
Inka berjalan sendiri di lorong sebuah hotel. Butiknya meminta ia datang untuk menemui seorang klien. Sebenarnya Inka menolak, tapi tidak bisa, karena teman-teman yang lain sedang menyelesaikan pekerjaannya masing-masing. Seorang klien ini memesan beberapa jas formal, dan ingin Inka yang mendesignnya.
Tok.. Tok.. Tok..
Inka mengetuk pintu hotel itu, tapi tak terdengar suara apapun dari dalam.
Tok.. Tok.. Tok..
Inka mengetuk pintu itu lagi. Namun, tetap tak ada suara. Kamar itu seperti tak berpenghuni. Mengingat hari sudah gelap, membuat bulu kuduk Inka merinding. Pasalnya di lorong kamar hotel itu, hanya ada ia seorang. Sementara kamar yang ia singgahi pun tak ada tanda-tanda kehidupan.
Inka membuka handle pintu kamar itu
Cekelek.. Pintu terbuka.
"Ternyata tidak di kunci." Gumam Inka.
Ia pun masuk dan melangkahkan kakinya perlahan.
"Helo, anybody here?" Inka masih menggunakan bahasa Inggrisnya, karena di sini, bahasa inggris adalah bahasa formal mereka.
Tiba-tiba pintu itu tertutup, membuat Inka terkejut dan menoleh ke arah pintu yang tertutup. Inka lebih terkejut ketika melihat Mario yang berdiri di pintu itu.
Inka segera berlari ke arah pintu dan menarik handle itu agar bisa terbuka. Mario hanya menatap apa yang Inka lakukan. Sedikit demi sedikit, langkah Mario mendekat pada Inka. membuat tubuh Inka terhimpit di antara tubuh Mario dan pintu kamar hotel.
Mario terus menatap mata itu, dan bibir itu bergantian. Jantung Inka semakin berdetak hebat. Ia menahan dada Mario yang sudah kembali bidang.
Mario menempelkan keningnya pada kening Inka, hingga hidung keduanya pun ikut beradu. Nafas Inka tak beraturan, Mario bisa merasakan nafas yang sedang naik turun itu. Mario pun merasakan detak jantung Inka yang berdebar sangat kencang.
Lalu, cup..
Mario ******* bibir yang agak tebal dan terbelah itu. Bibir ranum milik istrinya yang sangat ia rindukan. Namun, Inka hanya diam, hingga Mario harus menggigit pelan bibir itu, dan akhirnya Inka memberikan Mario akses untuk menjelajah rongga mulutnya. Suara kecapan itu terdengar merdu, pangutan yang mereka lakukan terlalu panjang. Mungkin itu adalah pelampiasan rindu keduanya.
Mario menggendong tubuh Inka, dengan masih berada dalam pangutan. Inka mengalungkan kedua lengannya pada leher Mario. Mario berjalan menuju tempat tidur besar. Ia membaringkan Inka di sana.
Mereka berdua tak mengeluarkan suara, hanya bahasa tubuh melalui hasrat yang menggebu, yang mereka lakukan. Mario merobek pakaian Inka satu persatu, hingga hanya menyisakan pakaian dalamnya saja. Sesaat, Inka menahan dada bidang Mario saat suaminya tengah ingin mencium bibir itu lagi.
"Aku akan berhenti, jika kamu tidak menginginkannya." Mario bersuara dengan wajah memelas.
Inka menatap wajah yang tak biasa Mario tunjukkan. Kemudian mengendurkan tangannya yang sedang menahan dada bidang Mario.
Inka memberikan akses, agar Mario bisa menelusuri seluruh tubuhnya. Dengan leluasa, Mario menelusuri setiap jenjang lekuk tubuh istri yang di rindukannya itu. Tubuh yang selalu menjadi candunya, tubuh yang membuatnya tergila-gila, tubuh yang membuatnya tenang.
Mario melakukannya berulang kali, seperti sedang merapel karena dua tahun tak menyentuh tubuh itu.
"Hmm..." Tubuh Inka melenguh, merasakan perih di bagian intinya.
"Maaf, maafkan aku, sayang." Mario berkata sambil mengelus pipi Inka.
Ini adalah permintaan maaf Mario yang kesekian kalinya. Semalam, ia pun terus mengeluarkan kata-kata itu di sela-sela aktifitas panas mereka.
Inka hanya terdiam. Ia mengedarkan pandangannya.
"Ini jam berapa? Ah aku terlambat." Inka segera menurunkan kakinya dari ranjang yang ia tiduri.
Ia melihat pakaiannya yang sudah tak terbentuk. Ia meraih pakaiannya yang berserakan di lantai.
"Aku pulang pakai apa?" Tanya Inka sambil memegang pakaiannya yang tak berbentuk lagi.
Mario masih duduk di tepi ranjang, sambil tersenyum dan menikmati kemarahan istrinya.
"Aku tidak membeli pakaian untukmu, di sini tidak ada pakaian wanita, hanya ada pakaianku." Mario berkata, setelah mengerdikkan bahunya.
Inka melempar pakaian yang sudah tak berbentuk itu, ke sembarang arah.
"Ck.. kamu memang gila, Rio" kesal Inka.
Mario menghampiri Inka yang tengah berdiri tak jauh darinya.
"Aku memang gila, dan itu karenamu." Mario berkata, lalu mengecup singkat bibir Inka.
"Beberapa hari ini, kamu akan tidur di kamar ini bersamaku, agar di sini bisa cepat ada yang hidup." Mario mengelus perut rata Inka, saat mengucapkan kalimat akhirnya.
"Apa sih, bukannya kita sudah bercerai? Aku sudah mendatangani surat cerai pada waktu itu." Inka hanya ingin mengetahui statusnya dan Mario saat ini.
"Tidak ada perceraian. Surat yang kamu berikan langsung aku robek." ujar Mario.
"Hingga detik ini, kamu masih istri sahku." Mario berkata lagi, sambil memeluk pinggang Inka.
"Dan, sebagai hukumanmu yang diam-diam memakai alat kontrasepsi, maka aku akan melakukan sebanyak yang aku mau sekarang." Mario membopong kembali istrinya dengan ala bridal.
Inka di baringkan lagi di ranjang besar itu. Kemudian, melakukannya lagi dan lagi. Hingga Inka terkapar, dan terdengar bunyian di perutnya.
Mario tergelak. "Kamu lapar?"
Inka mengangguk.
Mario tak henti-hentinya tersenyum dan tertawa. Memang, hanya wanita ini yang memberikan warna dalam hidupnya.