Istriku Canduku

Istriku Canduku
tidak ada pria sebaik kamu


Indah menatap foto yang tengah tertawa berdua bersama Karel sepuluh tahun silam. Di rumah ini, Indah mulai membuka hatinya, memberi ruang pada pria Belanda yang memiliki keluasan hati. Awalnya Indah tak mencintai pria ini, hingga saat ia melamar dan meminangnya pun, ia tak mempunyai rasa. Saat itu ia seperti mati rasa. Namun, ia butuh teman cerita, ia butuh seseorang yang dapat mengerti perasaannya, ia butuh seseorang yang perhatian padanya. Hingga Karel hadir dengan sejuta ketulusan.


Karel hanyalah sebagai pelampiasan kekecewaannya pada Raka. Karel hanyalah pelampiasan untuk mendapatkan perhatian dan pelukan dari seorang pria. Di tambah anak laki-laki Karel yang pada saat itu pun sangat perhatian, membuat Indah semakin nyaman dengan keluarga ini.


Indah menangis lagi, kala ia mengingat semua kebaikan Karel. Ia satu-satunya pria yang mengerti dirinya. Sungguh tempatnya tak tergantikan oleh siapapun.


“Tidak ada pria sebaik kamu. Mengapa kamu tidak pernah bilang penyakitmu? Mengapa kamu pendam sendiri? Mengapa?” Indah bergumam dengan deraian air mata di tengah malam, di kamar yang kini sunyi sepi, dan hanya ada ia seorang. Ia menyesali tindakan Karel yang tidak pernah mau berbagi kesedihannya. Indah hanya selalu di beri hal-hal yang baik dan membahagiakan hatinya saja.


Indah menangis lagi. Ia tak mampu untuk memejamkan mata, karena sudah terbiasa dengan tangan Karel yang selalu memeluknya di kala malam.


#FlashBack On


Dua minggu sebelum Karel meninggal. Ia merasakan nyeri di dada yang cukup hebat. Saat itu, Indah tengah bersama Inka dan kedua anaknya, juga baby sitternya untuk berbelanja di supermarket terdekat. Sedangkan Mario sedang berada di kamarnya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan lewat virtual.


Karel memegangi dadanya, hingga ia tersungkur dan mencoba untuk berdiri sendiri. Ia meraih obat yang ia simpan di dalam laci kerjanya. Sudah dua tahun terakhir, Karel mengalami ini, dan ini adalah sakit yang terhebat yang ia rasakan. Biasanya Karel akan ke rumah sakit sendiri, dengan alasan akan memeriksa beberapa pekerjaan di luar. Entah mengapa ia tak mau memberitahu hal ini pada istrinya. Ia hanya ingin Indah mendengar kata-kata bahagia, sudah cukup penderitaan Indah selama ini. Karel menjadi saksi betapa istrinya itu sangat menderita jauh dari puterinya, puteri satu-satunya yang ia tinggalkan. Karena di satu sisi Karel pun tak ingin di tinggalkan, sejujurnya ia senang dengan keputusan Indah yang lari dari keluargnya.


“Maaf, Schart. Sepertinya aku tidak bisa lagi menemanimu. Sepertinya waktuku tidak akan lama lagi. Namun, kini aku akan lebih tenang meninggalkanmu, karena Inka pasti akan menemanimu.” Kata Karel pada foto Indah yang tercetak dalam bingkai yang di tempatkan di meja kerjanya.


Hingga di tengah malam, Karel merasakan lagi nyeri yang begitu hebat. Lalu ia menahannya hingga menjelang pagi, ia tak lagi mampu bernafas. Ia menghembuskan nafas panjang dan berat. Lalu, jantungnya tak lagi berdetak.


Indah mengetahui, setelah matahari menampakkan dirinya.


#Flashback Off


Di Jakarta, Inka tak pernah absen untuk menelepon sang ibu yang jauh di sana. Sesungguhnya ia masih sangat khawatir meninggalkan Indah dalam keadaan seperti ini, tapi ia pun tak bisa melalaikan tugasnya sebagai istri. Mario pun membutuhkannya di sini.


“Sayang, kamu sudah telepon mama?” Mario melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Inka.


“Ya, baru saja selesai. Mama menitipkan salam untukmu.”


Mario mengangguk, kepalanya terasa bergerak karena dagunya menempel di bahu Inka.


“Aku tahu kamu di lema. Aku tahu sebenarnya kamu ingin menemani, Mama.” Ucap lirih Mario.


Inka menggeleng. “Kamu tetap prioritas, Kak. kamu dan anak-anak”


Mario tersenyum dan membalikkan tubuh Inka. “Kamu paling bisa membuat hatiku senang.”


Mario terus mengelus pipi Inka dan sekali-kali melirik ke bibirnya.


“Mama hanya ingin membereskan urursannya dulu di sana. aku yakin setelah itu, Mama akan ke sini. Lagi pula mama tidak sendiri.” Jawab Inka.


Mario mengangguk. Kemudian memeluk tubuh Inka dan menggiringnya ke dalam.


“Ayo ke dalam! Di sini semakin dingin, Sayang.”


“Ingin aku hangatkan?” Ledek Inka, yang langsung di sambut dengan senyum menyeringai suaminya.


****


Kabar kepergian Karel, telah sampai ke telinga Raka. Itu pun melalui Adhis. Inka hanya memberi kabar pada adiknya itu persis pada saat Inka masih di Belanda. Sedangkan Kabar kepergian Desi, telah Indah ketahui, persis satu hari setelah hari meninggalnya Desi, karena pada saat itu seharusnya Inka dan Mario tengah bersiap-siap untuk terbang ke sana menghadiri pernikahan Harris dan Bella.


Hingga saat ini, tidak sedikitpun terbesit di benak Indah akan kembali pada Raka, karena sosok Karel sangat membekas di hatinya. Namun tidak untuk Raka, ia seperti senang mendengar kabar meninggalnya Karel. Ia pun sering menanyakan pada Inka, kapan Indah akan tinggal di rumahnya? (Ih papa Raka ngarep beud yak..)