Istriku Canduku

Istriku Canduku
apa aku hamil?


Inka merapihkan pakaian Mario ke koper. Mario akan pulang ke Jakarta, hari ini. Awalnya Laras dan Andreas sangat senang, karena mereka pikir Mario bisa mengajak Inka ikut pulang bersamanya. Namun, mereka harus menelan kekecewaan. Tetapi, Inka mengobatinya dengan komunikasi langsung melalui video call. Ia menjelaskan pada kedua orang tua Mario bahwa akan segera pulang, setelah pekerjaannya selesai. Laras dan Andreas sangat senang, walau hanya berkomunikasi lewat media elektronik.


Mario mencium seluruh wajah Inka. “Aku pasti akan selalu merindukanmu.”


Inka tersenyum. “Aku juga.”


Inka saat ini, tengah mengantarkan Mario ke Bandar Udara Internasional Schiphol. Mereka berpelukan. Mario memeluk Inka erat, seolah ia tak ingin melepaskan tubuh itu.


“Kamu, jangan nakal ya!” seru Mario, seraya mengacak-acak rambut Inka.


“Sepertinya, itu dialog aku.” Inka merengek.


“Kamu yang jangan nakal di sana.” Inka berkata lagi.


Mario tertawa, “Aku ga bisa macem-macem, sayang. Karena di kepala dan hati ini Cuma ada kamu.”


“Hmm... Gombal terus.” Mario kembali mengacak-acak rambut Inka. Ia pasti akan sangat merindukan istrinya, mungkin tidak sampai tiga minggu, ia akan segera menjemputnya kembali.


****


Sudah satu minggu Mario berada jauh dari Inka. Keduanya hanya mengandalkan alat elektronik sebagai media penghubung melepas rindu. Kadang Mario juga meminta Inka menampilkan dirinya yang tanpa busana di sela-sela video callnya. Inka benar-benar merutuki kelakuan suaminya yang terlewat mesum. Entah mengapa ia menyukai pria ini? Pria gila menurutnya. Dan, ia mencintai pria gila itu dengan amat dalam.


Pekerjaan Inka kali ini di butik juga sangat menyita waktu. Biasanya hampir setiap hari, Mario menelepon Inka atau sebaliknya Inka yang lebih dulu menelepon Mario. Tapi hari ini, keduanya belum menanyakan kabar satu sama lain. Inka sibuk dan Mario pun sama, sehingga hari ini terlewat waktu untuk saling mengabari.


“In, wajahmu pucat. Istirahatlah dulu!” Kata Bella yang melihat Inka duduk di kursi kerjanya.


“Masa, sih.” Inka langsung merai cermin di tasnya dan melihat wajahnya di sana.


“Iya, ya. Mungkin karena tadi pagi aku terburu-buru, jadi ga sempet dandan.” Kata Inka lagi.


“ya sudah, jaga kesehatan, In. Aku tahu kamu lagi menyelesaikan semua ini sebelum Mario menjemputmu.” Ucap Bella sambil menepuk pundak Inka.


Inka mengagguk. “Aku berharap ini semua bisa selesai minggu depan, Bel. Jadi aku bisa pulang secepatnya.”


“Jadi, kamu juga ga sabar ingin pulang dan ketemu suamimu?” Tanya Bella tersenyum.


Inka mengangguk lagi malu.


Bella tertawa. “Kamu bikin om aku patah hati, In.”


“Oh, iya. Apa kabarnya Angel dan mas Pras, Bel? Aku sampai lupa menanyakan ini padamu, saking sibuknya.”


“Bukan sibuk, In. Tapi karena kamu sekarang sedang bahagia-bahagianya.” Ledek Bella.


“Mungkin.” Inka menjawab dengan senyum sumringah.


“Om Pras sekarang jadi lebih pendiam, in. Angel sudah memulai sekolah di Jakarta.” Ucap Bella dengan wajah sedih.


“Bel, aku minta maaf.” Inka memeluk Bella.


“Bukan salahmu, In. Itulah cinta, kita tidak bisa memilih untu mencintai siapa? Karena rasa itu datang dengan sendirinya.” Lagi\=lagi Inka memeluk sahabatnya itu.


“Terima kasih, Bel. Aku ngga tau harus bilang apa sama kamu. Kamu bener-benar sahabt terbaikku dari dulu.” Keduanya berpelukan erat.


****


Sinar matahari pagi menyinari jendela kamarnya. Inka terbangun, tapi tiba-tiba perutnya mual.


“Hoeek..” Inka memuntahkan isi perut yang belum terisi apapun.


“Hoeek..” Inka terus muntah, rasanya mual itu belum hilang.


Setelah merasa lebih baik. Ia membersihkan mulutnya dan coba mengingat apa yang terjadi.


“Apa aku hamil?” Inka bertanya pada dirinya sendiri, sambil memegang handuk yang di pakai untuk mengusap mulutnya yang basah.


Ia meraih ponselnya untuk mengecek kapan terakhir ia datang masa periode. Karena ia selalu mencatat jadwal datang bulannya, dan untuk di cocokkan waktu pertama kali Mario melakukannya di hotel. Namun, sebelum Inka membuka kalender di ponselnya, ada sebuah notifikasi pada aplikasi whatsappnya. Sebuah pesan dengan nomor tak di kenal, mengirimkan foto Mario bersama seorang wanita. Seorang wanita yang tidak Inka kenal sama sekali, tengah duduk dan berbincang hangat dengan Mario. Wanita itu pun merangkul Mario sambil tertawa bersama. Inka menutup mulutnya, rasa kepercayaan itu pudar kembali. Ia ingat sudah dua hari, Mario tak mengabari aktifitasnya. Biasaya ia akan lebih dulu menelepon Inka, ketika ia lupa untuk meneleponnya duluan.


Inka mencoba mengalihkan pikirannya dengan sibuk bekerja. Sesekali ia mengelus pertu ratanya.


“Apa kamu sudah ada di sini?” Inka bertanya pada dirinya sendiri sambil tersenyum.


Sepulang kerja, Ia mampir ke sebuah apotek terdekat. Ia membeli alat tes kehamilan. Rencanaya akan ia coba besok pagi.


“Ma, mama masak apa sih, baunya nyengat sekali?” Tanya Inka, ketika ia berada di dapur.


“Ini mama buatkan sup tom yam, kamu juga biasanya suka.” Jawab Indah. Lalu, Inka langsung menggeleng dan melangkahkan kakinya ke kamar. Ia ingin mengeluarkan sesuatu lagi dari perutnya. Aroma tom yam membuatnya mual.


Telepon Inka terus berdering berkali-kali, tapi selalu Inka abaikan.


Di Jakarta, Mario mulai frustrasi karena Inka tak menjawab sepuluh kali panggilan teleonnya hari ini.


Dret.. dret.. dret...


“Halo.” Kata Indah


“Mama, ini Mario.”


“Oh, iya nak. Apa kabar?’


“Baik, Mom. Oh iya Inka sedang apa ya Mom. Mario meneleponnya dari tadi tapi tak diangkat.”


“Sebentar mama lihat ke kamarnya.” Indah melangkahkan kai ke kamar Inka sambil teru memegang ponsel yang terhubung pada Mario.


“In..” Indah mengetuk-ngetuk kamar Inka berkali-kali, tapi tak ada jawaban.


“Yo, sepertinya, Inka sudah tidur. Mungkin dia lelah, tadi juga baru pulang terus langsung ke kamar.” Kata Indah menenangkan Amrio.


“Baiklah, Mom. Terima kasih. Tolong sampaikan pada Inka, Mario tidak bisa menjemputnya minggu depan, karena Mario masih belum bisa meninggalkan pekerjaan di sini.”


“Baiklah, Yo. Nanti mama sampaikan,”


“Terima kasih, Mom.” Ucap Mario.


“Sama-sama, nak. Salam buat orang tuamu.”


“Iya, Mom.”


Kemudian Mario menutup teleponnya.


“Maaf, sayang. Aku masih belum bisa menjemputmu, padahal aku sudah rindu sekali.” Gumam Mario.


Memang, saat ini Mario tengah sibuk. Kehadirannya tidak bisa di wakilkan oleh siapapun, sepeninggalnya dua minggu di Belanda kemarin, banyak pekerjaan yang memang harus dengan kehadirannya yang tertunda. Sehingga Mario harus menyelesaikannya kali ini, sebelum ia kembali lagi ke negara di mana istrinya berada saat ini.


Dret.. Dret... Dret..


Ponsel Mario berdering. Ia langsung meraihnya dengan cepat, berharap Inka menelponnya balik. Ternyata yang tertera di sana bukan “My life” melainkan “Reiko” mantan kekasihnya yang berkewarganegaraan Jepang.


Mario meletakkan kembali ponselnya, ia tidak ingin menanggapi wanita yang pernah memanjakannya selama mereka berpacaran hampir satu tahun itu. Mario dan Reiko pernah “live together” selama Mario mengasah kemampuan teknologi dan media cybernya lebih dalam di negera sakura itu.


#FlashBack On


Dua hari lalu, Mario bertemu dengan Reiko di sebuah hotel. Kebetulan, Reiko membuka bisnis advertising digital di sini, dan berkantor di Jakarta. Mario yang sedang berjalan cepat untuk menemui kliennya. Tiba-tiba menubruk seorang wanita cantik berkulit putih, bertubuh kecil langsing, dengan mata yang agak sipit. Pakaiannya yang terbuka, mennunjukkan tubuh putihnya bagai poselen. Mario yang tengah asyik menerima telepon sambil berjalan tergesa-gesa itu, membuat dirinya tak melihat ada sosok wanita di hadapannya.


Wanita itupun terjatuh, karena terbentur dada bidang Mario. Kemudian, Mario langsung mematikan sambungan teleponnya dan menghampiri wanita yang ia tabrak tadi.


“Mario.” Sapa wanita itu, sambil mengulurkan tangannya untuk meminta Mario membantunya berdiri.


“Reiko?’ Tanya Mario.


“Iya aku, Hai apa kabar?’ Tanya Reiko senang. A menghamburkan pelukan pada Mario.


Mario hendak menghindar, tapi Reiko lebih dulu menagkap tubuh tegap Mario.


“Baik. Kamu sendiri apa kabar?” Tanya Mario, sambil berusaha melepaskan pelukan itu.


“Aku juga baik, dan hmm.. tambah cantik bukan?’ wajah Reiko tersenyum sumringah.


Mario mengeryitkan dahinya, memang wanita ini tak pernah berubah, selalu percaya diri.


“Ya.. ya, cantik. By the way, aku buru-buru, ada klien yang menungguku di sana.” Mario menunjuk kursi jauh di pandangan lurusnya.


“Oke, aku akan menunggumu di sini, sampai selesai.” Jawab Reiko. Kemudian Mario hanya mengangguk.


Reiko sudah tiga bulan di Indonesia, ia berharap bisa bertemu dengan Mario, selama ia di sini. Akhirnya keinginannya terwujud. Ia menemukan Mario, dan tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.


Selesai, Mario dengan urusannya. Ia melangkahkan kaki untuk keluar. Namun, tak di sangka, Reiko menunggunya di lobby hotel.


“Loh, kamu belum pulang?” Tanya Mario bingung.


“Tadi kan, aku bilang akan menunggumu hingga urusanmu selesai. Aku ingin ngobrol-ngobrol denganmu, Yo. Sudah lama sekali kita tak bertemu.” Jawab Reiko.


“Baiklah.” Mario mengangguk.


Kemudian, mereka berbincang. Mario menceritakan bahwa dirinya sudah menikah, ia juga menceritakan bahwa akhirnya ia menemukan cinta. Reiko hanya mendengar cerita Mario, karena Mario begitu antusias menceritakan kisahnya bersama Inka. Reiko hanya tersenyum tipis, ia memaksa bibirnya untuk bisa tersenyum, tatkala menanggapi semua cerita Mario.


Di seberang, Mario yang tengah duduk bersama Reiko. Sudah sepasang mata yang mengamati kebersamaan mereka. Ya, pria itu adalah Pras. Pras sengaja memfoto, ketika Reiko merangkul manja Mario sebelum Mario menceritakan kisahnya pada istri yang ia cintainya itu.


Pras tersenyum, melihat hasil jepretannya. Lalu ia kirimkan pada Inka dengan nomor barunya.


#FlashBack Off