Istriku Canduku

Istriku Canduku
seperti seorang intel


Enam bulan berlalu, rencana Inka untuk melepas alat kontrasepsinya hanya sebuah rencana, hingga kini belum terlaksana. Butik yang Inka bangun semakin lama semakin berjaya. Untuk menjadwalkan pertemuan dengan dokter Mediana, ibu dari Mely sahabatnya saja rasanya sulit sekali. Jika Inka bisa, dokter mediana tidak bisa, dan sebaliknya jika dokter Mediana bisa justru Inka yang tidak bisa.


“In, ini coba minum, kebetulan temen mama baru pulang umroh. Dia membawakan obat penyubur untuk kamu. Banyak yang bilang ini ampuh loh, In” Ujar Laras, Ketika mereka berdua sedang berada di taman.


Inka tersenyum dan mengambil dua kotak obat yang di berikan Laras. “Iya, nanti Inka coba. Terima kasih ya, Ma.”


“Kamu sudah periksa, In. Maaf ya, mama jadi ikut campur.” Laras berkata dengan sangat berhati-hati.


Inka langsung memeluk ibu mertua yang sudah di anggap seperti ibu sendiri itu.


“Iya, Ma. Inka mau periksa. Kebetulan dokternya itu ibu temen Inka, Ma. Jadi lebih leluasa untuk konsultasinya. Hanya saja jadwal kita ga pernah pas, jadi sampai sekarang Inka belum menemuinya.”


“Ya sudah kalau begitu, jika kamu butuh teman, nanti mama siap untuk menemani.”


“Terima kasih, Ma. Inka sayaang banget sama mama dan papa.”


“Kami juga menyayangimu, Na. Kamu sudah seperti anak perempuan kami yang...” Perkataan Laras terputus.


“Yang apa? Ma,” Tanya Inka bingung.


“Yang lama kami inginkan.”Mendengar jawaban Laras, Inka pun langsung memeluknya erat.


****


Mario dan Sasha telah resmi bercerai secara agama. Mario mentalak Sasha di hadapan ustadz, Andre, dan Riska. Sasha dan Riska menerima dengan hati lapang, karena seperti ini saja, mereka sudah sangat bersyukur. Mario tetap memenuhi kebutuhan mereka, apalagi Bunga. Mario sangat menyayangi putrinya Sasha itu, ia selalu menemani Bunga ketika kontrol jantung, dan tidak pernah absen untuk menelepon Sasha untuk menanyakan perkembangannya. Bagi Mario, Bunga ibarat seorang keponakan yang lahir dari adik perempuannya.


Seperti saat ini, Mario tengah berada di toko perhiasan. Ia ingin sekali membelikan Bunga gelang dan tidak lupa ia membelinya juga untuk istri kesayangannya.


“Saya ambil yang ini satu, dan yang ini satu.” Mario menunjuk kalung dengan liontin berbentuk hati, yang di sisipkan Berlian di tengah, untuk Inka. Sedangkan gelang dengan simbol hello kitty di tengah, itu untuk Bunga.


“Suratnya di buat terpisah ya.” Mario berkata lagi. Pelayan Jewelery itu hanya mengangguk patuh.


Kedua surat itu, Mario simpan di sakunya.


Mario sudah siap untuk menjemput Inka di butiknya, rencanaya malam ini, ia ingin candle light dinner bersama istrinya.


Mario berlari keluar dari mobilnya, mendekati Inka yang ingin meraih gagang pintu mobil.


“Aku bukain,” ucap Mario sambil meraih gagang pintu itu.


“Apa sih, lebay. Bucin ya, kamu sekarang.” Inka tertawa renyah dan memasuki mobil Mario.


Mario berlari memutari mobilnya untuk duduk di posisi kemudi.


“Iya nih gara-gara kamu. Tanggung jawab pokoknya.” Keduanya pun sama-sama tertawa.


Mario dan Inka sampai di sebuah Restoran mewah di daerah pantai kota Jakarta. Mereka sudah di sambut oleh pelayan. Mario memesan tempat yang paling romantis. Dekat dengan panorama alam yang menyuguhkan udara pantai di malam hari. Di sana pun sudah ada lampu kerlap kerlip yang berbentuk ‘love'.


Tak henti-hentinya Inka tersenyum, memperlihatkan jejeran giginya yang putih dan lesung pipi kecil seperti titik di kedua sudut bibirnya.


“Ini, kamu yang siapin?” Tanya Inka sambil menutup mulutnya yang sempat ternganga.


Inka tertawa. “Kalau itu mah, aku tahu.”


Kemudian, Mario menarik kursi untuk Inka duduki, barulah Mario duduk di kursinya sendiri.


“Tapi ini gratis kan? Aku ga harus bayar tengah malam?” tanya Inka sambil tersenyum, sontak membuat Mario tergelak.


“Hahahahha... Aku sudah ngga perlu lagi barter sebagai alasan untuk meminta hal itu, karena kamu sendiri sekarang yang selalu minta duluan.”


Pernyataan Mario membuat Inka kalah telak. Wajahnya sudah sangat merah merona, karena menahan malu.


Di akhir makan malam, Mario mengeluarkan kotak perhiasaan yang baru ia beli. Inka hanya berseri, tatkala Mario memakaikan kalung itu pada lehernya. Lalu Mario mengecup leher jenjang Inka, setelah memasangkan kalung itu. Mata Inka terpejam, merasakan kecupan yang di beri suaminya itu.


Sedari tadi, Raka yang juga sedang makan malam bersama kliennya di sana, melihat pemandangan romantis itu. Raka tersenyum senang, melihat putrinya bahagia. Namun secara bersamaan, Raka pun kembali merubah ekspresinya.


Raka ingin menghampiri pasangan suami istri itu, namun ia lebih memilih untuk berdiri di ujung Resto yang menghadap ke pantai. Ia menghirup udara banyak-banyak sambil memegang pagar besi bagunan restoran itu. Dadanya terasa sesak, ingin sekali ia menangis. Sungguh Raka pun rindu pada putrinya.


“Papa.” Inka bergumam, tetapi mario mendengarnya.


“Mana papa?’ Inka menunjuk arah seorang pria paruh baya yang tengah berdiri membelakanginya.


Mario dan Inka menghampiri Raka. “Papa..” Keduanya menyapa pria itu.


“Hai Inka, Mario. Kalian di sini?” Tanya Raka.


“Iya, papa sendirian?” Tanya Inka.


“Oh iya, papa tad habis bertemu klien.”


“Apa kabar, Pa?’ Mario mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangan mertuanya itu, di susul Inka.


“Papa, baik. Semua di rumah baik.” Raka tersenyum.


“Kalia apa kabar? Papa mamamu juga sehat, Yo.”


“Alhamdulilah Papa dan Mama sehat, kami juga baik. Oh ya, maaf ya pa, kami jarang berkunjung ke sana.” Ucap Mario.


“Tak apa, papa mengerti kesibukanmu, Yo. Dan kesibukanmu juga, In. Papa dengar butikmu semakin berkembang.”


“Iya pa, lumayan. Berkat doa Papa, dan sokongan dana dari ini,” Inka menunjukkan ibu jarinya pada Mario sambil tersenyum. Raka dan Mario ikut tersenyum.


Tak lama berbincang, Inka pamit untuk pergi mengangkat ponselnya yang berdering.


“Ini dari Sari,” ucap Inka setelah melihat ponselnya. Mario mempersilahkan Inka untuk mengangkat telepon itu.


“Pa, Inka ke sana dulu, ya” Inka menjauh dari Raka dan Mario. Ketika Inka sudah tak lagi berdiri di antara mereka. Raka mendekat pada Mario.


“Yo, ada yang ingin papa tanyakan.” Raka berkata dengan wajah tegas, seperti seorang intelegen.