Istriku Canduku

Istriku Canduku
merajuk 1


“Hari ini, kamu ke butik?” Tanya Mario, di sela-sela aktifitas Inka yang tengah memakaikannya dasi.


Inka mengangguk. “Iya, nanti aku berangkat agak siang.”


“Pulangnya aku jemput.” Kata Mario, yang langsung di angguki Inka di iringi senyum manisnya.


“Selesai.” Ucap Inka, Setelah memasangkan rapih dasi Mario.


Ia menepuk dada suaminya. “Udah ganteng.”


Mario menangkap pergelangan lengan Inka yang masih menempel di dadanya, lalu mengecupnya.


“Oiya, Sayang. Aku lupa, lusa aku ada urusan bisnis ke Dubai. Kamu temani aku ya?”


Inka terdiam, ia mengeryitkan dahinya. Pasalnya orderan gaun pengantin bulan ini lumayan banyak, dan semuanya deadline.


“Berapa hari?” Tanya Inka.


“Satu minggu, bahkan bisa lebih. Makanya, aku minta kamu menemani, kalau perlu ajak Tari dan Ambar agar kamu tidak repot mengurus Maher dan Mahira.”


Inka masih terdiam dan berpikir.


Andreas tengah membuka akses jaringan bisnisnya ke negara Timur Tengah. Biasanya, Andreas langsung yang akan pergi ke sana di temani Laras, mengingat saat ini Mario sedang di butuhkan di keluarga kecilnya. Namun, saat ini kesehatan Andreas sedang tidak baik. Ia di anjurkan dokter untuk beristirahat dalam beberpa minggu.


Mario selalu membawa Inka, ketika ada perjalanan bisnis yang memakan waktu lebih dari tiga hari, sebelum ia memiliki si kembar pun selalu seperti itu. Mario tak bisa berlama-lama jauh dari istrinya. Ia tidak bisa berkonsentrasi dan akan ingin segera pulang, jika Inka tak di boyong bersamanya.


Kali ini adalah perjalanan jauh pertama dan lama yang akan di lakukan Mario selama ia memiliki bayi kembar. Biasanya ia akan mengandalakan Dhani. Tapi saat ini Dhani tengah sibuk mempersiapkan pernikahannya yang tinggal dua minggu lagi.


“Hmm.. Kalau kamu jalan sendiri bagaimana?” Inka berkata dengan penuh hati-hati.


“Memang kenapa? Kamu tak mau ikut menemaniku?” Tanya Mario dengan tatapan yang begitu dekat dan tangan yang masih mendekap pinggang istrinya.


“Bukan ngga mau, tapi gaun yang aku buat untuk Bianca belum selesai, dan ada beberapa design yang harus aku selesaikan. Mereka sangat ingin gaunnya aku buatkan, dan aku sudah janji mengatakan bisa. Kasihan.. Kak.”


Mario menghembuskan nafasnya kasar, lalu melepas dekapan dari pinggang Inka.


“Kamu mengasihani orang lain, tapi kamu ngga kasihan sama aku?” Mario berjalan mendekati cermin dan mengambil jam tangannya dengan wajah cemberut.


“Maaf, bukan begitu maksudku.” Jawab Inka lirih dan mendekati suaminya.


Inka mengelus dada Mario. Sepertinya ini akan jadi perdebatan pagi mereka.


“Kamu tahu aku ngga bisa jauh dan lama dari kamu, apalagi dari anak-anak kita. Aku janji, Setelah itu kita akan jalan-jalan di sana.”


“Aku mau sekali menemanimu kemana pun, Kak. Tapi, aku sudah terlanjur janji. Kamu juga bilangnya dadakan.”


“Sebelumnya memang papa yang menangani ini, karena papa ingin aku selalu berada di sampingmu saat mengandung, melahirkan dan merawat bayi. Tapi sekarang papa sedang kurang sehat, jadi aku menggantikannya mendadak.”


“Ya sudah kalau kamu ngga bisa.” Mario berkata lagi, dan langsung meninggalkan kamar itu dengan Inka yang masih mematung di depan cermin.


Inka menghempaskan nafasnya kasar, lalu mengikuti langkah Mario dari belakang.


Maher dan Mahira tengah main bersama kedua baby sitternya.


Mario menghampiri kedua anaknya, menciumnya satu persatu, lalu pergi. Inka masih membuntutinya dari belakang.


“Kamu ngga sarapan?” Tanya Inka dari belakang tubuh Mario.


Tapi Mario tak menjawab, ia terus melangkah keluar. Langkah Inka terhenti tepat di pintu masuk.


“Kamu ngga cium aku?” Rengek Inka dengan suara manja.


Cup.


Mario mengecup kening Inka sekilas. Namun Inka menangkap wajahnya, ia mel*mat bibir Mario.


“Kamu marah ya?’ Tanya Inka


“Engga, aku hanya buru-buru karena ada meeting pagi.” Jawab Mario tanpa ekspresi, lalu berjalan kembali ke arah mobilnya.


“Hati-hati di jalan! Aku akan ke kantormu membawa makanan.” Kata Inka sambil melambaikan tangannya ke arah Mario, dan Mario pun menampilkan senyumnya sebelum masuk ke mobil. Hal itu sedikit membuat Inka senang.


Inka masuk kembali ke dalam rumahnya, ia menyiapkan beberapa stok ASI untuk bayi kembarnya yang akan di tinggal kerja selama setengah harian lebih.


Inka menata makanan yang tidak sempat di sentuh Mario tadi. Ia akan mampir ke kantor suaminya, sebelum datang ke butik. Bibirnya menyungging senyum, tatkala melihat hasil karya makanan yang ia kemas menjadi sangat indah di tempat makan yang berwarna pink itu.


“Tari, Ambar, saya titip Maher dan mahira, semua perlengkapan sudah saya sediakan di dapur. Sukma, titip rumah ya!” Inka memberikan beberapa wejangan, saat akan meningglkan rumah. Ia selalu seperti ini ketika hendak berangkat ke butik.


Inka menaiki taksi online, ia masih saja belum berani untuk menyetir mobil sendiri. Ia juga tak mau mempekerjakan supir pribadi, padahal Mario sudah menawarkannya dengan alasan karena ke butik tidak setiap hari.


Inka sampai di depan gedung MJ Telemedia Asia. Ia sengaja mampir ke toko kue langganannya, untuk di bagikan pada beberapa karyawan di sana. Tangannya penuh dengan dua jinjingan yang ia pegang. Penampilan Inka pagi ini sangat Anggun dan cantik. Ia memakai dres berwarna merah muda dengan sedikit belahan di sisi lengan, dan panjang yang sedikit di atas lutut. Inka pun menguncir kuda rambutnya, hanya tergerai beberapa anak rambut di sisi kanan dan kiri wajahnya, tapi itu menambah kecantikannya. Tubuhnya yang padat berisi, di tambah bagian dadanya yang membulat sempurna, cukup membuat orang yang melihat akan tak berkedip.


“Istrinya Pak Rio cantik sekali ya.” Kata beberapa karyawan yang Inka lewati.


Inka selalu tersenyum, ketika melewati orang-orang di sana.


“Iya, pak Rio beruntung banget, istrinya udah cantik, baik, terkenal, dan murah senyum.” Kata salah satu orang di sana lagi.


Ya, memang saat ini Inka sudah bisa di bilang sebagai designer terkenal, karena sebelumnya ia pernah ikut dalam pagelaran show terbesar, di tambah pengalamannya di luar negeri. Banyak artis-artis terkenal menggunakan jasanya untuk gaun pernikahan mereka.


Inka berhenti di depan lift, ia kesulitan untuk menekan tombol itu karena banyak bawaan yang ia pegang. Tak lama kemudian tangan orang lain membantu memencet tombol itu, persis di saat Inka akan mengulurkan tangannya ke sana.


“Eh, Maaf.” Inka hampir saja menyentuh tangan orang itu yang merupakan seorang laki-laki.


“Terima kasih.” Inka menunduk, saat pria itu membantunya menahan pintu lift dan menekan tombol lantai lima.


“Saya juga akan ke lantai ini.” Kata pria itu, pria dengan bentuk tubuh yang hampir mirip seperti Mario. Parasnya pun tidak seperti orang Indonesia, tapi bahasanya sangat fasih.


“Saya bantu bawakan?” Pria itu tersenyum ke arah Inka dengan tangan yang terbuka.


“Oh tidak, terima kasih.” Jawab Inka dengan membalas senyumnya.


Tak lama kemudian, pintu lift terbuka. Lalu Inka keluar terlebih dahulu, dengan menundukkan sebagian tubuhnya pada pria itu sebelum keluar. Pria itu tersenyum, melihat senyum Inka dengan sikap sopannya.


“Eh, bu Inka.” Sapa Sherly yang berdiri ketika melihat Inka berjalan dari kejauhan.


Pria tadi, juga mengikuti Inka dari belakang dengan langkah pelan. Ia memang ingin ke lantai ini untuk mengunjungi teman lamanya. Ya, dia adalah salah satu teman kuliah Mario di London, yang merupakan kewarganegaraan Inggris.


“Aku bawakan kue tiramisu, bagikan kepada yang lain ya, Sher” Inka meletakkan banyak makanan di meja Sherly.


Sherly menyapa pria yang ada di belakang Inka, ketika pria itu sudah mendekat.


“Silahkan, Pak. Anda sudah di tunggu Pak Rio di dalam.” Kata Sherly.


Pria itu tersenyum pada Inka, setelah melewatinya. Inka pun membalas senyumnya.


“Pak Rio lagi ada tamu ya?’ Tanya Inka lesu pada sekertaris suaminya.


“Iya, Bu. Tapi sepertinya tidak lama.”


“Oh.” Jawab Inka bingung, karena sebelumnya ia ingin menyuapi dan memanjakan Mario sebentar, mengingat tadi pagi ia sempat merajuk.