Istriku Canduku

Istriku Canduku
image baru itu berkembang


Sudah hampir satu bulan berlalu. Raka tidak lagi menginjakkan kakinya ke rumah Inka. Indah dan Karel juga masih berada di sana. Memang Indah sengaja akan berada di Indonesia satu atau dua bulan.


"Kak, aku telepon papa kok ngga bisa-bisa ya?" Inka mengeluh pada suaminya.


Mario baru saja keluar dari kamar mandi, tubuhnya terasa segar, setelah seharian beraktifitas.


"Mungkin sedang banyak urusan. Tapi sebelumnya kamu pernah berkomunikasi kan?" Mario balik bertanya, sambil memakai boxernya.


"Sudah sih, Sebelumnya teleponku diangkat dan papa bilang baik-baik saja." Jawab Inka.


"Ya sudah kalau begitu. Papa Raka baik-baik saja, ngga usah khawatir."


Inka mengangguk.


Mario langsung menjatuhkan dirinya di tempat tidur dengan keras, hingga tubuh Inka bergoyang karena hentakan spring bed itu.


"Akhirnya bisa rebahan juga. Hari ini sangat lelah." Mario membentangkan kedua tangannya ke atas dengan telanjang dada. Lalu melipatnya di bawah kepalanya.


"Maher dan Mahira sudah tidur?" Tanya Mario pada istrinya yang berada persis di sampingnya.


Inka mengangguk. "Sudah, aku juga sudah men-stock beberapa ASI di lemari es, kalau Maher atau Mahira bangun, Tari dan Ambar bisa memberikannya."


Mario mengangguk. "Good.. "


"Kalau begitu sekarang gantian ayahnya yang di urusi ya, Mom." Mario menaik turunkan alisnya.


Inka menatapnya malas, tapi bibirnya tetap menyungging senyum. Mario lebih mendekatkan tubuhnya pada Inka.


"Aku belum selesai, mungkin minggu depan." Rengek Inka dengan memegang dada suaminya yang terbuka.


"Sayang, sudah satu bulan. Aku benar-benar ngga tahan." Kini Mario yang merengek.


"Sini, aku pijitin saja. Katanya tadi capek."


Mario langsung menurut dan menaruk kepalanya pada paha Inka dengan posisi tengkurap, sambil memeluk perut istrinya yang tak lagi buncit. Inka memijit pelan kepala, leher, dan pundak suaminya. Setiap pulang kerja, Mario memang sering seperti ini, sejak mereka menikah.


"Sayang, aku mau." Mario menengadahkan kepalanya dengan suara yang berat.


"Bagaimana? Ada cara yang lain?" Inka bertanya serius dengan wajah polosnya, membuat Mario tertawa.


"Yang kamu tau cara apa?" Mario coba mengetes sejauh mana pengetahuan istrinya tentang s*x.


Inka langsung memeragakan seperti orang makan pisang.


Mario tergelak. "Emangnya, bisa?"


Pasalnya Inka tak pernah sekalipun melakukan itu selama mereka menikah, karena Inka tergolong wanita yang suka kebersihan, sehingga hal itu membuatnya jijik.


Inka menggeleng. "Ya.. mau tidak mau. kasihan juga liat kamu kaya gini."


"Oh.. I love You more more more." Mario memeluk erat istrinya.


Ini adalah kali pertama Inka melakukan itu. Sesekali Ia tersedak, membuat Mario merasa tak tega.


"Sudahlah, Sayang tidak usah. Kamu tidur aja. Aku nanti bisa kok solo." Mario meminta Inka untuk berdiri.


"Tidak apa, sungguh." Inka tetap pada posisinya, dan melanjutkan kegiatannya lagi.


Beberapa menit kemudian, Mario merasa ketagihan, ternyata mulut Inka tak kalah nikmatnya. Mario di buat mendesah keenakan, hingga akhirnya pelepasan itu pun tiba.


Mario mengangkat tubuh istrinya untuk berdiri dan memeluknya.


"Terima kasih, Sayang. You're the best." Mario ******* bibir Inka dan mengecup seluruh wajahnya.


****


Di kantor, Mario tengah uring-uringan. Oa kesal dengan Chintya yang tak mau menyerahkan satu dokumen lagi yang di butuhkan. Padahal sudah beberapa kali Dhani ke kantornya untuk mengambil dokumen itu. Namun, Chintya tah juga menyerahkan dengan alasan agar Mario yang mengambilnya sendiri.


"Terus, dia maunya apa?" Tanya Mario pada Dhani, setelah Dhani menyampaikan laporannya.


"Kita ketemu dia lagi, pak."


"Hah.. gue males ngeladenin cewek gila."


"Lagi bapak. Tau cewek gila, dulu di sosor aja." Ujar Dhani meledek.


"Ya gue kan nyosor sama cewek yang mau di sosor."


Dhani menggeleng kepalanya.


"Oke." Dhani keluar dari ruangan itu.


Tak lama kemudian, Dhani memberi kabar lewat bahwa malam ini, Chintya meminta bertemu.


"Bos, malam ini. wanita itu bisa."


"Okeh, temani gue nemuin dia."


"Assiap." Jawab Dhani.


Tak lupa Mario memberi kabar pada Inka, kalau hari ini ia kembali menemui Chintya. Ia juga selalu bercerita pada Inka tentang tingkah gila Chintya padanya. Inka hanya menanggapi dengan tawa, kata-kata tanggapannya pun sama seperti apa yang di lontarkan Dhani tadi.


Dhani memarkirkan mobil bosnya tepat di parkiran Valet Restoran berbeda dari sebelumnya, sesuai arahan Chintya.


"Akhirnya, kamu menemuiku. Yo" Chintya langsung menghamburkan pelukan pada tubuh Mario. Padahal Mario belum menyapanya.


"Chin. Bisa tidak kamu bersikap biasa. Aku sudah menikah." Mario berkata dengan serius.


"Aku ngga peduli." Chintya duduk, di ikuti oleh Mario dan Dhani.


Kebetulan posisi Mario persis di samping Chintya, membuatnya mau tidak mau duduk bersebelahan dan tidak sempat bertukar posisi pada Dhani.


"Baiklah, Chin. Ayo kita selesaikan urusan kita." Ucap Mario menyerahkan dokumen yang di berikan Dhani untuk di tanda tangani kedua belah pihak.


"Ayo tanda tangan!" Kata Mario tegas.


"Tapi setelah ini, kita masih bisa bertemu kan. Yo? aku benar benar merindukanmu. Tidak asa laki-laki yang hebat di ranjang selain kamu." Bisik Chintya di telinga Mario.


Mario hanya menggeleng, dan menyesal pernah meniduri wanita ini beberapa kali. Dulu ia memang gila.


Chintya memegang pulpen dan mulai menandatangai kertas di hadapannya. Setelah selesai jarinya merangkai di kertas, tangannya beralih pada paha Mario.


"Aku tanda tangan di sini juga ya." Chintya merangkai tanda tangannya di celana kerja Mario yang berwarna abu-abu terang, di sertai kecupan di paha itu, mencetak jelas warna bibir Chintya yang merah menyala.


Mario menepisnya, tapi terlambat. Celana kerja Mario sudah tercetak bentuk bibir dan tanda tangan Chintya.


"Lo bener-bener gila ya." Mario menumpahkan air minum di pahanya dan menggosok dengan tisu.


Dhani pun membantunya.


"Ngga bakal hilang, sampai istrimu melihatnya." Ucap Chintya dengan senyum liciknya.


"Shit.. Gue ngga bakal berurusan lagi dengan perusahaan lo, ini terakhir kita kerjasama." Mario sudah sangat kesal. Ia berlari ke toilet.


Dhani membereskan berkas-berkas di meja. Lalu, mengikuti langkah bosnya.


"Gimana nih, Dhan? Inka bisa marah kalau kaya gini. Gue ngga mau dia salah faham." Mario mengacak-acak rambutnya. ia sudah terlihat frustasi.


"Mau bagaimana lagi, Pak. Ceritakan saja yang sebenarnya terjadi pada ibu, saya yakin beliau akan mengerti." Jawab Dhani. Tapi Mario masih saja berjalan kesana kemari.


"Nah gue ada akal." Mario menjentikkan jarinya.


"Buka celana lo, kita tukeran, badan lo sama badan gue ngga jauh beda posturnya." Mario memaksa membuka resleting celana kerja Dhani.


"Jangan, pak!" Dhani menutup assetnya.


Namun, Mario dengan tergesa-gesa dan memaksa membuka resleting celana Dhani. Posisi Mario pun sudah berlutut, wajahnya tepat berada di resleting celana Dhani.


"Aaaaa..." Tiba-tiba suara wanita berteriak, melihat aksi Mario dan Dhani dengan posisi yang seperti ingin mengoral.


"Eh.. ini.." Mario berkata dengan terbata-bata.


Ternyata yang memergoki mereka dalah Chintya.


"Kamu sekarang? Hah.. aku ngga percaya, ternyata yang di bilang sudah berubah itu ini. Kamu menikah hanya untuk menutupi image barumu." Kata Chintya tak percaya.


Mario malah tersenyum. "Benar, seperti inilah aku sekarang."


"Gila!" Chintya langsung pergi meninggalkan Mario dan Dhani dengan langkah kaki yang terhentak keras.


Mario tertawa melihat tingkah konyolnya. Dhani pun ikut terbahak-bahak. Mereka berdua ber-tos ria.


"Akhirnya gue bebas dari cewek gila itu." Kata Mario sambil terus tertawa.


Walau mungkin setelah ini, image baru itu akan berkembang, karena Chintya termasuk wanita sosialita dan gemar bergosip. Ia tak peduli, yang penting ia ingin hidup aman tenteram bersama anak dan istrinya.