Istriku Canduku

Istriku Canduku
susah sekali untuk jadi orang lurus


Raka pergi meninggalkan rumah Inka tanpa pamit. Ia tak kuasa berada lama di rumah itu. Kehadiran Indah membuat hatinya tak menentu. Ia ingat kejadian 15 tahun yang lalu, ketika Indah pergi dari sisinya. Pada waktu itu, ia bertemu lagi dengan Desi. Desi meminta maaf dan menjelaskan mengapa dia pergi meninggalkan Raka. Pada saat itu memang Desi lebih memilih berkarir di bandingkan menikah. Kemudian, akhirnya Raka terhasut oleh rasa bersalah Desi. Ia juga merasa hubungannya dengan Desi belum selesai, sehingga semakin lama semakin intens bertemu. Sejujurnya, Raka pun sudah merasa nyaman dengan istrinya walau awalnya ia menikah tidak di dasari cinta. Namun Indah begitu tulus menjalani perannya sebagai istri, membuat Raka lambat laun menyukainya. Indah penurut, lembut, tidak banyak menuntut, dan mandiri. Hanya terkadang Raka juga ingin Indah bersikap manja padanya, seperti Desi. Sikap Desi yang manja membuat Raka merasa lebih di butuhkan sebagai laki-laki.


Satu ketika, Raka terbangun dengan tubuh yang polos. Ia melihat wanita di sampingnya ternyata adalah Desi. Ia menyesali atas apa yang terjadi. Tiga bulan kemudian, Desi membawa hasil test lab yang menunjukkan bahwa dia hamil. Saat itu Raka masih belum mau menikahinya karena ia juga tak mau menyakiti Indah. Tapi Desi mengancam akan bunuh diri. Akhirnya Raka menikahi Desi diam-diam, hingga 12 tahun. Raka menutup pernikahan keduanya dengan sangat rapih. Ia juga jarang menemui Desi dan Adhis, hanya dua bulan atau tiga bulan sekali, membuat Indah tak menaruh curiga apapun. Karena suatu kewajaran keluar kota hanya dua atau tiga bulan sekali untuk urusan bisnis.


Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Pernikahan Raka dan Desi di ketahui Indah. Perasaan Indah campur aduk, antara kesal, benci, tapi tetap cinta. Raka tidak pernah tahu bahwa Indah mencintainya sejak kecil, karena bagi Indah, sejak awal pernikahannya di dasari cinta, berbeda dengan Raka. Rasa benci Indah bertambah lagi, setelah mengetahui bahwa Raka juga telah memiliki anak dari Desi. Indah memutuskan untuk menerima tawaran menjadi TKI ke Belanda dengan rekomendasi temannya yang sudah 4 tahun di sana. Lalu, Raka memberikan pilihan, ia akan menceraikan Desi jika Indah tetap di sini. Tapi Indah keras kepala, baginya kesalahan yang lain akan bisa di maafkan tapi tidak dengan perselingkuhan, apalagi sudah ada anak dari hasil perselingkuhan itu. Indah tetap pergi dan menggungat lebih dulu perceraiannya.


Indah sangat mirip dengan Inka, wajah dan karakternya. Hal itu yang membuat Raka lebih sering menghindari putri sulungnya itu, karena setiap menatap Inka, kerinduan di dalam dirinya terhadap Indah semakin menyeruak dan begitu dalam.


Tring.. Tring.. Tring..


Ponsel Raka berdering, di sana tertera nama Adhis. Raka langsung mengangkatnya.


"Halo."


"........"


"Papa di jalan, ya papa akan segera pulang."


Panggilan telepon itu langsung di putus Raka, dan ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


****


Matahari sudah hampir terbenam. Dhani mengendarai mobil bosnya menuju restoran mewah yang telah di sepakati oleh salah seorang kliennya. Klien wanita yang sebelumnya sudah ia ceritakan pada istrinya. wanita itu bernama Chintya.


Mario dan Dhani sampai di Restoran itu tepat waktu, ia mengedarkan pandangannya dan melihat seorang gadis dengan pakaian minim tengah duduk di pojok kanan.


Mario dan Dhani menghampiri gadis itu.


"Hai, Chin." Sapa Mario di iringi uluran tangannya. Dhani juga mengikuti apa yang di lakukan bosnya.


"Hai, long time no see, Yo. kamu terlihat makin ganteng aja." Chintya menerima uluran tangan Mario dengan senyum yang sangat manis.


"Aku kira kami sendirian." Ucap Chintya setelah mereka duduk.


Mario tersenyum. "Aku selalu bersama assistenku, kemana pun itu."


"Oh ya, dulu tidak." Kata Chintya lagi.


"Orang akan berubah seiring berjalannya waktu, Dear." Ujar Mario.


Mario mencoba mengambil jarak.


"Aku sudah menikah, Chin." Mario menunjukkan cincin di jari manisnya.


"Tidak peduli, biasanya walau kamu sudah punya pacar dan hidup bersama, kamu akan tetap ingin tidur denganku."


Mario menggeleng. "Sudah lama, aku tinggalkan kebiasaan itu."


"Aku masih belum percaya." Chintya masih terus menggoda Mario.


"Baiklah, Miss. Maaf, Kita di sini untuk mengurusi urusan bisnis yang belum selesai, bukan?" Dhani menyela pembicaraan kedua big bos itu, walau terkesan tidak sopan tapi Dhani yakin Mario setuju dengan sikapnya.


"Benar, mari kita bicarakan urusan bisnis." Sambung Mario serius.


Mereka saling bertukar pendapat, Dhani pun banyak mengingatkan Mario tentang beberapa hal yang sebelumnya di ingkari perusahaan ayah Chintya itu.


"Loh, mengapa kamu hanya bawa satu dokumen?" Tanya Mario bingung, karena seharusnya urusan mereka hanya membutuhkan satu kali pertemuan.


"Aku lupa membawa dokumen yang satunya lagi. Lagi pula kita masih bisa bertemu bukan?" Chintya masih berkata dengan nada yang sensual.


"Ck... Kamu membuang waktuku, Chin." Kesal Mario.


"Akan aku bayar waktumu dengan sesuatu yang nikmat. Aku janji." Chintya mengangkat kedua jarinya.


Mario menghelakan nafasnya. "Susah sekali untuk jadi orang lurus." Batinnya.


"Dhan, ada lagi yang kurang?" Tanya Mario.


"Hanya dokumen satu itu yang belum, Bos." Jawab Dhani.


"Baiklah, selanjutnya mungkin dengan assistenku saja. Karena setelah ini aku akan sangat sibuk." Kata Mario yang sudah berdiri, Dhani pun mengikuti.


"Tapi, kita belum selesai. Yo." Chintya berdiri dan memegang pergelangan Mario untuk menahannya.


"Maaf, Chin. ini sudah malam. Aku kangen dengan anak dan istriku. Bye." Mario langsung meninggalkan Chintya yang masih mematung di sana.


"Shit.. Awas ya kamu, Yo." Chintya menghentakkan kakinya di tempat.