
“Sayang.. celana dalamku ngga ada.” Teriak Mario dari dalam kamar mandi saat Inka tengah bermain dengan kedua anaknya di kamar mereka.
“Sudah aku letakkan di situ, cari dulu.” Jawab Inka dengan berteriak, sambil menyusun pagar plastik yang berada persis di depan tempat tidurnya, ia membuat sebuah lingkaran untuk tempat bermain kedua anaknya, agar tak keluar jauh, mengingat Maher dan Mahira sudah aktif merangkak dan mulai berdiri sendiri.
“Sayang... ngga nemu, singletku juga ngga ada.” Mario menongolkan kepalanya dari pintu kamar mandi yang berjarak lumayan jauh dari tempat istrinya saat ini.
Inka menghela nafasnya kasar. Lalu berjalan menghampiri suaminya yang sedari tadi berteriak tidak jelas, bilang saja ingin di layani, padahal ia yakin sudah menaruh segala keperluan suaminya itu di sana. Ia menoleh ke arah Maher dan Mahira yang telah aman untuk di tinggalkan guna mengurusi bayi besarnya yang sedang rewel dan berisik.
“Apa sih, Kak? Dari tadi teriak-teriak aja.” Ucap Inka cemberut saat sudah berada di dalam kamar mandir, dan melihat suaminya yang berdiri di depan cermin dengan interior yang di design menyatu pada sebuah lemari kecil di bawahnya, dan pada sisi kiri kanan.
“Aku ngga nemu pakaian dalamku.” Kata Mario sambil mmemainkan alat cukurnya.
“Bukan ngga nemu, tapi karena memang belum di cari.” Jawab ketus Inka, yang langsung membuka lemari di sebelah Mario berdiri.
Mario membalas dengan tertawa, lalu membersihkan dagunya dari sisa sabun yang menempel. Kemudian, ia menghampiri istrinya dengan melingkarkan kedua lengannya pada perut Inka.
“Tau aja sih. Aku kan paling malas mencari barang.” Ucap Mario yang tengah menempelkan dagunya pada pundak mulus Inka, dan sesekali mengecupnya.
“Manja.” Jawab Inka dengan memegang kepala Mario yang berada di pundaknya.
“Nah, ini dia.” Inka mengambil barang yang Mario cari. Lalu memutar tubuhnya.
“Ini, mau aku pakaikan juga?” Tanya Inka meledek.
“Boleh.” Mario mengangguk dengan senyum menyeringai.
“Mau nya. Huuu...” Balas Inka dengan cibiran, dan langsung meninggalkan Mario yang masih berdiri di sana.
Mario tertawa, dan menepuk bokong Inka yang mulai belum jauh, hingga Inka berlari agar tak di jangkau lagi.
Hari ini Mario tak lagi mengurus pekerjaan, ia ingin menepati janji untuk membawa keluarganya melihat tempat-tempat yang indah di kota ini.
Mario telah siap dengan mengenakan kaos lengan panjang berbahan rajut tipis bercorak garis vertikal warna abu-abu hitam yang berwarna dasar abu-abu itu, di padu celana cargo hitam panjang. Inka pun sama, ia juga mengenakan kaos rajut tipis berlengan panjang dengan warna abu-abu terang yang menutupi hingga ke bagian leher, di padu celana pensil berbahan katun warna hitam. Ia pun menguncir tinggi rambutnya ke atas. Sedangkan Maher dan mahira juga mengenakan warna baju yang sama seperti kedua orang tuanya. Entah mengapa hari ini mereka ingin sekali tampil couple. Ooo.. So sweet!
Mario tampak gagah, sambil berdiri di depan cermin kamarnya, hendak memakai jam tangan. Kedua baju lengan panjangnya di singkap hingga ke siku. Bulu-bulu di bagian dagunya pun sudah rapih dan sangat tipis, tidak tebal seperti sebelumnya. Permintaan Inka yang tak memperbolehkan Mario mencukur bulu di dagunya hingga bersih tak tersisa, karena ia menyukai itu yang menimbulkan sensasi tersendiri ketika Mario menciumnya.
Tok.. tok.. tok..
Pintu kamar Mario dan Inka berbunyi, dan Mario sengera membukanya, karena kebetulan posisinya yang paling dekat dengan pintu yang tenagh di ketuk itu.
Ceklek..
“Hai, Den. Saya sudah siap.” Sukma menampilkan jejeran giginya, setelah Mario mebuka pintu.
“Beuh, gue kira siapa.” Kata Mario yang sudah membuka pintu lebar, lalu meluyur kembali ke dalam kamarnya lagi.
“Kamu cantik, Suk.” Ucap Inka yang melihat Sukma dengan pakaian santainya.
Sukma tengah memakai celana bahan tiga perempat berwarna coklat tua, di padu kaos lengan pendek yang berwarna mustard dengan sepatu sneakers putih.
“Ck.. Gaya emang.” Ledek Mario, sambil meneguk air mineral di samping Inka.
“Ini kan, baju dari Non Inka. Ngga sia-sia saya punya majikan designer.” Jawab Sukma bangga.
“Siapa tau nanti di jalan, ada cowok Dubai yang naksir saya. Ahay.” Ucap Sukma lagi, sambil menepuk kedua tangannya dengan mata terpejam.
“Ngimpi lu.” Mario tersenyum.
“Biarin aja sih.” Inka menyenggol perut Mario dengan sikunya.
****
Mario dan keluarga tengah sudah berada di dalam mobil, dengan supir yang akan membawa kemanapun yang mereka inginkan. Supir yang memang sudah di sediakan oleh rekan kerja Mario yang merupakan salah satu konglomerat di kota terkaya itu. Kebetulan supir ini pun mahir berbahasa Indonesia, sehingga memudahkan mereka untuk berkomunikasi.
“Wah gedungnya tinggi-tinggi banget.” Mata Sukma berbinar, ia tengah duduk di samping supir dan menggendong Mahira dalam pangkuannya.
“Norak deh lu.” Sahut Mario yang juga tengah menggendong Maher dalam pangkuannya, dan Inka yang bersantai di sebelahnya.
“Itu apa, Non?” Tanya Sukma.
“Dubai mall.” Jawab Inka.
“Itu mall terbesar di dunia, Suk.” Sambung Mario.
“Ooo..” Sukma membulatkan bibirnya.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di pintu masuk utama Dubai Mall.
Dubai Mall adalah tempat perbelanjaan terluas di Dubai dan termasuk salah satu mall paling besar di dunia. Berbagai butik dan toko terkenal dari seluruh dunia bisa di temukan di sini. Mall ini juga di desain dengan interior yang sanagt megah dengan sebuah akuarium berukuran besar. Akuarium di Dubai mall selain mempunyai ukuran yang sanagt besar juga di huni oleh beragam hewan laut seperti ikan hiu, ikan pari manta, dan ikan menakjubkan lainnya.
“Ya ampun bagusnya..” Sukma menganga melihat takjub pemandangan di depan matanya, dengan tangan yang tetap mendorong troli si kembar.
Mario dan Inka berjalan di belakang Sukma yang sedang membawa kedua anaknya.
“Sayang, mampir ke butik ini dulu.” Inka menarik lengan Mario.
Inka selalu mengunjungi setiap butik yang ia lewati, sebagai referensi imajinasinya untuk melakukan inovasi pada gambar designnya nanti. Ia meneliti setiap model-model pakaian yang tengah trend di negara ini, mungkin akan sangat menarik jika di padukan dengan gaya fashion yang ada di negaranya.
“Es krim?” Mario menawari Inka, dan segera membelinya tiga.
“Eh lo ngapain duduk di situ, Suk. Sini dekat sini aja.” Ajak Mario yang melihat Sukma tengah duduk berjauhan darinya dan keluarganya, saat tengah bersantai di tengah-tengah mall yang megah itu.
“Saya di sini aja, Den.” Ucap Sukma yang memang sengaja duduk di samping pria tampan yang juga tengah duduk sendirian.
“Dasar ganjen lu.” Ledek Mario.
Tak lama kemudian, Mario selesai membeli es krim dan memberikannya pada Sukma, lalu Inka.
“Wah terima kasih, Den.” Ucap Sukma yang merasa terharu dengan sikap majikannya yang menyebalkan itu.
“Ini gue lagi baik.” Jawab ketus Mario.
“Ya iyalah, Den. Kalau lagi sakit mah Den Mario ngga bisa jalan-jalan.” Jawab Sukma di iringi awanya.
“Tuh kan assisten rumah tangga kamu tuh kelakuannya, di baikin ngelunjak.” Ucap Mario setelah mendaratkan bokongnya di samping Inka.
Inka hanya tersenyum menagnggapi gerutuan suaminya.
“Sayang, mau donk di jilatin kek gitu.” Mario menatap Inka yang tengah memakan Es krim yang Mario berikan tadi.
“Apaan sih.” Inka tersenyum lebar yang tengah mendapati Mario tak lepas memandangnya. Ternyata sedari tadi Mario memperhatikan Inka yang tengah asyik memakan es krim dengan gerlingan arah pandang ke sana kemari.
“Kamu senang?” Tanya Mario dengan melingkarkan tangan ke pinggang Inka dari samping.
Inka mengangguk. “Senang.”
“Hanya di belikan es krim senang?” Tanya Mario lagi, dengan mencodongkan wajahnya.
“Iya.” Inka tersenyum dan mengangguk, sambil tetap menjilat es krim dalam bentuk cone itu.
Mario tergelak dan mengambil kepala Inka untuk di sandarkan pada dadanya membuat, es krim yang Inka pegang bergeser dan mengenai hidungnya. Alhasil pipi dan hidung Inka sudah penuh di lumuri es krim itu.
Mario tertawa, karena Inka sudah mulai merengut, karena sadar akan kondisi wajahnya.
“Sini aku bersihin.” Kata Mario dengan menjilat pipi dan hidung Inka yang penuh dengan noda es krim.
“Selalu manis.” Ucap Mario setelah melakukan aksinya.
“Malu.. kak.” Inka memukul pelan dada Mario yang dari tadi sudah berontak karena jilatan lembut suaminya.
Pasalnya ini di negara yang banyak aturannya, bisa-bisa mereka di kenakan pasal karena tengah berbuat mesum di pusat keramaian.