
Mentari mulai menampakkan diri. Sinarnya memasuki sebuah kamar yang di penuhi peluh sejak semalam.
David berbaring lemas, sambil memeluk Sari yang tengah meringkuk. Perlahan David membuka kedua matanya, ia melihat Sari yang masih terpejam. Tangannya juga masih setia di pinggang Sari. Ia pun masih mengingat kenikmatan tubuh Sari, hingga ia melakukannya lagi. Padahal saat itu Sari sudah sangat merintih, tapi David tetap mengacuhkannya.
“Maaf.” Kata David lirih dan hampir tak terdengar.
Ia bangkit dari tempat tidur dan mendapati bercak darah di bagian tengah tempat tidur yang menjadi saksi atas aksi bejatnya semalam.
“Ah, pantas saja.” David memukul kepalanya sendiri. Ia baru sadar bahwa semalam ia telah memerawani anak gadis orang.
Sari menggeliat dan perlahan membuka matanya. Ia langsung terkejut dan bangkit. Ia menarik selimut tebal itu agar menutupi tubuhnya yang belum memakai sehelai benangpun.
“B*jing*n.” Sari melempar bantal yang ada di sampingnya ke arah David yang masih duduk di tepi tempat tidur dengan membelakanginya.
David menoleh, membuat Sari terkejut.
“Ka..mu.. Pa..k Da..Vid.” Ucap Sari terbata-bata.
Ia tak menyangka yang menyerangnya semalam adalah David, teman suami Inka yag pernah datang ke butik dan memesan dua setelan jas formal. Padahal Sari pernah mengagumi sosok pria tampan itu, tapi hari ini rasa kagum itu berubah menjadi benci dan sangat benci.
“Maaf, semalam adalah kesalahan, seharusnya bukan kamu yang di sini.” Jawab santai David.
“Maaf. Maaf mu tidak bisa mengembalikan keperawananku. Hah.” Teriak Sari.
Ia masih melempar David dengan segala benda yang ada di sekitarnya. Namun, David dapat menghindar.
Setelah habis dengan benda yang sudah di lepar, Sari pun mengangkat pesawat telepon yang menempel di meja nakas, karena hanya tinggal benda itu yang tersisa di dekatnya. ia ingin melempar benda itu juga ke arah David, tapi tidak bisa karena kabelnya terlalu panjang, membuat Sari harus menaruh benda itu kembali.
David terkekeh melihat aksi wanita itu, ia mengulas senyum. Senyum yang tak pernah ia tampilkan sejak lima tahun silam, persisnya sejak kecelakaan yang merenggut nyawa ayah dan nenek kesayangannya.
David meraih cek di dalam tasnya, Ia menulis sejumlah uang yang sangat banyak dan memberi tanda tangan di sana.
“Ini, anggap saja sebagai kompensasi.” David menyerahkan cek itu persis di hadapan Sari.
Sari langsung menepis, membuat cek itu terjatuh.
“Aku tidak butuh itu.” Ucap Sari.
David mengeryitkan dahinya, lalu tersenyum.
“Lalu mau kamu apa?” Tanya David, sambil kembali mendekati tubuh Sari.
Sari langsung menghindar. “Jangan dekat-dekat!”
Tapi David semakin mendekat, bibirnya semakin ingin menelusuri tubuh itu lagi.
Sari bangkit dari tempat tidur.
“Aaah.” Ia merintih menahan perih di bagian sensitifnya. Tapi ia harus berdiri, ia harus lari dari pria gila ini.
Namun saat Sari berlari, David mengejarnya hanya dengan dua langkah.
Hap. David meraih pinggang Sari dan menggendongnya.
“Aku menginginkannya lagi.” Kata David di telinga Sari.
“Tidak, Lepas. Orang gila!” Teriak Sari.
Cuih. Sari meludahi wajah David. Lalu David melemparkan tubuh Sari lagi ke ranjang. Ia mengusap ludah yang menempel di pipinya, lalu menjilatnya.
“Ternyata kamu liar juga. Well, aku suka wanita liar. Sangat menantang.” Ujar David yang tengah merangkak mendekati Sari di tempat tidur besar itu.
“Lepaskan Aku!” Sari menahan dada bidang David.
David menatap tajam Sari. Ia melihat dengan intens wajah manis itu. Walau matanya sembab dan tak lagi ada make-up, tapi Sari tetap terlihat manis dengan wajah khas Asia.
David mulai menjilat pipi Sari, membuat Sari kembali menangis.
“Jangan aku mohon!” Sari memalingkan wajahnya, menghindari setiap ciuman David pada wajahnya.
“Mengapa kamu tidak bisa menghargai wanita? Padahal kamu lahir dari seorang wanita.” Kata Sari lirih, tapi sangat terdengar jelas oleh David.
Rahang David langsung mengeras. Ia benci jika ada seseorang menyebut ibunya. Ia benci dengan wanita yang telah melahirkannya, karena wanita itu selingkuh persis di depan mata David ketika ia masih brusia 10 tahun. Ibunya adalah wanita yang sering bergonta ganti pasangan, walau sang ayah selalu memaafkannya, hingga akhirnya ia pergi dan meninggalkan David beserta sang ayah. Hingga kini ibu David tak di ketahui keberadaannya. Sejak saat itu David di asuh oleh ayah dan neneknya. Hal itu membuat ia benci kepada wanita dan tak menghargainya. Bahkan ia pun tak pernah merasakan cinta, karena selama ini ia hanya bermain-main saja.
David membuka paksa selimut yang masih di pegang Sari.
“Tidak.” Teriak Sari yang merasakan hentakan keras tangan David menghempas selimut tebal itu.
Sari masih terisak dengan deraian air mata yang semakin deras dan rambut yang berantakan. Namun, di mata David hal itu membuatnya terlihat sexy.
David semakin brutal, ia menggigit leher Sari yang masih terllihat merah akibat semalam. Sari mengigit bibir bawahnya, jeritannya tak lagi berarti.
Bles, kejantanan David kembali tertanam pada kewanitaannya. Sari memejamkan mata, membuat air mata itu semakin terasa mengalir di pipinya.
“Ayah, Ibu. Tolong Sari.” Gumamnya.
David terus menghentakkan sesukanya. Walau sekarang David melakukan dengan lembut, tapi tetap Sari membenci pria ini.
David sangat menikmati setiap penyatuannya pada gadis ini. Seperti tak ingin berhenti dan ingin melakukannya lagi dan lagi, karena rasa ini tak ia rasakan pada wanita sebelumnya.
Setelah lebih dari satu jam David memperdaya Sari, akhirnya suara itu menggema, ia berteriak karena mendapatkan pelepasannya.
“Aaaa.. Nggg."
Ia ambruk di samping Sari. Tapi Sari tak bergerak seolah telah mati rasa.
Beberapa menit, pandangan Sari kosong, pikirannya melayang ke masa kecilnya. Ayah ibu yang selalu menyayanginya, tak pernah membentaknya apalagi memukul. Ayah ibu yang berada jauh di kota yang berbeda. Ia rindu kedua orangtua dan adik laki-lakinya. Ia ingin pulang, ingin menangis dan mngadu pada ayahnya bahwa ia telah di sakiti lelaki brengsek. Lelaki yang sama sekali tak di kenalnya. Lelaki yang tak pernah memberinya makan tapi menyiksanya begitu hebat.
Sari menoleh ke arah David yang sedang menutup matanya karena kelelahan. Ingin sekaii ia mencekik pria laknat ini. Iangin sekali ia memotong alat vitalnya. Namun sekelbat wajah ayah, ibu, dan adiknya merubah pikiran jahat itu. Ia bangkit dan mengambil kemeja David untuk ia kenakan.
“Aw.. Sshh.” Rintih Sari saat melangkah.
Namun Sari tetap melangkah dan keluar meninggalkan David yang masih tak berdaya berbaring di tempat tidur besar itu.
Sari pergi tanpa membawa apapun. Yang ia cari hanya dompet yang berisi uang dan identitasnya, ia melupakan ponsel yang masih tergeletak di sana.
Sari menghapus jejak air mata di pipinya, ia pun merapihkan rambutnya yang berantakan.
Sesampainya di lift. Seorang pria dengan wajah yang ia kenal masuk bersama seorang wanita sexy. Sari kenal, karena pria itu adalah tunangannya yang membuat ia menangis semalam sebelum bertemu Inka.
Sari memundurkan dirinya hingga ke pojok, agar tak di lihat pria itu. Namun pria itu seperti merasakan sesuatu. Ia menoleh ke arah Sari, tapi Sari berusaha berlindung pada tubuh besar di depannya yang sedang berdiri.
Setelah keluar dari hotel itu, Sari menahan taksi dan menaiki menuju tempat kos nya. Ia menatap hotel itu dengan tajam.
“Aku tidak akan pernah lupa tempat ini.” Gumamnya.