
"Besok, kamu berangkat jam berapa In?" Tanya Andreas, di tengah-tengah makan malam bersama Laras dan Mario.
"Jam 2 siang pa." Jawab Inka.
"Kalau begitu masih ada waktu istirahat dulu ya sayang." ucap Laras.
"Masih ada waktu paginya buat Mario manja-manja dulu sama Inka ma." celetuk Mario.
"Issh.. kamu nih." Laras mencubit lengan putranya. Andreas pun ikut tersenyum. Pasalnya saat ini, Inka tengah menguncir kuda rambutnya, sehingga terlihat jelas tanda merah di beberapa leher jenjangnya itu.
Sebenarnya, Mario tahu itu. Namun, ia membiarkan dan tidak menyuruh Inka untuk menutupinya. Inka yang tidak menyadari, hanya ikut tersenyum, membuat Mario semakin gemas terhadap istrinya itu.
"Kamu di sana dua bulan in? Akomodasi selama di sana sudah di siapkan?" Tanya Andreas lagi.
"iya pa.." jawab Inka terpotong karena Mario langsung menyelanya.
"Semua akomodasi sudah pasti, udah di siapkan donk pa. Mana mungkin Mario menelantarkan Inka di sana." Andreas hanya mengangguk mendengar penuturan Mario. Laras dan Andreas tahu persis, putranya saat ini benar-benar mencintai gadis yang ia nikahi.
"Lama ya sayang, mama pasti kangen." Kata Laras.
"Terus kamu nanti ga kangen istrimu, Yo?" Laras bertanya pada putranya yang masih asyik mengunyah makanan.
"Kalau kangen ya tinggal terbang ke sana ma, ga ada yang sulit zaman sekarang mah ma." Jawab Mario.
"Iyalah.. anak sultan mah bebas." Batin Inka sambil tertawa tipis.
"Kenapa kamu ketawa? seneng ya jauh dari aku?" Tanya Mario di telinga Inka.
"Suudzon kamu." ucap Inka masih dengan senyum tipisnya.
****
Hari ini, pertama kali Inka melakukan perjalanan jauh. Biasanya ia keluar negeri hanya sebatas Malaysia atau Singapura. Paling jauh ke Jepang bersama Cinta, Mely dan Jessy. Liburan semester tingkat akhir yang sudah di rencanakan sejak masih di bangku SMA, kemudian keempat sahabat itu menabung, hingga sampai ke negeri Sakura.
"Maaf ya, aku ga bisa antar kamu sampai Paris," ucap Mario pada Inka, setelah mereka berada di Bandara Soekarno Hatta.
Inka menggeleng, "engga apa-apa kak, ini aja aku udah terima kasih banget."
"Engga apa kak, lagian kalau kamu kangen kan bisa langsung terbang nemuin aku." Ucap Inka dengan tidak kesadaran penuh.
"Apa? Pe-De banget kamu In." Mario mengacak rambut Inka. "Sepertinya nanti kamu yang akan merindukanku, merindukan sentuhanku." ucap Mario lagi.
"Kalau perempuan tuh kuat nahan kaya gitu kak, kalau laki-laki ga bakal kuat, karena selalu produksi dua hari sekali."
"Apa yang produksi?" Tanya Mario menyeringai. Ternyata istrinya sudah tidak polos lagi.
"Apanya kek, udah gede ini." Jawab Inka ambigu, membuat Mario ingin menciumnya. Padahal tadi pagi, Mario sudah melakukan aksinya berkali-kali, untuk stok selama satu minggu kedepan atau lebih.
Mario memeluk erat sang istri, yang sudah mulai memasuki area yang tidak bisa di antarkan lagi.
"Jangan nakal ya!" ucap Inka asal.
"Kalau aku nakal, bagaimana?" Tanya Mario dengan meledek.
"Hmm.. terserah kamu." Inka menggoyangkan bahunya.
"Enggaklah, aku tipe cowo setia." senyum Mario bangga.
"Setiap Tikungan Ada?" Ledek Inka.
"Udah cepet sana jalan, nanti ketinggalan pesawat." Mario mendorong Inka dan menepuk bokongnya.
"Rese.." Inka memoyongkan bibirnya dari kejauhan.
****
Satu hari, dua hari berlalu. Mario merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Tak seperti biasa, ia semangat untuk pulang ke apartemen. Kini, ia malas untuk pulang dan lebih suka berlama-lama di kantor. Karena berada di apartemen, membuatnya selalu teringat akan sosok Inka yang sedang memasak, merapihkan pakaiannya, menata meja makan dan yang lainnya.
Hari keenam kepergian Inka ke Paris, membuat Mario tak bisa lagi menahan rindunya. Kemudian, ia melakukan vidio call terhadap istrinya itu. Selama ini, komunikasi mereka hanya melalui chat whatsapp, keduanya gengsi untuk terlebih dahulu mengungkap rasa rindu. Inka pun mengangkatnya, tepat di saat ia sedang ingin mandi. Membuat Mario begitu merindui tubuh itu dan ingin segera menjamahnya.
"Kamu, mandilah dulu! Nanti aku telepon lagi." ucap Mario di tengah video callnya. Inka menuruti dan memutuskan panggilan video itu.
"Aahh sial, aku harus solo lagi." gumam Mario sambil melempar ponselnya. Terpaksa ia langsung ke kamar mandi untuk berendam dan mencari ketenangan.