Istriku Canduku

Istriku Canduku
acara tujuh bulanan


Inka mengerjapkan matanya, karena gerakan tangan Mario yang berada tepat di atas gundukan kembarnya itu, membuat tidurnya terusik.


"Ih, kebiasaan banget. Mata merem, tapi tangan ngga bisa diem." Gerutunya, sambil memindahkan tangan suaminya yang nakal.


Mario yang sadar gerakan tangannya di pindahkan, kembali menaruh tangannya di tempat sebelumnya. Inka memindahkannya lagi. Mario menangkup dada Inka lagi.


"Ih, kamu." Inka berbalik dan mencubit lengan suaminya.


"Aku suka, Sayang. kenyal banget." Inka menambah pukulannya ke dada bidang Mario.


"Aww.. sakit sayang." Mario pura-pura meringis.


"Ini namanya kekerasan dalam rumah tangga." Mario memegang dadanya yang tidak sakit, dengan senyum meledek.


Inka hanya memonyongkan bibirnya. Lalu, menurunkan kakinya ke lantai dan berjalan menuju kamar mandi


"Bumil.." Teriak manja Mario.


"Satu kali lagi ya.." rengeknya.


"Ya.. ya.." Mario berkata lagi, sambil mengerjapkan kedua matanya.


Inka menoleh dan berkata sambil tersenyum. "Subuh dulu."


Usia kehamilan Inka saat ini sudah memasuki trimester ketiga. Laras sudah menyiapkan acara tujuh bulanan yang akan di adakan siang ini. Inka pun sudah mengundang ketiga sahabatnya, begitu juga Mario yang sudah mengundang kedua sahabatnya.


****


"Ujang.." Teriak Laras yang tengah memandori beberapa pekerja untuk menata rumahnya, karena sebentar lagi para tamu akan datang.


"Bangku itu di taroh sini aja!" perintah laras lagi.


"Baik, bu." Ujang mematuhi semua perintah majikannya itu.


"Nah.. kan kalau seperti ini lebih bagus kelihatannya." Kata Laras senang.


Andreas keluar dari kamarnya. Laras langsung melihat suaminya yang masih santai.


"Ih, papa. Ķok masih pakai kaos oblong begini sih, baju koko nya kan sudah mama siapkan di tempat tidur."


Kemudian Mario turun dari tangga.


"Mario.. kamu juga kenapa masih belum rapih? Nanti keburu tamu dateng. Bagaimana sih?"


"Iya, Mama sayang. Acaranya masih satu jam lagi kan, santai Ma." Kata Mario.


Andreas menghampiri istrinya. "Iya sih, Ma. Santai aja sih. Lagian semua sudah di siapkan EO kan? Mending mama temenin papa ke kamar, dari tadi papa nyariin singlet kok ngga nemu."


"Alasan." Jawab Laras tersenyum dan mengikuti langkah Andreas.


"Ciye..." Mario meledek kedua orang tuanya, sambil berjalan dengan memegang mug susu hamil.


"Kamu kenapa?" Tanya Inka, setelah mendapati suaminya masuk kedalam kamar sambil senyam-senyum.


"Mama sama papa, makin tua makin mesra aja." Jawab Mario.


"Iya, kak. Semoga kita bisa seperti mama papa kamu ya."


Mario mengangguk. "Aamiin."


Lalu, menyerahkan gelas yang ada di tangannya kepada Inka.


"Di minum dulu susunya, Sayang. Dari tadi pagi kamu belum minum susu hamil ini kan?"


Inka nyengir dan menunjukkan barisan gigi rapihnya. "Oh, iya lupa. Terima kasih suamiku."


Mario tersenyum. "Sama-sama, istriku."


Satu jam kemudian, Inka sudah rapih menggunakan gaun kaftan berwarna putih. Mario pun menggunakan kokp dengan warna yang sama seperti istrinya


"Kamu juga cantik." Mario tersenyum, matanya tertuju pada tubuh istrinya dari kaki hingga kepala.


Entah mengapa Mario senang sekali melihat tubuh istrinya yang tak lagi ramping itu, semua ini memang karena ulahnya. Mario tersenyum lagi, tidak ada bagian tubuh Inka yang belum pernah di gigitnya. Ia hafal betul aroma tubuh itu dan setiap hal yang ada padanya.


Mario dan Inka menuruni tangga. Terlihat tamu sudah ada yang datang. Mereka adalah saudara dari Laras. Tak lama kemudian datang juga saudara dari Andreas. Di sana juga sudah terlihat Raka dan Desi. Ada juga Vino yang sedang menggendong Deandra, di temani Adhis di sampingnya.


Mario dan Inka menghampiri tamu nya satu persatu. Setiap orang yang Inka hampiri akan memegang perutnya dan mengucap doa.


"Hai, Bro.." Rey dan Andre datang bersamaan, tentunya dengan di temani istri masing-masing yang berdiri di sampingnya.


"Hai.." Inka langsung menghamburkan pelukan, ketika melihat Cinta. Lama mereka berpelukan.


"Gue kangen, In. kangen banget." Kata Cinta.


"Sama, gue juga." Balas Inka.


"Bukannya kalian baru ketemuan dua minggu yang lalu ya?" Tanya Rey bingung, karena mereka berpelukan seperti yang tidak bertemu sepuluh tahun saja.


"Biarin aja sih." Kata Cinta mencibir ucapan suaminya.


"Iya sih, kalau cewe ketemu emang kaya gini." Alisha ikut membela.


"Ya.. ya..Oke.." Rey mengalah dan langsung di rangkul oleh Mario dan Andre.


"Hai Rayyan." Mario mengarahkan telapak tangannya ke atas untuk ber-tos pada putra Rey.


"Hai om." Rayyan membalas tangan Mario.


"Makin ganteng aja kamu, Ray." Kata Mario lagi, sambil memeluk tubuh Rayyan.


"Siapa dulu bapaknya." Jawab Rey bangga.


"Gue ngga nanya bapaknya, yang gue tanya itu anaknya." Ucap Mario tak terima.


Andre hanya tersenyum, karena ia sedang tidak membawa kedua putranya.


"Nah lo, Ndre. Haykal sama Omar kenapa ngga di bawa?" Tanya Mario.


"Haykal lagi asyik dengan mainan baru yang di belikan opa nya. Tadi pas kita udah rapih, Omar malah lagi pules. Jadi ngga ada yang di ajak deh."


Andre sudah memiliki dua orang putra, dengan jarak hanya 1 tahun antara anak pertama dan kedua.


Tak lama, Mely pun datang bersama Rasya dan putra putrinya. Lalu, beberapa menit kemudian, Jessy dan Zion datang dengan membawa kedua putrinya.


"Hai, sayangku semua nya.. Maaf ya aku telat." Jessy menghampir sahabat-sahabatnya yang sudah datang dari tadi.


"Udah biasa, Jes." Kata Mely, membuat Jessy tersenyum malu.


"Lu mah, dari dulu sekolah juga telat mulu." Sambung Cinta.


Jessy tergelak. "Jangan gitu donk, gue jadi malu. Maklum, gue kan kaga pake baby sitter, jadi rempong."


"Nyindir." Senyum Mely.


Pasalnya ketiga sahabatnya mendapat pria mapan, sedangkan Jessy tergolong biasa saja, walaupun rumah dan kendaraan roda empat pun, mereka punya.


"Yang penting bersyukur, Jes." Kata Inka.


"Betul banget. Gue sangat bersyukur, apalagi Zion semakin ke sini semakin bertanggung jawab." Jawab Jessy.


"Alhamdulillah." Ucap Cinta, disertai sahabatnya yang lain.


"Acaranya kapan dimulai, Kak?" Tanya Alisha.


"Sebentar lagi, Al." Jawab Inka.


Orang tua, kerabat dan sahabat, hadir semua di sini. Mario dan Inka tak henti-henti menampilkan senyum lebarnya. Laras dan Andreas pun seperti itu, karena untuk mereka ini adalah cucu pertamanya yang sangat di nantikan.