Istriku Canduku

Istriku Canduku
apapun akan aku lakukan untuk kalian


Mario dan Inka masih berada di rumah sakit, mereka sudah melewati dua malam di sana. Inka sering kali panik melihat putra putrinya menangis, di tambah ASI nya yang tak kunjung keluar, membuat nya tambah panik dan bingung. Untung Mario selalu berada di sampingnya, ia selalu memberi ketenangan dan support untuk sang istri.


“Ayo, makan lagi, Sayang!” Kata Mario, dengan semangkuk sayur katuk di tangannya.


“Udah, Kak.” Inka menggeleng kepalanya dengan tangan yang menutup mulutnya.


“Tapi ini masih banyak, Sayang. Kamu baru makan sedikit.” Kata Mario lagi


“Hmm.. Ngga enak, Kak.” Jawab Inka, yang memang tidak menyukai sayur sejak kecil.


Mario menatap sayur bening itu. “Iya sih ngga enak.”


“In, kamu harus makan sayur itu yang banyak, karena itu bisa buat ASI mu banyak.” Celetuk Laras, yang juga tengah menemani putra dan manantunya.


“Demi anak, In. Jadi ibu memang seperti itu. Mau tidak mau, enak tidak enak, kita harus melakukan jika itu untuk kebaikan mereka. Itulah perjuangan seorang ibu” Ucap laras lagi, sambil berdiri dan tersenyum ke arah menantunya.


Mario meletakkan piring yang ia pegang dan menghampiri Laras untuk di peluknya. “Oh mama.. aku semakin mencintaimu.”


Laras menerima pelukan itu, sambil menepuk dada putranya yang bidang.


Inka tersenyum. “Baiklah, Ma. Inka coba makan lagi.”


Inka memakan makan itu sambil nyengir dan susah untuk menelannya, memberi tanda bahwa ia sangat terpaksa memakan makanan itu. Mario kembali menghampiri istrinya, dengan tawa yang tertahan melihat ekspresi gemas sang istri.


Ceklek...


Dua suster membuka pintu ruangan VVIP itu dengan mendorong kedua tempat tidur bayi.


“Siang Bapak, Ibu..” Salam kedua suster itu kepada Mario, Inka, dan Laras.


“Saatnya si kembar menyusu.” Kata salah satu suster itu.


Laras langsung menggendong bayi lelaki yang masih tertidur di tempat tidurnya. Sedangkan Mario masih mengelus pipi bayi perempuannya yang masih berada di tempat tidurnya.


“Tapi ASI saya masih belum keluar, Sus.” Kata Inka lesu.


“Bisa, Bu. Jangan menyerah dan jangan stres! Nanti pasti ASI nya akan keluar, tidak apa sekarang seadanya saja, semakin sering si bayi menyusu, nanti lama kelamaan ASI akan meproduksi sendiri dengan kadar yang lebih banyak.” Jelas salah satu suster itu.


Kemudian kedua suter itu pamit dan pergi meninggalkan ruang perawatan itu.


“Ayo di coba lagi!” Kata Laras dengan menyerahkan bayi laki-laki yang ia gendong.


“Ayo, sayang! Sekarang pasti keluar.” Kata Mario menyemangati istrinya.


Inka menerima dan mencoba memasukkan putingnya ke dalam mulut si bayi, namun bayinya hanya menangis karena tak mendapatkan apa yang di inginkan. Suara tangisnya semakin keras.


“Ma, bagaimana ini?” Inka panik lagi.


Lalu, Laras mengambil kembali bayi yang ada di gendongan Inka, ia berusaha menenangkan bayi itu.


“Ya udah, coba cara alami, seperti mama dulu.” Kata Laras.


“Caranya, Ma?’ Tanya Inka antusias.


“Hmm..” Laras terlihat ragu untuk menjawab.


“Maksudnya?” kini Mario yang terlihat bingung. Pasalnya ia tak mengerti bagaimana cara membantu istrinya.


“Mario yang mengh*sap itu kamu, sampai keluar.” Laras menunjuk pay*d*r* Inka.


Inka langsung memegang dadanya.


“Ih mama, emang bisa begitu? Yang ada nanti Kak Rio....” ia melirik ke arah suaminya dan tak melanjutkan lagi perkataanya.


“Iya, Ma. Apa ngga ada cara lain? Itu namanya bangunin macan tidur. Apalagi sekarang aku lagi bertapa ini, Ma”


Laras tergelak melihat kelakuan putranya yang nakal.


“Ya, terserah kalian.” Laras mengerdikkan bahunya.


“Mama sama papa dulu juga seperti itu?” Tanya Inka dan langsung di angguki Laras.


“Ya, itu cara cepat dan efektif.” Jawab Laras dengan mengulas senyum.


“Baiklah, Ayo, Sayang!” Mario sudah menarik kursi untuk bisa berhadapan dekat dengan Inka.


Mario menatap wajah cantik istrinya yang sedang menunduk dan mulai membuka kancing atas pakaian rumah sakit itu. Baru satu, dua kancing Inka membuka, Ia menengadahkan kepalanya untuk melihat wajah Mario.


“Tuh kan, muka kamu udah mesum gitu.” Rengek Inka meihat ekpresi wajah Mario yang tak sabar menunggu makanan datang.


“Engga, kamu aja yang pikirannya kotor. Jangan-jangan malah kamu yang udah ngga tahan pengen aku sentuh.” Ledek Mario sambil senyam senyum.


“Ih...” Inka tertawa dan tangannya menutup wajah Mario.


“Mama, jangan liat-liat ya!” ucap lembut Inka pada Laras


“Iya, mama ngga liat.” Laras tersenyum, tubuhnya membelakangi pasangan suami istri yang sedang jaga image itu..


Mario meraih kedua bukit kembar istrinya yang sudah sangat keras, sehingga membentuk bulatan yang sempurna. Ia sesungguhnya sudah tidak tahan hanya dengan melihatnya, apalagi jika harus menyentuh dan menghi**pnya bergantian. Ah, tapi ini demi putra putrinya, yang belum sempat ia beri nama.


“Tahan Rio, tahan, tahan.” Batin Mario, tatkala ia melakukan apa yang di sarankan ibunya.


Inka menggigit bibir bawahnya, entah ini memang efek rasa yang di lakukan suaminya atau memang karena ASI nya yang akan keluar, memberikan rasa lega.


“Howeek..’ Mario berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi yang ada di mulutnya.


“Ma, iya ASI ku keluar. Sini dedenya, Ma’ Wajah Inka berbinar.


Laras segera menghampiri Inka dan memberikan bayi lelaki yang ada di gendongannya.


Mario keluar kamar mandi dan masih mengelap mulutnya. In melihat dari kejauhan, Inka sudah mulai memberikan putranya makanan dengan tenang.


“Makasih suamiku.” Ucap Inka, ketika menegakkan kepalanya dan melihat Mario yang sudah berdiri agak jauh dari hadapannya.


“Apapun akan aku kalian untuk kalian.” Ujar Mario sambil melangkahkan kakinya menuju tempat tidur Inka.


“Oooh... So sweet.” Ledek Laras sambil mengelus kepala putranya yang sudah duduk di kursi.