Istriku Canduku

Istriku Canduku
penyesalan seumur hidup


Indah, Karel, dan Inka memasuki rumah Raka. Inka meninggalkan bayi kembar mereka di rumah, bersama kedua baby sitter dan Sukma. Inka juga sudah izin pada Mario melalui telepon, ia menjelaskan kronologis kedatangan Adhis hingga ia berada di rumah Raka saat ini.


"Pantas saja papa tidak bisa di hubungi beberapa hari terakhir ini." Kata Inka, setelah bertemu sang ayah.


Sepulang Raka dari rumah Inka, tepatnya satu bulan yang lalu, ia mendapat telepon dari Adhis pada saat menyetir. Adhis memberi kabar bahwa ibunya kecelakaan, ketika tengah membawa kendaraannya sendiri.


Ternyata Desi tahu kalau saat ini Indah juga tengah ada di rumah Inka. Ponsel Raka yang berada di dalam sakunya terpencet, Desi mengangkat telepon itu, dan mendengarkan percakapan Raka dan Indah, ketika Raka menyapa dan memeluk Indah. Desi juga mendengar peringatan Indah, yang meminta di lepaskan dari pelukan Raka. Hal itu membuat Desi menangis dengan kondisi yang masih menyetir. Ia shock karena ternyata, hingga detik ini Indah masih bersemayam di hati Raka. Padahal ia sudah berusaha untuk menjadi istri yang penurut dan ibu sambung yang baik untuk Inka. Ia pikir akan dengan mudah merebut Raka kembali dari sisi Indah. Ternyata semua perkiraannya salah. Bahkan ia sempat melihat beberapa hari yang lalu, foto Indah yang masih di simpan dengan sangat rapih pada laci meja kerja Raka.


Pikiran Desi melayang. Ia mengingat semua hal yang ia lakukan untuk merebut Raka. Ia juga mengingat semua hal yang membuat dirinya yakin bahwa Raka sangat mencintai Indah hingga detik ini. Ia sadar bahwa selama ini, ia hanya memiliki raga Raka, tapi tidak dengan hatinya. Tiba-tiba, setir Desi hilang kendali. Ia tak lagi berkonsentrasi menyetir. Ia mengemudi dengan kecepatan tinggi di jalur bebas hambatan. Ketika hendak berbelok, setirnya di putar terlalu ke kanan, dan ketika ingin mengerem yang di injak malah pedal gas. Akhirnya, terjadilah kecelakaan itu, tepat di ruas tol lingkar luar arah Pondok Indah - Pasar Minggu. Ia tengah berjalan pulang, setelah mengikuti Raka yang berhenti dan masuk ke rumah Inka.


"Mengapa kami tidak di beritahu tentang kecelakaan itu, Pa?" Tanya Inka yang sedang duduk di ruang tamu, sambil menunggu Desi yang tubuhnya sedang di bersihkan Adhis.


"Desi tidak mau merepotkan kalian." Jawab Raka, yang juga di dengar oleh Indah dan Karel.


"Kata Adhis, Desi lumpuh, apa bisa di pulihkan dengan terapi?" Sahut Indah.


Raka menggeleng. "Dokter bilang, ini permanen, karena ada bagian yang memang sudah tidak bisa di perbaiki."


"Kalian bisa coba ke luar negeri untuk melakukan pengobatan." Karel angkat bicara.


"Desi tidak mau, padahal saya sudah membujuknya."


Beberapa saat kemudian, Adhis keluar dari kamar Desi.


"Mama Indah, mama Desi ingin bertemu." Adhis mengajak Indah untuk memasuki kamar ibunya.


Indah melangkah perlahan, mengikui kaki Desi. Ia melihat sekeliling rumah yang dulu pernah ia tinggali bersama Raka. Desain dan interiornya sama sekali tidak berubah, Indah ingat betul posisi furniture rumah ini, semuanya masih sama, karena ia sendiri yang menatanya pada saat Raka baru membeli rumah ini. Ya, Raka melarang Desi untuk memgubah ataupun memindahkan seluruh barang yang sudah tertata di sini, walau awalnya Desi kesal, tapi ia tetap menuruti keinginan suaminya itu.


"Desi.." Indah menghampiri Desi yang sedang berbaring, dan tak bisa duduk, walau hanya bersandar pada dinding tepat tidur. Ya, kecelakaan itu mengakibatkan tulang ekor Desi retak. Ia hanya bisa berbaring terlentang dan tak bisa melakukan apapun lagi.


"Indah, maafkan aku." Air mata Desi mengalir deras, sejak Indah hendak menghamprinya.


Indah memeluk Desi. Tubuh Indah menunduk, agar lebih dekat pada Desi yang sedang berbaring.


"Maafkan aku, Ndah. Maafkan aku yang telah merebut Raka darimu." Desi kembali menunpahkan air mata di pundak Indah.


"Sudahlah, semua sudah takdir. Sejak dulu, aku sudah memaafkanmu. Tidak ada kata merebut, jika Raka sungguh mencintaiku, dia tidak akan tergoda. Kesalahan bukan hanya padamu." Indah mengelus pundak Desi.


Desi kembali menangis.


"Aku sadar, ketika Adhis diperlakukan buruk oleh suaminya. Ini adalah karma atas apa yang aku lakukan padamu."


Indah mngeryitkan dahinya. Ia merasa tak percaya.


"Apa benar, aku masih ada di hatinya?" Batin Indah.


Kalaupun jawaban adalah 'iya', Indah akan tetap memilih Karel yang selalu ada di saat-saat ia terpuruk.


Selang beberapa menit kemudian, Inka dan Karel pun ikut masuk dan menemui Desi.


Inka pun menangis melihat kondisi ibu sambungnya yang sangat memprihatinkan. Desi memang tidak pernah jahat pada Inka, hanya terkadang Adhis lebih sering di dahulukan, wajar saja karena Adhis memang anak kandungnya.


"Ma, coba pengobatan keluar negeri ya? Inka akan meminta Mario untuk mengaturnya." Ucap Inka. Desi dan karel pun mengangguk setuju.


Tapi Desi mengeleng.


"Tidak perlu, In. Mama akan dirawat Adhis di sini. Terima kasih atas perhatianmu." Mata Desi masih berkaca-kaca.


Karel selalu memegang tangan Indah, menguatkan dan berkata dalam bahasa tubuh bahwa ia tak sendiri.


Raka melihat semua itu. Ia melihat betapa cintanya Karel pada Indah. Mungkin memang benar, ia tak akan pernah bisa lagi menjadi teman hidup Indah sampai kapanpun, karena posisinya sudah lama tergantikan oleh Karel. Wajar saja, jika pada saat itu ia lebih memilih Karel dan rela meninggalkan putrinya sendiri yang sedang beranjak dewasa yang membutuhkan sosok ibu untuk di jadikan sahabatnya.


"Kapan kalian kembali ke Belanda?" Tanya Raka dengan arah mata menuju Indah, lalu berbelok ke wajah Karel.


"Lusa." Jawab Karel.


"Oh. Maaf jika aku tak bisa mengantarkan kepulangan kalian." Kata Raka lagi.


"It's oke. Tidak masalah." Jawab Karel.


Dua jam mereka.berada di rumah Raka, sampai akhirnya Inka pamit, karena Tari menelepon bahwa si kembar mulai rewel dan tak bisa di tenangkan.


"Salam papa pada Maher dan Mahira. kapan-kapan papa akan ke rumahmu lagi." Kata Raka sambil melambaikan tangannya, ketika Inka akan masuk ke dalam mobil.


"Salam juga untuk Mario." Teriak Raka lagi, yang langsung di angguki putrinya.


Raka berdiri di depan rumahnya hingga mobil Inka tak terlihat.


"Kamu beruntung Mario, kamu bisa memilih dan bisa tidak tergoda oleh wanita pertamamu. Tidak seperti aku, yang selalu di terpa penyesalan seumur hidup atas kebodohanku." Batin Raka.