Kamu jelek kalau nangis. Ngga pantes." Kata Inka meledek.
Mario tersenyum. "Aku pernah nangis sekali, sewaktu kehilangan saudara perempuanku. Setelah itu, baru kali ini, aku menangis lagi."
"Masa? Bukannya pas kehilangan Sasha kamu juga sedih sampai jadi pemabuk?" Inka tersenyum licik.
"Kata siapa?"
"Ada deh."
"Pasti Sukma."
Mario menggelitiki pinggang Inka. "Hayo, kata siapa? itu hoax."
Inka menghindari Mario dan berlari mengitari sofa yang berada di sana. Mario pun dengan cekatan mengejar istrinya, dan..
Hap.. "Kena!" Mario meraih pinggang Inka dan memeluknya. Merekapun jatuh di sofa. Inka menindih tubuh Mario. Nafas mereka tak beraturan, dada mereka naik turun.
Kemudian, keduanya hening sejenak, menikmati pandangan mata. Mario menyelipkan rambut ke belakang telinga Inka.
"Kamu mencintaiku kan?" Tanya Mario.
Inka terdiam, ia mengangguk. Lalu menggeleng.
Mario merubah posisi duduk mereka. Kini, Mario yang menindih Inka.
"Katakan kamu tidak mencintaiku?" Wajah Mario memerah.
"Aku tidak mencintaimu." ucap Inka.
Seketika, Mario langsung berdiri dan ingin meninggalkan Inka yang masih berbaring di sofa.
Inka bangun dan berkata sambil berteriak.
"Aku tidak mencintaimu, tapi aku mencintai Mario Jhonson, orang nyebelin yang suka seenaknya menggigit tubuhku."
Mario berbalik dan langsung menubruk tubuh Inka, hingga ia kembali berbaring.
"Menyebalkan." Teriak Mario sambil tertawa dan terus mengegelitiki pinggang istrinya.
"Ampun.. Tolong!" Inka tertawa geli.
"Ini hukuman orang yang menyebalkan." Mario terus menggelitiki pinggang Inka. Kemudian menggigit lehernya.
"Udah kak, stop!"
"Tuh kan di gigit lagi. Nanti merahnya ga hilang-hilang." Inka mengusap lehernya sambil cemberut.
Akhirnya Mario menyudahi aksinya. Nafas Inka masih terengah-engah setelah tadi tertawa terbahak-bahak.
Tak lama kemudian, Inka dan Mario turun ke bawah untuk menikmati makan malam yang sudah di sediakan Indah.
Inka mengambil makanan untuk suaminya.
"Segini cukup, Kak?" Tanya Inka dan langsung diangguki Mario.
"Cukup."
Indah dan Karel senang melihat pasangan mesra di hadapannya itu. Berbeda dengan Harris, ia menatap sinis Mario. Harris terlalu possesive terhadap adik sepupunya ini. Karena menurut Harris orang kaya selalu berbuat seenaknya, ia masih khawatir Inka akan di perlakukan yang sama seperti dulu lagi.
"Mario, kamu menginap di sini aja." Kata Karel.
"Benar itu." Indah menambahi perkataan suaminya.
"Jangan, Ma. Pakaian Mario masih di hotel. Di sini ga ada pakaian dia." Ucap Inka.
Ia hanya ingin malam ini bersantai. Sudah tiga hari dua malam, Inka di buat bergadang dan kelelahan. Ia ingin istiahat yang cukup malam ini, tanpa gangguan dari suaminya.
"Terima kasih, Mom Dad. Itu ide bagus." Mario menoleh ke arah Inka dengan senyum licik.
Inka hanya melihat malas sambil memonyongkan bibirnya. Mario semakin tersenyum lebar dan menaikkan kedua alisnya.