
Sudah hampir tujuh bulan, Inka mengurus bayi kembarnya. Semakin repot, ketika bayi besarnya pun meminta untuk di layani, siapa lagi kalau bukan Mario. Inka hanya bisa ke butik tiga hari dalam satu minggu. Untung saja, Bianca dan Sari sangat bisa di andalkan. Tak jarang Inka harus begadang, karena ada saja pelanggan yang meminta Inka langsung untuk mendesign gaunnya.
“Sayang, kamu ngga capek. Nanti kamu sakit.” Ucap Mario yang melihat Inka masih duduk di depan cermin, sambil menggerakkan jarinya.
Inka menoleh ke arah suaminya yang sudah berada di tempat tidur. “Sebentar lagi, Kak. Ini hampir jadi.”
Mario bangkit dari tidurnya, lalu menghampiri sang istri. Ia mengelus rambut Inka.
“Sebenarnya aku tak tega melihatmu seperti ini, tapi ini hobbymu, aku juga ngga mau melarang apa yang kamu sukai.”
Inka menoleh ke ke arah suaminya.
“Hmm.. so sweet. Terima kasih, My Hubby.” Inka melingkarkan tangannya ke pinggang Mario yang saat ini berada persis di sampingnya.
“Yang penting kamu bisa bagi waktu ya.”
“Iya, aku juga terima order design untuk pelanggan lama saja, dan itu hanya gaun pernikahan atau gaun pesta. Aku juga membatasi, hanya mendesign maksimal 6 gaun sebulan.”
Mario mengangguk. “Bagus kalau begitu.”
Lalu Mario memijat pundak dan leher istrinya.
“Loh ini kenapa pundak kamu biru seperti ini?” tanya Mario yang melihat pundak istrinya seperti lebam dengan warna yang tak terlalu tebal.
Inka meletakkan gambar yang sudah ia selesaikan. Lalu menoleh ke arah Mario lagi.
“Kamu ngga sadar sering melakukan ini?” tanya Mario.
Mario menggeleng.
“Apa gigitanku sampai seperti ini?”
“Hanya di bagian pundak yang warnanya terkadang sampai seperti ini.” Jawab Inka tersenyum.
“Jadi selama ini, aku menyakitimu. Ya ampun.” Suara Mario terdengar sangat lirih. Ia sungguh menyesal.
“Maaf, Sayang. Maaf.” Kata Mario, sambil memeluk perut Inka, dan menyandarkan tubuhnya di kedua paha Inka.
“Ih, ngga apa Kak. Aku mengerti kok. Ngga masalah, lagian hanya terkadang saja warnanya sampai biru. Mungkin saat itu kamu sangat gemas padaku.” Jawab Inka sambil mengelus rambut Mario.
Mario mendongahkan kepalanya. “Selalu gemas.”
Inka tersenyum.
****
Seperti biasa, sabtu ini Mario dan Inka berada di rumah Andreas. Mario pun sudah menitipkan Maher dan Mahira kepada kedua orang tuanya, karena hari ini ia berniat akan mengajak Inka jalan-jalan dengan motor sport barunya.
Tin.. Tin..
Inka keluar dan melihat Mario yang sudah lengkap dengan helm full face dan duduk di atas motor besar yang berwarna hitam. Dari kejauhan bibir Inka sudah mengulas senyum.
“Akhirnya tetap di ganti motornya?” Tanay inka.
“Sesuai permintaan Ratu.” Jawab mario meledek.
“Ih,, aku ngga suruh ganti ya.”
“Memang sudah waktunya ganti, karena motor itu sudah lama.”
“Tapi kan itu motor kesayangan kamu.”
“Banyak amat.”
“Tanya donk kesayangan aku apa?”
Inka tersenyum. “Apa?’
“Kamu, Maher, dan Mahira.”
“Hmm.. Gombal.” Inka mencibir.
“Ayo naik!.” Kata Mario, setelah memakaikan Inka helm half face.
Inka pun menaiki motor sport itu.
“Kita kemana?’
“Puncak. Kita malam mingguan di sana sambil menikmati jagung bakar. Mau?”
“Mau banget.” Mata inka berbinar.
Mereka sudah seperti pasangan abege yang tengah di mabuk asmara. Inka mencondongkan tubuhnya dekat dengan tubuh Mario, karena kebetulan motor sport itu memiliki jok belakang yang agak menungging ke depan. Di saat lampu merah, Mario mengistirahatkan kedua lengannya dengan menopang pada kedua paha Inka.
Mario mengemudikan motornya tidak terlalu lambat, tapi juga tidak cepat. Inka banyak berbicara tentang jalan-jalan yang mereka lewati. Terkadang Inka juga bercerita kala melewati tempat yang pernah ia kunjungi.
Mario meninggalkan Inka sebentar untuk memesan jagung bakar, setelah ia sampai di kawasan puncak. Udara di sana sangatlah sejuk, apalagi ini di sore hari. Tak lama Mario berbincang dengan si penjual jagung, ia melihat Inka yang tengah di pandang beberapa pria di hadapan istrinya. Sontak membuat Mario langsung berlari ke arah Inka.
“Pindah.” Mario menarik tangan Inka.
Inka yang terkejut, hanya menurut.
“Kenapa, kak?’
“Aku ngga suka kamu di pandang seperti itu sama mereka.” Mata Mario mengarah pada sekelompok pria yang tadinya ada di hadapan Inka.
“Oh, iya ngga tau mereka kenapa begitu.”
“Mereka engga pernah liat perempuan se-bening kamu.”
“Masa..”
“Jangan pura-pura ngga sadar kalau kamu cantik, Sayang.”
“Iya, Ih.. jangan marah.” Inka menangkap wajah Mario lalu mencium bibirnya.
Tiba-tiba segerombol pria yang tadi di hadapan Inka bersorak riuh, dan mentoyor kepala salah satu temannya.
“Udah ada monyetnya, tau.” Ucap salah satu pria itu.
“Kurang ajar.” Mario hendak berdiri emosi, tapi Inka menahan pergelangan tangannya, sambil menggeleng.
“Setelah ini, kita jalan lagi. Cari tempat yang nyaman lagi ya.” Ucap Inka.
Mereka pun pergi, dan berhenti di sebuah pohon besar. Inka dan Mario duduk di sana, ternyata justru pemandangan di sana lebih indah. Karena ia duduk di hamparan luas yang menyuguhkan keindahan puncak dari tempat ia duduk.
“Yah, jagungnya udah dingin deh, kak.” Kata Inka saat membuka makanan yang ia pesan tadi.
“Ngga apa, tetap nikmat kok. Karena makannya sama kamu.”
“Hmm..” Inka menyandarkan kepalanya pada dada Mario.