Istriku Canduku

Istriku Canduku
serasa dunia milik berdua


"Baiklah, jika urusanmu belum selesai, aku keluar saja." suara dingin Mario.


"Sayang, kamu ke sini kan mau ajak aku makan siang. Kebetulan urusanku dengan Sasha sudah selesai, kita bisa makan siang bersama. Bagaimana?" Tanya Inka tersenyum menatap ke arah Mario lalu berpindah pada Sasha.


"Tidak, Miss, terima kasih. Setelah ini, saya masih ada urusan yang lain." Jawab Sasha beralasan.


"Ayolah, Sha!" Inka merajuk dan memegang tangan Sasha.


Sasha menoleh ke arah Mario. Kepala Mario menggelenģ, mengisyaratkan agar tidak menuruti kemauan Inka. Inka yang sedang menatap Sasha, lalu mengikuti arah bola mata Mario. Mario langsung bersikap biasa, ketika arah mata Inka sudah berada padanya.


"Aku tidak mau ada orang lain, sayang. Ini makan siang kita berdua." Mario masih dengan suara yang dingin.


"Oh, sayang sekali."


"Baiklah, jika sudah tidak ada lagi yang harus saya tanda tangani, saya permisi. Terima kasih, Miss." Sasha pamit dan mengulurkan tangan pada Inka, lalu Mario.


"Baiklah, untuk urusan yang lain, kamu bisa langsung ke Miss Sari." Kata Inka, sebelum Sasha pergi.


"Baik, Miss." Sasha mengangguk dan berlalu dari hadapan Mario dan Inka.


Sepanjang perjalanan menuju Restoran. Mario diam seribu bahasa. Mereka larut dalam pikirannya masing-masing. Inka wanita yang paling pandai menyembunyikan perasaannya. Ketika ia cemburu, bukan marah atau kesal, justru ia akan tampak biasa saja dan tetap tersenyum. Padahal hatinya, jangan di tanya seperti apa? pasti ada rasa nyeri di dada. Berbeda dengan Mario yang kesal dengan sikap Inka yang tak cemburu padanya. Inka tahu persis Sasha itu mantan kekasihnya. Namun, sikapnya biasa saja, malah seolah ingin dekat dengan mantan kekasihnya itu. Wanita mana yang akan bersikap seperti itu pada mantan kekasih suaminya, terlebih dia adalah cinta pertamanya.


"Kamu marah?" Tanya Inka, yang akhirnya memecahkan keheningan di tengah perjalanan mereka.


"Untuk?" Mario balik bertanya dan langsung di jawab dengan bahasa tubuh Inka yang mengangkat bahunya.


Mario memarkirkan mobilnya, di sebuah Restoran Jepang dengan konsep makan sepuasnya. Mario menahan tangan Inka, sebelum ia keluar dari mobil.


"Jangan bersikap seperti itu lagi! Sasha hanya masa lalu, dan masa kiniku adalah kamu. Jangan pernah berpikir dia masih berarti dalam hidupku, karena yang berarti sekarang dalam hidupku adalah kamu." Mario mengucapkan kata-kata itu dengan sangat romantis. Pasti setiap orang yang mendengarnya akan melting.


Inka terdiam sejenak. Matanya terus menatap Mario mencari, apakah ada kebohongan di sana? Namun, tidak terlihat. Mario tulus berkata itu. Inka langsung memeluknya.


"Maaf meragukanmu." ucap Inka di telinga Mario.


"Aku mencintaimu, dan hanya kamu." Mario mencium bibir Inka.


Mereka beradu saliva dan saling mengecap dalam durasi yang cukup lama. Hingga Inka mulai kehabisan oksigen. Mario pun menyudahi pangutannya. Kemudian, tangannya mengelus bibir bawah Inka yang tebal dan terbelah. Ia sangat menyukai bibir Inka dan semua yang ada di dirinya.


"Aku juga mencintaimu, hanya kamu." Bibir Mario tersenyum lebar, mendengar pernyataan cinta dari Inka.


Setelah makan siang, mereka jalan-jalan dan menghabiskan waktu bersama. keduanya tak lagi ke kantor masing-masing. Mario mengajak istrinya berbelanja. Ia memang suami yang royal. Inka di manjakan dengan barang-barang branded limited adition. Mario juga membelikan istrinya gelang yang di lapisi berlian dan kosmetik mahal. Selesai berbelanja, Inka mengajak suaminya nonton. Mario memang tidak suka nonton bioskop. Itu terlihat, setiap kali mereka sedang bersantai di ruang TV apartemennya, Mario akan lebih memilih memainkan ponselnya, di banding menonton, walau tetap ia akan berada di ruang itu untuk menemani Inka.


"Kamu duduk aja di situ, aku yang antri." ucap Inka pada Mario sambil menunjuk kursi tunggu yang tersedia di sana.


"Kenapa ga bilang, kalau mau nonton? Aku bisa pesankan tempat tanpa harus antri." Kata Mario, yang masih setia mengandeng pinggang Inka di sampingnya.


"Ngga perlu, kak. Aku malah suka antri, bisa sambil liat-liat jadwal film yang lain."


"Ya udah kalau gitu aku temenin."


"Seriusan? Capek loh berdiri lama." ucap Inka meledek 'si sultan'.


Mario tergelak dan mengigit leher Inka. yang entah sejak kapan posisi Mario sudah melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Inka.


"Aww..." Inka menjerit, membuat orang di depan dan di sampingnya menoleh.


"Ish.. kamu sih!." Mario hanya tersenyum melihat kekesalan Inka.


Tangan Mario tak pernah lepas menggenggam tangan Inka, dari mulai memasuki bioskop, hingga film yang di suguhkan itu selesai di putar. Tidak jarang, Ketika berjalan, Mario mengusap kepala Inka dan menggandeng pundaknya. Mereka seperti dua insan yang tengah di mabuk asmara. Dunia serasa milik berdua.


****


Perhelatan fashion show perdana yang Inka gelar segera di mulai. Dekorasi yang indah di iringi lampu kerlap kerlip menambah ke glamoran acara ini. Sudah ada orang-orang terkenal yang duduk untuk mengikuti acara tersebut, tak terkecuali Mario. Ia sudah berada di sana sejak awal untuk mendukung sang istri.


"Hai.. Rio? Mario?." ucap seorang pria yang duduk di sebelahnya.


"Masih inget gue?" Tanya pria itu lagi.


"Oh my Good, Brian." Mario memeluk pria itu dari samping. "Apa kabar bro? lo sekarang udah di sini?"


"Iya, nasib gue ga jauh bedalah sama lo, di suruh balik buat pegang usaha bokap." Brian adalah teman kuliah Mario di LN.


"Yah, begitulah, mungkin kita nanti kalau udah punya anak dan tua, akan seperti mereka."


"Wah.. wah.. wah.. kata-kata lo udah kaya orangtua aja. Oiya lo udah nikah ya, katanya salah satu designer yang ikut acara ini istri lo. wah hebat lo, Bro." ucap Brian.


Mario mengangguk dengan senyum


"Itu istri gue." Dengan bangga, Mario menunjuk ke arah Inka, yang sedang berdiri di panggung.


"Pantes, udah insyaf lo. Hahahaha... I know, I know." ledek Brian.


Mario menanggapinya dengan senyum.


Tiba-tiba ada sebuah insiden di panggung. Ada seorang model yang terpeleset, ketika membawakan bunga yang akan di serahkan pada panitia untuk salah satu designer, pada saat acara penutup. Inka mencoba membantu model itu berdiri, karena ia jatuh persis di hadapan Inka. Mario melihat inaiden itu dengan jelas dan Mario tahu siapa model yang terpeleset itu.


Sasha berganti pakaian dan tidak keluar sama sekali. ia sangat malu. Inka menghampiri Sasha di ruang ganti untuk menyatakan simpatinya.


"Maaf, aku mempermalukanmu di hadapan banyak orang." ucap Sasha dengan lesu.


"Sudahlah, Sha. Tidak apa." Inka tersenyum dan mencoba menghiburnya, lalu pamit karena Mario sudah menunggunya dari tadi untuk pulang.


Setelah di rasa gedung sudah sepi dan hening. Sasha berlari menuju toilet. Sepanjang perjalanan menuju toilet, air matanya sudah berjatuhan. Sasha adalah model baru yang usianya sudah di bilang tidak muda lagi. Kalau bukan berkat bantuan Mario mungkin akan sulit memasuki dunia itu. Untungnya Sasha memiliki wajah imut dan bertubuh ramping, membuatnya tak terlihat seperti yang sudah memasuki usia 30an.


"Kamu ngga apa-apa?" Mario menghampiri Sasha yang tengah menangis di toilet.


Toilet itu sepi, karena acara sudah selesai. Mario yang masih berdiri menunggu Inka di luar, mendapati Sasha yang tengah berlari. Lalu, Mario mengejarnya.


"Aku ga apa-apa, Yo." ucap Sasha sambil terus menangis.


"Aku ga berguna, Yo. Ga ada keahlian yang ku miliki, dari dulu aku bisanya hanya merepotkan orang lain. Aku benci diriku sendiri." Isak tangis Sasha semakin kencang.


"Sudahlah, Sha. Semua orang pernah melakukan kesalahan."


"Aku malu? Yo. Malu sekali, apalagi ini debut pertamaku." Mario memeluk kepala Sasha, membiarkan Sasha untuk menangis sepuasnya.


Tanpa mereka sadari, di toilet itu, sudah ada seorang wanita di dalamnya. Yang dengan jelas mendengar semua percakapan mereka.


Dada Inka begitu nyeri, melihat Mario tengah memeluk Sasha, yang ia intip dari sela-sela bilik kamar mandi yang menghadap meja wastafel panjang. Ia mendudukkan dirinya pada kloset yang tertutup. Mencoba menahan tangis dan menutup mulut dengan kedua telapak tangannya, agar tak bersuara.