Istriku Canduku

Istriku Canduku
~bonus chapter 3~


"Pipi.."


"Mimi.."


Teriak Maher dan Mahira, sejak mereka sampai di rumahnya. Maher dan Mahira langsung menuju kamar orang tuanya, sementara Raka dan Indah menyusul di belakang dengan berjalan pelan.


Mario yang masih tiduran di dada Inka, segera bangkit.


"Wah biang rusuh udah pada pulang, padahal baru aja aku mau satu ronde lagi."


Inka mengerucutkan bibirnya. Lalu, bangkit untuk membuka pintu kamarnya.


"Ini perut, udah berapa bulan pak?" Ledek Inka, mencubit perut Mario yang agak lebih bulat dari sebelumnya.


Mario tertawa.


"Terus aja ngeledek. bentar lagi juga kempes. Mulai besok aku rajin ngegym lagi." Jawab Mario sambil memegang perutnya dan tersenyum pada sang istri yang sedang berjalan menuju pintu.


Inka pun tertawa.


Ceklek.


Inka membuka pintu kamarnya. Di luar Maher dan Mahira langsung menubruk Inka dan memeluknya.


"Bagaimana jalan-jalannya?" Tanya Inka antusias pada si kembar.


"Bunganya buaaaanyak banget, Mi." Mata Mahira berbinar menceritakan suasana di vila lama berbentuk baru milik sang kakek.


"Vila kakek sekarang besar, Mi. Rumah pipi kalah besarnya." Maher membentangkan kedua tangannya ke samping, menunjukkan betapa luas vila milik sang kakek.


"Masa sih?" Tanya Inka yang memang belum melihat keadaan vila sang ayah saat ini.


Pasalnya Raka baru membeli tanah di belakang dan di samping vila mereka sebelumnya untuk memperluas vila itu. Raka sengaja membuat vilanya menjadi luas untuk hari tuanya bersama Indah. Ia ingin membuka usaha bunga-bunga segar yang sudah berjalan sedikit demi sedikit.


Kemudian si kembar berlari menuju sang ayah yang masih duduk di sofa.


"Pipi.. kapan-kapan kita ke rumah kakek lagi."


"Hmm.." Jawab Mario.


"Sini pipi belum menggigit pipi kalian." Ucap Mario lagi sambil memeluk putra putrinya.


Inka berjalan keluar, meninggalkan si kembar yang berada di pangkuan sang ayah tengah asyik bercerita. Ia menghampiri kedua orang tuanya yang berada di ruang keluarga.


"Pa." Panggil Inka pada Raka dan mencium punggung tangannya.


"Inka kira mama menginap?"


"Mana mau mamamu di ajak menginap sebelum kami resmi menikah lagi." Jawab Raka.


Indah tersenyum.


Raka dan Indah saling bertatapan, membuat Inka menyadari apa yang tengah terjadi.


"Mama? Papa? Kalian?" Tanya Inka bertubi-tubi, memicingkan matanya dan menyatukan kedua telunjuknya.


Indah tersenyum, begitu pun Raka. Baru kali ini Inka melihat sang ayah tersenyum setelah sekian lama, ia tak melihat hal itu lagi.


Kemudian, Indah mengangguk.


Inka pun langsung tersenyum sumringah, sungguh ia sangat senang melihat kedua orang tuanya bersatu kembali, walau harus menunggu dua puluh tahun.


"Mama.. Papa.." Inka memeluk kedua orang tuanya.


Indah dan Raka pun membalas pelukan sang putri.


Mereka saling berpelukan dan menangis.


"Ssttt.. Jangan ganggu Mimi." Ucap Mario saat Mahira dan Maher ingin menghampiri Inka dan nenek kakeknya di sana.


Mario yang melihat sang istri tengah bersama kedua orang taunya pun memberi akses pribadi kepada keluarga istrinya untuk bicara. Ia mengajak kedua anaknya bermain di taman rumahnya.


"Maafkan papa, karena papa, kita jadi berpisah." Kata Raka, setelah pelukan mereka mengendur.


Indah mengusap pipinya yang basah, begitu pun Inka.


"Maaf karena papa egois." Raka pun mengusap pipinya yang basah.


"Sudah takdir, Pa. memang jalannya harus seperti ini. Mungkin kalau papa tidak berpisah dulu dengan mama, papa masih belum merasakan besarnya cinta papa ke mama." Ungkap Inka.


"Benar sekali, Sayang." Raka memeluk putrinya.


"Terus rencananya, setelah menikah papa dan mama akan tinggal di puncak. Kami akan menggeluti bisnis kesukaan mamamu."


"Benarkah? jadi papa beneran usaha perkebunan bunga?"


Raka mengangguk, "Papa hanya ingin menyenangkan mamamu."


Indah hanya tersenyum. Ia tak banyak bicara.


"Hmm... Ciye Mama.." Ledek Inka.


"Papamu belajar romantis dari suamimu." Ucap Indah.


"Oh ya?" Tanya Inka tak percaya.


Indah mengangguk.


"Kamu tidak lihat bagaimana papamu melamar mama di vila itu, mama juga kaget mendengarnya, dia sudah terkontaminasi gombalnya suamimu." Indah terkekeh geli.


"Wah sepertinya ada yang ngomongin Mario nih." Celetuk Mario, sambil menggendong Mahira dan Maher yang berjalan di depannya.


"Ih ge er." Inka memukul lengan sang suami saat Mario sudah duduk di sampingnya.


"Kapan nikahnya, Pa?"


"Lusa. Hanya akad saja dan langsung di KUA nya saja."


"Tidak di sini saja?" Tanya Mario.


Indah menggeleng. "Malu, sudah tua. tidak ada acara apapun, hanya menikah saja."


"Yo, orang tua mu tidak perlu di undang, tidak usah ada undangan apapun, cukup nanti di beri tahu saja." Ucap indah lagi.


"Loh, kok begitu?" Tanya Inka dan Raka.


"Kamu malu menikah lagi denganku?" Tanya Raka.


"Bukan, bukan seperti itu, hanya malu karena kita sudah tua, sudah jadi kakek nenek." Sanggah Indah


"Memang apa salahnya?" Tanya Raka bingung.


"Ya, tidak ada yang salah, hanya saja.."


Raka dan Indah terlihat tengah berselisih.


"Ayolah, Ma.. Pa.. Kalian baru akan menikah, masa sudah berselisih sih." Ucap inka memotong perselisihan di antara Indah dan Raka.


Mario hanya tersenyum.


"Mama Laras dan Papa Andreas harus di undang karena ini berita bahagia keluarga kita." Ucap Inka lagi.


"Iya kan, Sayang?" Tanya Inka pada Mario.


"Terserah, aku sih ngikut aja." Mario tersenyum sambil mengerdikkan bahunya.


"Baiklah, hanya orang tua Mario yang di undang." Kata Indah.


"Adhis, Vino, dan beberapa rekan bisnisku juga di undang." Raka menyebutkan banyak orang.


"Kalau begitu jangan di KUA, akan ramai di sana jika mengundang banyak orang." Celetuk Mario.


"Benar, papa setuju dengan Mario. Jangan di KUA, di sini saja." Sahut Raka.


"Kalau perlu, nanti Mario datangkan MUA untuk mendandani mama, sekalian Tari dan Ambar jadi pagar Ayu nya."


Sontak Indah memukul lengan menantunya. "Kamu meledek mama?" Indah tersenyum.


"Setuju." Sahut Raka lagi.


Indah membulatkan matanya. "Aku malu. aku bukan gadis lagi, Mas."


"Tapi kamu tetap cantik, Sayang." Ucap Raka.


"Uhuk.. Uhuk.. Uhuk.." Mario pura pura batuk mendengar kata romantis yang di lontarkan papa dan mama mertuanya.


Inka pun menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Rempong banget ya, kakek kakek sama nenek nenek mau nikah."


Inka dan Mario tertawa.


"Tuh, mama aja masih romantis, manggil papa dengan sebutan 'mas'. Nah, kamu masih aja memanggilku dengan sebutan 'kakak'." Protes Mario di telinga Inka.


Inka menoleh ke wajah suaminya, sambil nyengir menampilkan jejeran giginya, menanggapi protes Mario.