Istriku Canduku

Istriku Canduku
Merajuk 3


Inka sampai di butiknya dengan sangat siang. Ia baru datang di tengah karyawannya yang sedang makan siang. Tak lupa ia juga membawakan beberapa makanan untuk karyawannya sebagai penebus rasa bersalah. Ia di antar supir operasional yang bekerja di kantor suaminya dan membawa makanan yang Inka pesan tepat di lobby galerinya.


“Loh, kirain Miss Inka tidak datang ke sini.” Kata Sari saat melihat Inka yng baru membuka pintu.


“Iya, Sar. Maaf ya aku kesiangan banget nih datangnya.” Jawab Inka manja.


Walau ia adalah pemilik butik itu, tapi tetap kedisiplinan harus di terapkan, sehingga ia pun harus mempunyai rasa bersalah ketika datang terlambat.


“It’s oke, Miss. Ini kan butiknya Miss Inka.” Celetuk Bianca yang tiba-tiba menghampiri dengan senyum.


“Ya, enggak gitu juga sih. Makanya nih, aku bawain makanan buat kalian sebagai tebusan rasa bersalahku.” Ucap Inka lirih.


“Nyogok Miss?” Ledek Sari, membuat Inka langsung nyengir dan menampilkan jejeran gigi putihnya.


Kemudian Sari membagikan makanan itu kepada teman-temannya yang lain. Inka makan siang bersama Sari, Bianca, dan ke enam pekerja lainnya di ruang tengah. Ruangan yang cukup luas, yang sengaja Inka design untuk tempat berkumpul dan bersantai. Ruangan itu pun di lengkapi dengan kedua lukisan buatan tangan Boy yang Inka tempel di kedua sudut dinding itu.


“Miss. Tadi mampir ke kantor Pak Rio dulu ya?” Tanya Bianca.


“Iya, kok tau, Bi. Padahal tadi di sana, aku ngga ketemu Dhani loh.” Jawab inka.


“Nebak aja, Miss. Karena jejaknya tertinggal” Ledek Bianca yang melihat banyak tanda merah di bagian leher Inka, karena saat ini Inka kembali menguncir kuda rambutnya agar tidak menganggu saat ia tengah makan.


“Maksudnya, jejak apa?” Tanya Inka bingung, pasalnya Sari, Bianca dan beberapa orang di sana tengah senyam senyum melihatnya.


“Jejak kaki buaya.” Celetuk Sari ambigu.


“Bukan jejak kaki buaya, Sar. Tapi gigitan buaya.” Bianca tergelak dengan perkataannya sendiri.


“Jejak apa sih?’ Inka semakin bingung dengan perkataan Sari dan Bianca.


“Itu loh, Miss.” Jawab salah satu karyawan lain yang berada di sana, sambil menunjuk lehernya.


Inka langsung menutup leher dan melepas kunciran rambutnya. “Oh ya ampun.”


Semua orang di sana ikut tergelak dan wajah Inka sudah seperti kepiting rebus. Untung saja karyawan di galeri Inka sebagian besar adalah wanita, begitu pun yang tengah ada saat ini.


“Awas ya kak, udah aku bilang jangan tinggalkan jejak.” Gerutu Inka dalam hari.


Hari sudah semakin gelap, Inka masih berada di ruangannya. Ia memang meminta Mario menjemputnya agak malam, kebetulan Mario pun masih ada pekerjaan yang belum terselesaikan. Maher dan Mahira juga tidak rewel hari ini, karena Inka sudah menyiapkan banyak stok ASI di lemari es nya.


“Sar, lusa aku akan ke Dubai untuk menemani Mario yang sedang melakukan perjalanan bisnis di sana.” Ucap Inka, ketika sedang berdiri di depan maniken yang tengah memakai gaun pengantin Bianca.


“Berapa lama, Miss?’ tanya Sari.


“Kemungkinan satu minggu lebih.”


“Gaun pengantin Bianca, hanya tinggal finishing saja. Itu biar kamu aja yang teruskan ya, Sar.” Ucap Inka lagi sambil memberikan Sari arahan, apa-apa saja yang harus di kerjakan selama Inka pergi.


“Siap, Miss. Jangan khawatir! Saya dan Bianca bisa handle. Nanti design yng lain bisa menyusul, Miss tinggal kirim email atau gambarnya bisa di jpeg via wa juga tidak apa.”


“Oke, Sar. Kalian memang bisa dia andalkan.” Ucap inka senang.


“Bianca juga belum cuti kok Miss, paling dia akan cuti H-3 katanya.” Jawab Sari.


“Hmm.. apalah artinya diriku tanpa kalian.” Inka terharu dengan kesiapan Sari dan Bianca, walaupun saat ini Bianca sedang tidak bersamanya, karena ia tengah pulang cepat bersama Dhani tadi.


“Sayang..” Panggil Mario, yang sudah sampai di galeri Inka untuk menjemputnya.


“Saya permisi ya, Miss. Saya ngga mau baper.” Sari langsung ngeluyur keluar tanpa jawaban dari Inka dan Mario.


“Karyawan kamu ngga sopan banget.” Kata Mario kesal.


Inka hanya terdiam tanpa ekspresi.


“Kamu kenapa?” Tanya Mario bingung.


“Ngga apa-apa. Ayo pulang! Kasihan Maher dan mahira udah di tinggal kelamaan.” Inka langsung meraih tasnya dan melangkah keluar.


Tak lama kemudian, para karyawan yang masih berada beberapa orang di sana pun ikut pulang.


“Kamu kenapa sih? Kok dari tadi diem aja. Aku ada salah.” Ucap Mario ketika mereka sudah berada di dalam mobil. Mario berada di temapt duduk menyetir, sedangkan Inka berada di sebelahnya.


Inka mengubah posisi duduknya, agak menyerong ke arah Mario.


“Kamu bikin kesel tau ngga.” Rengek Inka sambil memukul pelan lengan Mario.


“Aww.. kenapa sih?’


“Masih aja tanya kenapa? Nih liat.” Inka menyibakkan rambutnya dan memperlihatkan lehernya yang penuh dengan kissmark.


Mario tergelak. “Terus kenapa?”


“Ih, masih tanya terus kenapa? Kan aku udah bilang jangan buat tanda ini, kamu bilang iya ngga, tapi nyatanya malah banyak. Aku di ledekin tadi sama temen-temen di butik.” Rengek Inka.


“Lagian kenapa ngga di tutupin.” Jawab Mario dengan menyungging senyum.


“Aku percaya kalau kamu ngga buat tanda ini.” Bibir Inka semakin cemberut.


“Lagian percaya aja.” Jawab Mario asal, sambil tetap dengan bibirya yang tersenyum.


“Jadi aku ngga usah percaya lagi sama kamu, nih?”


“Eh ngga gitu. Kalau yang lain harus percaya, kecuali soal gigit menggigit ya.”


“Ih..” Rengek Inka kesal, dan mencubit lengan Mario yang sedang menyetir.


“Aww.. Sss.. sakit sayang.” Mario mengelus lengan yang terkena cubitan itu dengan lengan sebelahnya.


“Rasain.”


“Awas ya, nanti malem aku yang bikin kamu sakit.”


“Ogah, kan udah tadi pagi. Masa malem masih juga.”


“Kalau begitu abis subuh.”


“Ihh.. kamu bener-bener mesum.” Inka masih memukul pelan lengan suaminya.


“Mama tolong!” teriak Inka.


Mario tergelak dan tertawa terbahak-bahak dengan aksi istrinya yang menggemaskan ini.


“Untung mama Indah jauh, jadi kamu ngga ada yang nolongin.” Ledek Mario.