
"Kak..." Panggil Inka dari kejauhan.
Mario yang sedang bersama para pekerja dekorasi itu pun menoleh.
"Ada apa lagi, Sayang?" Tanya Mario lirih, sudah semalaman ia tak tidur.
Hari ini Raka dan Indah akan melangsungan pernikahan untuk kedua kalinya, tepat di kediaman Raka yang berada di daerah puncak. Rumah yang asri dan sejuk ini adalah rumah yang di bangun Raka untuk menikmati hari tuanya bersama Indah.
Semula, Indah hanya menginginkan pernikahan sederhana dengan cukup di hadiri keluarga dan kerbat dekat. Namun, realisasinya berbanding terbalik. Pernikahan yang akan di gelar beberapa jam lagi ini, justru jauh dari kata sederhana, karena Raka meminta Mario ini dan itu yang di luar dari permintaan Indah. Sehingga, Mario mengiyakannya dengan terpaksa. Alhasil, Mario kerepotan sendiri mengurus segala permintaan ayah mertuanya itu.
"Huft.." Mario duduk di area dekorasi yang sudah terlihat rapih.
Ia memandang Maher, Mahira, dan Deandra yang riang bermain bersama dari kejauhan. Adhis dan Vino pun membantu mensukseskan acara ini, walau mereka hanya membantu tenaga, mengingat usaha retailnya yang sedang meniti kembali karena sebelunga sempat mengalami penurunan.
"Sayang. Capek ya?" Inka mengelus pundak suaminya dan menyandarkan kepalanya dari belakang.
Mario tersenyum dan meraih kepala sang istri.
"Papa kamu banyak maunya."
Inka membungkuk dan memeluk bahu Mario yang sedang duduk.
"Anaknya juga banyak maunya ya?" Tanya Inka manja.
"Kalau kamu yang banyak mau, dengan senang hati aku turuti. Karena nantinya aku pasti minta imbalan."
"Aaaa..." Teriak Inka dengan irama manja.
Mario tertawa.
"Untung saja, acaranya sore, jadi masih ada waktu untuk merubah menjadi yang papa kamu mau."
"Suami siapa sih ini? Makin cinta deh." Inka meledek Mario dan mencium kedua pipinya.
Mario meraih pinggang Inka dan mendudukkan di pangkuannya.
"Pokoknya setelah ini, aku minta imbalan." Kata Mario, sambil menyelipkan anak rambut di wajah Inka ke belakang telinganya.
"Loh, kan yang minta ini, itu papa."
"Tapi kamu kan anaknya, jadi aku minta imbalannya ke kamu aja." Jawab Mario tersenyum.
Inka tertawa. Ia tahu betul imbalan apa yang di inginkan Mario.
"Baiklah, Tuan Mario Jhonson. I am yours." Inka mencubit hidung mancung suaminya.
Mario tertawa dan memeluk erat tubuh sang istri. Hampir dua belas tahun, mereka menikah dan banyak suka suka yang mereka lalui bersama, membuat mereka semakin mengerti karakter masing-masing. Inka sudah bisa mengimbangi sikap mesum suaminya,m dan membalas candaannya.
Vino berdiri dari kejauhan, sambil menikmati kopi buatan sang istri. Ia melihat pemandangan dua sejoli yang sedang bermesraan di sana, dua sejoli yang wanitanya adalah mantan kekasihnya, mantan yang sempat ia kejar hanya untuk memuaskan ambisi dan rasa penasarannya saja.
"Masih kesal melihat kakakku dan suaminya?" Tanya Adhis dari belakang
Vino menoleh. Ia tersenyum dan meminum kopinya lagi.
"Menurutmu seperti itu?" Tanya Vino.
Adhis mengerdikkan bahunya dan menyeruput kopi yang ia pegang.
Vino tersenyum.
"Aku bahagia bersamamu dan Inka bahagia bersama suaminya. Lebih baik menjaga kebahagiaan yang sudah ada, dari pada mengejar sesuatu yang belum tentu akan membawa kita bahagia."
Adhis menempelkan kepalanya di bahu Vino.
"Aku juga menggunakan filosofi itu sekarang."
Vino merangkul tubuh istrinya dan mereka tertawa bersama, sambil saling menatap.
Matahari tak lagi bersinar terang, semakin lama semakin meredup. Hari sudah semakin sore, para tamu pun sudah berdatangan, tak terkecuali Laras dan Andreas yang datang lebih awal.
"Jeng Indah, cantik sekali, masih terlihat muda." Ucap Laras menemani besannya yang sedang di rias.
"Ah, Jeng Laras bisa saja."
Ceklek
Inka membuka pintu ruang itu perlahan.
"Wah, mama cantik sekali. Pantesan Papa ngejar-ngejar Mama terus." Ledek Inka.
"Kamu, Jangan bikin Mama malu! ada besan di sini."
Laras tertawa.
"Kita itu para wanita yang sudah menaklukkan pria-pria menyebalkan." Jawab Laras, lalu tertawa.
Inka dan Indah pun langsung tertawa mendengar pernyataan itu.
Tok.. Tok.. Tok..
Inka menghampiri pintu yang di ketuk itu dan membukanya.
"Sudah selesai?"
Mario menongolkan kepalanya ke dalam ruangan.
"Wah, Mama cantik, pantes Papa Raka klepek klepek." Kata Mario meledek Indah.
"Iya donk, makanya kamu juga klepek klepek sama anak Mama, kan?" Indah membalas ledekan menantunya.
Lalu, mereka tertawa. Ruang rias mempelai wanita itu pun menjadi menggema dengan suara tawa orang yang ada di dalamnya bersamaan.
Tak lama kemudian, Indah keluar di iringi Laras dan Inka yang berada di sampingnya. Indah duduk persis di samping Raka.
Raka melirik ke arah Indah dan menatapnya lama.
"Tenang, Pak Raka. Sebentar lagi, dia akan menjadi milikmu lagi." Kata Andreas berbisik di samping Raka.
Raka kembali fokus ke depan dan mulai dengan acara sakral. Ia menjabat tangannya dengan tangan pak penghulu, mengingat Indah tak lagi memiliki wali karena semua wali yang berhak menikahkannya sudah berpulang lebih dulu.
Lalu, Raka mengucapkan ijab qobul dengan lantang. Ia mengusap wajahnya lama. Sungguh, ia tak menyangka Indah kembali menjadi istrinya, padahal ini adalah suatu hal yang mustahil, mengingat luka yang pernah ia berikan pada Indah dulu, membuat Raka pesimis untuk mendapatkan Indah. Namunn kini keinginannya menjadi kenyataan. Raka sangat bersyukur atas itu.
Indah mencium punggung tangan suaminya, setelah ijab qobul selesai. Raka pun mencium kening Indah.
"Alhamdulillah." Inka mengusap wajahnya dan menangis. Sungguh hari ini ia sangat bahagia.
Mario merangkul pundak sang istri dan memeluknya.
"Mudah-mudahan kita semua selalu di beri kebahagiaan."
"Aamiin." Jawab Inka yang masih sesegukan di dada Mario.
Di arah yang sama, Adhis pun menangis bahagia dan di peluk oleh Vino yang berada di sampingnya. Adhis bahagia melihat senyum bahagia yang merekah di wajah Raka, walau kebahagiaan sang ayah kini bukan dengan ibu kandungnya, tapi Adhis tetap ikut bahagia.
****
Mario membuka kedua matanya perlahan.
"Iya Pipi ingat. Tapi ini masih pagi, Mahira."
"Tapi pipi harus bangun sekarang, nanti kesiangan."
Inka menyedekapkan kedua tangannya dan tersenyum melihat Mahira yang susah membangunkan sang ayah.
Hari ini sekolah Mahira sedang berulang tahun dan untuk memeriahkan hari jadi sekolahnya itu, mereka mengadakan banyak perlombaan. Salah satunya adalah memasak bersama ayah dan anak perempuannya. Perlombaan ini di ikut sertakan hanya bagi siswa dan orang tua yang mau saja. Mahira yang suka memasak pun memaksa sang ayah untuk bisa ikut dalan perlombaan ini dan Mario pun mengiyakannya.
"Baiklah, Sayang." Mario mencoba bangkit dan berusaha menyadarkan diri.
Dengan langkah gontai, Mario menuju kamar mandi. sedangkan Inka dan Mahira tertawa melihat tingkah Mario yang belum sepenuhnya membuka mata, tapi sudah berjalan. Alhasil, ia menabrak lemari dan pintu kamar mandi yang belum terbuka.
"Upps.. hati-hati, Pi." Teriak Mahira.
"Aww.." Mario meringis mengusap keningnya.
Inka dan Mahira kembali tertawa.
"Di mana kakakmu?" Tanya Inka pada Mahira, setelah Mario masuk ke dalam kamar mandi.
"Dia juga masih tidur."
Lalu, Inka melangkah ke kamar putranya.
Maher hanya mengikuti lomba cerdas cermat dan menggambar dengan mata tertutup. Maher melakukan lomba itu dengan baik kemarin. Ia pun mendapatkan juara satu pada masing-masing kategori itu.
Dan, untuk hari ini ia bersama sang ibu akan datang untuk mendukung adik dan ayahnya.
Matahari begitu cerah, secerah orang-orang yang datang di sekolah Maher dan Mahira saat ini. Lomba memasak antara ayah dan anak perempuannya ini di lakukan di bawah pohon rindang di taman sekolah yang cukup besar.
Ada delapan peserta yang ikut, termasuk Mahira dan Mario yang siap berdiri di depan meja lengkap dengan alat masak di hadapannya.
Di sana lebih banyak di dominasi oleh orang tua muda, walau ada juga yang sudah paruh baya. Namun, Mario terlihat lebih gagah di banding ayah teman Mahira yang ikut dalam perlombaan itu. Sehingga membuat Mario menjadi bintang para mamah muda yang menonton perlombaan itu, tak terkecuali guru Mahira yang juga sesekali menggoda Mario.
Inka tersenyum, sesekali ia pun menampilkan wajah cemberut di hadapan Mario, tapi Mario malah tertawa dan menanggapi candaan menggoda dari guru Mahira yang membuat para mama muda yang menonton itu ikut tertawa.
"Baiklah, acara akan di mulai."
"Bagaimana Papa Mahira sudah siap?" Tanya MC acara itu yang merupakan salah satu guru di sana.
"Oke." Jawab Mario tersenyum sambil menunjukkan ibu jarinya ke atas.
"Aduh melihat senyum Papa Mahira, membuat jantung saya ikut meleleh. Maaf ya Mama Mahira." Celetuk MC itu, sambil tertawa ke arah Inka yang duduk di barisan penonton.
"Aduh, saya juga meleleh meluhatnya."
"Iya, Papanya Mahira ganteng banget sih."
"Macho banget. Haduh kalau saya punya laki begini mah di kekepin terus deh."
Kata-kata itu terlontar dari beberapa ibu-ibu yang menonton di bagian depan, sementara Inka duduk di bagian belakang.
Inka hanya tersenyum mendengarkan celotehan ibu-ibu itu.
Mario menggulungkan kemeja yang berwarna pink itu. Ia memang terlihat keren. Mario dan Mahira dengan kompak melakukan aksinya. Kegiatan seperti ini, memang hal yang tidak jarang di lakukan Mario dan Mahira, ketika sang ayah di rumah. Mario akan meminta bantuan Mahira memasak untuk memanjakan istrinya di hari libur.
"Selesai." Mario menepuk kedua telapak tangannya yang sedikit kotor.
"Yeaa.. Selesai." Mahira pun bertepuk tangan riang.
Sementara, waktu masih berjalan dan peserta yang lain pun masih menata hasil masakannya.
"Wah, Papa Mario dan adinda Mahira telah selesai lebih dulu. Ayo yang lain, semangat masih ada waktu tujuh menit lagi." Kata MC itu.
Lalu, waktu tujuh menit itu hampir berakhir.
"Lima, empat, tiga, dua, satu.. Selesai." Si MC menghitung mundur dan waktu yang di tentukan pun berakhir.
"Tinggal kita lihat, hasil masakan siapa yang paling yummy."
Para juri yang merupakan wakil kepala sekolah di temani oleh bagian kurikulum dan salah satu wali kelas itu pun berdiri dan menghampiri peserta, lalu menyicip hasil masakan masing-masing.
"Hmm..." Kedua petinggi sekolah itu pun menganggu saat mencicipi hasil masakan Mario dan Mahira. Dalam perlombaan ini, mereka memasak spageti bolognese, sebuah masakan yang memang Mario ahlinya.
"Kira-kira hasil masakan siapa yang mendapat nilai seratus."
"Adinda Syakila dengan sang ayah mendapat nilai." MC menunjuk para juri agar menampilkan papan nilainya ke atas.
"80, 80, 70."
"Baillah sekarang Adinda Kayla dengan sang ayah."
"80, 80, 90."
"Sekarang Adinda Mahira dengan sang ayah."
"100, 90, 100. Wah nilai yang sangat besar."
Lalu, MC itu beralih pada kelima peserta lainnya. Ternyata kelima peserta itu pun tak mendapatkan nilai sebesar nilai Mahira dan Mario.
"Wah, juara memasak ayah dan anak perempuan kali ini adalah Adinda Mahira bersama Papa Mario."
Semua bertepuk tangan riang. Begitu pun Inka dan Maher.
"Wah Pipi hebat." Kata Maher mengacungkan ibu jarinya.
"Uuhh.. udah seksi jago masak lagi. Haduh adem banget lihatnya." Kata salah seorang ibu-ibu di sana.
"Hus, jeng dari tadi muji-muji pak Rio, ada istrinya di sana loh."
Mereka melirik ke arah Inka yang juga melirik ke arah mereka.
Inka hanya tersenyum dan menundukkan sedikit kepalanya, sambil melangkah menghampiri suami dan putrinya.
"Yeaa.. pipi hebat." Mahira bertepuk tangan.
"Kalau hanya sphagety, pipi sudah khatam. karena waktu kalian di perut mimi, selalu minta di buatkan ini."
Mario merangkul Inka dan kedua anaknya.
**********
mampir ke karya baru aku yuk guys,, dijamin ngga kalah seru sama Mario dan Inka.