Istriku Canduku

Istriku Canduku
~bonus chapter 1~


Enam bulan kemudian...


Inka mentap intens wajah suaminya yang masih terlelap. Mario memeluk erat istrinya dari samping, wajahnya menempel pada pundak Inka yang polos. Entah ini penyatuan yang ke berapa ratus ribu, jika di hitung dari awal mereka menikah.


Inka menggeser tubuhnya, mengangakta satu tangannya untuk menyentuh wajah tampan suaminya. Inka menyentuh kedua mata Mario dengan jari telunjuknya. Kemudian beralih pada hidung dan bibirnya.


"Hmm.." Mario menggeliat, karena sensai geli yang di rasakan pada wajahnya.


Mario mulai membuka kedua matanya, dan tersenyum melihat Inka yang sudah memasang senyum manisnya terlebih dahulu.


"Selamat pagi, Sayang." Ucap Inka.


"Pagi, My Queen." Jawab Mario, merengkuh kembali tubuh Inka yang mulai mengendurkan pelukannya.


Mario memeluk erat tubuh Inka seperti guling, lalu mengecup pundak dan area belakang tubuh Inka yang polos dengan lembut.


"Maher dan Mahira sudah jalan?"


Inka mengangguk.


Weekend ini, Maher dan Mahira di ajak Indah dan Raka ke puncak miliknya. Raka yang masih terus meminta Indah untuk menjadi istrinya, mengajak kedua cucu mereka menuju vila yang di sukai Inka. Di sana, Raka pun sudah menyiapkan taman berbagai bunga yang memang ia pelihara sendiri untuk Indah. ia memang sudah mempersiapkan tempat ini untuk wanita yang sangat di cintai, sialnya rasa itu baru ia sadari setelah Indah pergi.


"Kita pacaran lagi?" Mario menaik turunkan alisnya.


Inka tertawa, karena sudah pasti akan seperti ini tingkah Mario, jika mereka berdua, seperti pengantin baru saja.


"Mau jalan-jalan kemana?" Tanya Mario yang masih memeluk Inka dari belakang.


Suara Mario tepat berada di telinga Inka.


"Bantuin aku bikin kue."


Mario langsung menggeleng, dan Inka membalikkan tubuhnya.


"Aku hanya buat berantakan dapur, kalau membantumu membuat kue." Ucap Mario, mengingat ketika dapur yang berwarna grey, tiba-tiba berubah menjadi putih karena tepung berada di mana-mana.


Inka tertawa tak berhenti. Mario pun mengulas senyum, ia suka melihat istrinya tertawa.


"Kamu semakin cantik." Mario semakin gemas memeluk tubuh istrinya.


Memang, semakin bertambah usia, Inka semakin terlihat cantik dan sexy, aura wanita dewasanya semakin terpancar. Ini semua juga berkat uang suaminya yang menunjang kebiasaan Inka and the genk yang tak pernah absen untuk mempercantik diri di salon langganan mereka. Selain harus tetap merawat diri karena memiliki suami yang 'waw', sekalian ajang mereka juga untuk bertemu, bergosip ria dan ketawa ketiwi. Hadeh..


"Jadi, kita mau kemana?" Tanya Inka, setelah tawa sedikit terhenti.


Mario mengerdikkan bahunya. "Di rumah aja juga boleh, Bagaimana kalau kita seharian di kamar saja?"


"Hmm.. itu mah maunya kamu." Inka memukul pelan lengan Mario, sambil tertawa.


Ting...


Notifikasi ponsel Inka berdering.


Inka meminta Mario untuk melepaskan pelukannya. Lalu, ia berjalan ke sofa di seberangnya. ia meletakkan ponselnya di meja itu. Saat akan berjalan, ia kesulitan melilit tubuhnya dengan selimut tebal itu.


Mario malah tertawa melihat istrinya yang kesulitan menutupi tubuhnya yang polos.


"Udah sih, ngga usah pakai ini." Mario mendekati Inka dan menarik selimutnya.


Inka mencibir, bibirnya langsung di monyongkan.


"Ish.. kamu rese banget."


"Lagian ngga usah malu, aku sudah sering melihatmu polos." Ucap Mario menyeringai.


"Ini kunci lemarinya mana? Kok lemari di kunci semua." Tanya Inka pada Mario yang masih menyandarkan tubuhnya di dinding tempat tidur.


"ini! sama aku." Mario menggoyangkan ke atas kunci yang ia pegang.


"Kenapa di kunci? aku mau pakai baju." Rengek Inka, yang tak melihat bajunya di mana pun, bahkan di lantai pun tak ada.


"Kan tadi aku bilang, hari ini kita di kamar saja, dan kamu tidak usah pakai baju."


"Hmm... mulai deh nyebelinnya." Inka menyilangkan kedua tangannya di dada, sambil menyandarkan diri pada lemari besar yang tak bisa terbuka itu.


Mario membalas dengan senyum licik. "Aku mau mengulang pertemuan kita di hotel Belanda, saat kamu tiga hari tak pakai sehelai benangpun."


Inka menghampiri suaminya. Lalu mencekik pelan leher Mario.


"Nyebelin.. nyebelin.." Rengek Inka


"Tapi cinta kan?"


"Cinta banget."


Inka pun memeluk kepala Mario dan tangan Mario melingkar pada perut Inka.


"Jangan buat aku jantungan lagi ya!" Mario menengadahkan kepalanya, melihat wajah Inka.


Inka mengangguk.


Lalu, Inka kembali menuju ponselnya di sana, karena deringan notifikasi kembali berbunyi.


Mario pun menurunkan kakinya dari tempat tidur.


"Sayang, mau minum apa?" Tanya Mario setelah wajahnya menempel di pundak terbuka Inka.


Inka masih sibuk membalas whatsapp dari Bianca.


"Aww..." Teriak lirih Inka, saat Mario.menggigit pundaknya.


"Lagian, di tanya ngga di jawab." Rengek Mario, sambil mengusap pundak Inka.


"Maaf, lagi serius tadi." Jawab Inka yang kemudain sudah meletakkan kembali ponselnya ke meja dan membalikkan tubuhnya.


"Hmm.. seperti biasa. aku mau coklat hangat."


"Dari dulu pasti itu, tidak mau coba yang lain?" Tanya Mario, yang memang sudah hafal minuman kesukaan Inka.


Inka menggeleng.


"Dari dulu sampai sekarang, aku juga maunya kamu, tidak mau mencoba yang lain." Ucap Inka asal.


Mario langsung membulatkan matanya dan menggendong Inka.


"Aaa.. ampun." Teriak Inka, sambip tertawa.


"Ngga mau tau, karena kamu buat aku kesal, jadi harus di hukum." Mario menggendong Inka dan membantingnya di ranjang.


"Ampun, Hubby.. Ampun, sayang. Jangan sekarang! Bianca menunggu email dariku." Inka menahan kepala Mario yang akan mencumbunya lagi.


"Ngga peduli." Mario tetap melancarkan aksinya.


Namun, Inka bukannya marah, malah tertawa. Ia memang sudah sangat mengerti Mario.