Istriku Canduku

Istriku Canduku
Aku akan setia sampai tua


Di kediaman Andreas, Inka praktis tak melakukan apapun, ia hanya makan dan menyusui. Laras melarang Inka untuk memasak atau melakukan pekerjaan di dapur, karena ia tahu persis bagaimana lelahnya mengurus bayi kembar.


"Ma, Ka Rio di mana ya? Inka ngga lihat dia dari tadi." Tanya Inka pada Laras, saat mereka berada di kamar si kembar.


Andreas memang sudah menyulap satu kamar untuk Maher dan Mahira. Ia ingin kedua cucunya merasa nyaman dan seperti di rumah sendiri, ketika sedang berkunjung ke sini.


"Baru setengah jam di tinggal, udah bilang ngga lihat dari tadi." Ledek Laras.


"Ih, Mama.." Inka tersipu malu, setelah meletakkan Mahira ke box bayi.


"Sepertinya Mario ada di garasi, paling lagi otak atikin motor kesayangannya." Inka mengeryitkan dahinya, ia baru tahu kalau suaminya punya motor kesayangan.


Laras memegang box bayi itu, dan mencondongkan tubuhnya untuk mendekati cucunya satu persatu dengan seksama.


"Mama gemes banget deh liat anak-anak kalian. Hmm..." Laras menelus pipi gembul Maher dan Mahira.


Inka tersenyum dan ikut memandangi kedua anaknya dan berkata.


"Alhamdulillah, Ma."


"Iya, alhamdulillah." Laras memeluk Inka dari samping. Ia sungguh bahagia melihat putranya bahagia bersama anak dan istrinya.


Lalu Inka, meninggalkan si kembar yang sudah terlelap tidur di sore hari. Ia mencari keberadaan suaminya.


"Kak, lagi apa?" Tanya Inka pada Mario yang tengah asyik memainkan gas motor di garasi belakang.


"Eh, sayang." Mario menoleh ke arah Inka, sambil tetap di depan motor kesayangannya.


"Maaf ya aku tinggal kalian sebentar. Udah lama aku ngga pegang motor ini." Kata Mario lagi.


"Ngga apa kok. Aku malah ngga tau kalau kamu punya motor kesayangan." Jawab Inka.


"Iya, ini motor Ducati pemberian papa, semasa SMA. zaman masih suka ikut balapan."


"Wuih, kamu pernah ikut balapan di sirkuit?" Tanya Inka sumringah.


"Iya, tapi cuma sebentar. karena papa ngga suka dan langsung narik aku kuliah keluar negeri."


"Berarti ini motor kenangan kamu sama Sasha?" Tanya Inka lagi, dengan nada meledek sambil mensedekapkan kedua tangannya di dada.


"Apa sih, Sayang." Jawab Mario melirik.


"Iya kan ini motor zaman kamu SMA, berarti pas kamu lagi pacaran sama Sasha jalannya pakai motor ini, kan?"


"Ya, kenapa harus bawa-bawa nama Sasha."


"Ya, engga apa-apa. Aku cuma tanya aja."


"Ya udah, gimana kalau kapan-kapan kita jalan pakai motor ini."


Inka menggeleng. "Ngga mau, aku mau nya pakai motor baru, karena ini bekas kenangan kamu sama orang lain."


"OMG, Sayang." Mario merangkul leher Inka.


"Ternyata kamu posesive juga ya?" Mario semakin mengeratkan tangannya, hingga kepala Inka menempel di dadanya.


Inka tersenyum menampilkan jejeran giginya.


"Oke, aku akan pesan motor sport baru." Kata Mario lagi.


Inka tertawa. "Aku bercanda, Kak. Serius banget"


"Tapi aku serius, Sayang. Ini bisa di hibahkan ke orang lain."


"Jangan! Sayang, Kak."


"Sayang aku apa sayang ini." Kata Mario menunjuk dirinya dan motornya.


"Sayang inilah." Inka menunjuk ke motor sport Mario.


"Awas ya!" Mario mencoba menangkap tubuh istrinya yang sudah mencoba menjauh.


Mario mengejarnya.


"Aaa.." Inka berlari lagi, karena terkejut melihat Mario yang akan mengejarnya.


Inka berlari hingga ke dapur dan langsung berlindung di belakangnya.


"Mama, tolong! Anak mama nih, nakal dan suka ngegigit."


Mario tertawa. "Lagian siapa suruh bangunin macan tidur, jadi siap-siap di gigit."


Laras senyum.


"Karena, papanya juga suka ngegigit, In." Jawab Laras.


"Ya ampun, pantesan. jadi papa seperti itu juga. Ma." Ucap Inka tak percaya. Pasalnya Andreas begitu berwibawa, sangat tidak terlihat kalau mudanya Andreas juga seperti Mario.


Laras mengangguk.


"Tuh, Sayang. Aku mirip papa. Sudah terbukti kan kalau papa selalu setia sama mama hingga tua. Aku juga akan seperti itu."


Inka mencibir, memajukan bibirnya sambil menggeleng.


"Kalau papa aku percaya, tapi kalau kamu, hmm..." Inka mengetuk-ngetuk dagunya.


"Tuh kan, Ma. Menantunya nyebelin banget kan? Gimana Mario ngga kesel coba."


Mario dan Inka saling bertatapan, mencibir, dan tertawa. Laras hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan anak dan menantunya itu.


"Udah ah, mending mama temenin papa aja." Laras tersenyum dan mengedipkan matanya saat meninggalkan Inka yang masih berlindung di tubuhnya.


Tiba-tiba Andreas datang. "Ada apa sih, dari tadi sebut-sebut nama papa."


"Ih apaan sih, Pa. Jangan ikut-ikutan seperti Mario. Udah tua, inget umur." Laras langsung menggandeng suaminya, lalu berjalan meninggalkan Inka dan Mario.


"Lah tadi papa denger ada yang bilang papa setia. Siapa tadi yang bilang?" Ucap Andreas yang masih menolehkan kepalanya ke arah Inka dan Mario, walau tangannya sudah di tarik Laras.


"Ih, si opa narsis, pengen banget di sebut pria setia." Cibir Mario pada ayahnya.


"Lah kan emang kenyataan." Jawab Andreas.


"Udah deh, Pa." Laras menggandeng Andreas.


"Mario, kamu urus istrimu. Mama akan urus suami mama. Oke!" Laras mengedipkan satu matanya, sambil membentuk huruf 'O' pada ibu jari dan telunjuknya ke arah Mario.


Inka mengeryitkan dahinya, melihat ke kompakan ibu dan anak itu.


Selang beberapa detik, Mario langsung membopong Inka seperti karung beras, membuat Inka terkejut dan terus memukul pundak Mario.


"Kak.. turunin."


"Ngga akan. Pokoknya harus dapet hukuman dulu karena kamu ngga percaya sama aku."


"Iya, iya, aku percaya. Kak.." Rengek Inka dengan menghentakkan kakinya yang masih berada di punggung Mario.


Namun, hal itu tak di gubrisnya. Mario tetap melangkahkan kakinya menuju kamar dan membanting tubuh Inka di ranjang. Ia pun sudah melepaskan kaos oblong putih yang melekat di badannya.


"Stop!" Telapak tangan Inka di angkat, saat Mario tengah mendekat padanya.


"Kita harus siap-siap, sebentar lagi kan mau ke rumah Bianca. Katanya kamu mau temenin Dhani melamar Bianca kan?" Kata Inka lagi.


"Oh itu bisa di atur, masih ada waktu dua jam lagi untuk, hmm.." Mario menaik turunkan alisnya.


Sungguh ekspresi Mario yang seperti ini yang paling menyebalkan menurut Inka.


"Nanti kamu bakalan trrlambat." Inka tetap menahan dada bidang Mario.


"Dhani pasti maklum."


"Iih.. Kak." Teriak Inka saat Mario sudah menggigit lehernya.