
Setelah puas mengacak-acak ruangan Inka, Mario terduduk lemas di sofa. Ia menyandarkan kepalanya pada dinding sofa, mengatur nafasnya agar tak lagi bergemuruh, mencoba menenangkan pikirannya. Sejenak ia bangkit dari duduknya, dan meraih ponsel yang terletak di meja kerja Inka.
"Dhani, kerahkan semua koneksi di jalur transportasi darat, udara, dan laut. Hari ini istri gue pergi. Pastikan perjalanannya melalui apapun di blokir, entah itu pesawat, bus, kereta, atau kapal laut. Lo denger, Dhan!"
Mario langsung menutup sambungan telepon. Setelah meninstruksi banyak perintah pada asisten andalannya itu.
"Kamu, ga akan bisa kemana-mana, In. Kamu ga akan bisa lari dari aku." Gumam Mario.
Mario teringat lagi pada Bunga, ia meninggalkan anak kecil itu dalam kondisi yang belum ia ketahui. Demi mengejar dan menjelaskan pada Inka tentang hubungannya pada Sasha, Mario hanya mengantarkan Bunga hingga pintu luar Instalasi Gawat Darurat saja.
Mario berjalan cepat di lorong rumah sakit, ia melihat Sasha yang tengah duduk di temani Riska di ruang perawatan.
"Bagaimana keadaannya, Sha?" Tanya Mario, setelah berada persis di hadapan kedua wanita itu.
"Sejauh ini, masih baik-baik aja, Yo. Tapi kata dokter tidak menutup kemungkinan sewaktu-waktu akan kejang atau anfal lagi." Jawab Sasha lesu.
"Sabar, Sha. Tidak akan terjadi apa-apa pada Bunga." Mario mengelus pundak Sasha.
"Oh, iya. Lalu, Bagaimana dengan Inka? Kamu sudah menjealskan semuanya kan?" Tanya Sasha yang langsung mendapat gelengan dari Mario.
"Dia pergi, Sha." Mario mendudukkan dirinya pada kursi yang berada di sana.
"Maksudmu?"
"Dia meninggalkanku sebelum aku menjelaskan semuanya." Suara lirih Mario.
"Terus..."
"Dia tidak bisa lari jauh, Sha. karena aku pasti akan menemukannya." Mario memotong perkataan Sasha.
"Iya, aku yakin kamu akan menemukannya." Kini Sasha yang mengelus pundak Mario, untuk memberikan semangat.
Lama Mario menatap gadis kecil di hadapannya yang tak berdaya. Lubang hidung dan mulutnya sudah di penuhi alat bantu rumah sakit.
"Sha, aku ke cafe bawah dulu ya." Mario pamit untuk merehatkan sejenak pikirannya dengan secangkir kopi.
Sasha mengangguk.
Mario melangkahkan kakinya keluar ruangan yang merawat Bunga. Di lantai dasar rumah sakit ini, tersedia cafe 24 jam, untuk para pengunjung rumah sakit.
Mario duduk di luar, sambil menikmati angin malam dan bulan yang sedang berbentuk bulat sempurna. Ia mengingat semua hal tentang istrinya. Mario mengingat kali pertama bertemu dengan Inka, tanpa ia sadari sebenarnya, ia telah menyukai wanita itu sejak pandangan pertama. Ya, ketika Cinta mengenalkannya di acara pernikahan Jessy. Pada saat itu, Mario hanya menemani Rey untuk bertemu Rasya yang ternyata adalah anak dari pamannya. Kemudian ia terpana pada sosok gadis yang cuek dan cantik. Bibirnya yang sensual, membuat jiwa Mario bergejolak ingin menyentuhnya.
dr. Meidiana sedang berdiri di kasir cafe, ia menunggu kasir tersebut untuk mengembalikan uang yang sudah ia bayarkan. Meidiana mengerlingkan pandangannya, ia melihat sosok Mario yang tengah duduk di luar cafe. Meidiana menghampiri Mario.
"Mario? Mario anaknya pak Andreas bukan? Suaminya Inka?" Tanya dr. Meidiana.
"Iya, benar." Jawab Mario menegakkan duduknya.
"Saya Meidiana, mamanya Mely, sahabat Inka." Meidi tersenyum dan mengulurkan tangan.
Mario menerima uluran tangan Meidiana. "Iya tante Meidi, dokter kandungan yang bertugas di rumah sakit papa."
"Betul sekali. Kebetulan tante ketemu kamu di sini, karena tante tidak bisa menghubungi ponsel Inka sama sekali. Sebelumnya hampir 4 bulan kami janjian tapi ga ketemu jadwal yang pas. Namun, minggu kemarin, jadwal kami pas tapi Inka tidak datang. Tolong kasih tau Inka, kemungkinan bulan depan tante akan bertugas ke daerah. Kalau ia masih mau tante yang pegang untuk membuka alat kontrasepsinya, segera temui tante sebelum bulan depan ya." Meidiana menepuk pundak Mario.
"Apa tante? alat kontrasepsi?" Tanya Mario bingung.
"Iya, apa Inka masih belum cerita tentang hal ini?" Mario menggeleng.
"Inka memasang IUD pada rahimnya dua tahun yang lalu. Dan kemarin ia ingin melepasnya."
"Jadi selama ini.... Hah." Mario tertawa kecut sambil kepalanya mengarah pada sembarang tempat.
"Tante bertugas di rumah sakit ini juga?" Mario mulai nalar akan perubahan sikap Inka waktu itu.
"Iya, kebetulan jadwal pas kami hanya bisa pada saat tante bertugas di rumah sakit ini. Tepatnya satu minggu yang lalu, hari Rabu jam 11 siang."
Tubuh Mario melemas, yang tadinya ia duduk dengan tegap, kini beringsut, memegang kedua kepalanya dengan kedua tangan yang menyangga pada meja di hadapannya.
"Apa tante salah bicara?" Tanya Meidiana bingung, melihat ekspresi Mario.
"Tidak tante, terima kasih. Akan saya sampaikan pada Inka nanti." ucap Mario dengan masih dalam keadaan lesu sambil memijat pelipisnya.
"Baiklah, saya pamit ya. Yo. Bye." Mario mengangguk, lalu Meidiana pergi meninggalkan Mario yang masih duduk sendiri di sana.
Ia menghela nafasnya kasar. Ia tak menyangka bahwa ini adalah alasan terbesar mengapa Inka terlihat aneh pada hari itu.
"Bodoh, Bodoh, kamu bodoh Mario." Ia berkata sendiri sambil terus memukul-mukul kepalanya.
Mario pulang ke apartemen, tanpa pamit pada Sasha dan ibunya. Kini, ia yang butuh sendiri. Ia butuh mencerna apa yang telah terjadi saat ini dan apa yang ada dalam pikiran Inka pada waktu itu.
Mario mengeluarkan koleksi anggurnya, yang tak pernah ia sentuh lagi sejak menikah dengan Inka. Ia meminum anggur itu terus menerus hingga mabuk. Terkadang ia tertawa dengan kebodohannya dan dengan kebohongan Inka yang telah memakai alat kontrasepsi, padahal Mario sering bertanya 'sudah adakah yang hidup di sini?' Pantas saja, Inka tidak pernah merespon ketika Mario atau Laras menanyakan tentang kehamilan. Inka hanya diam dan tidak menjawab, malah Mario yang menjawab dan membela Inka di hadapan orang tuanya agar Inka tidak merasa di sudutkan atau merasa mempunyai kekurangan.
"Ahahahahha..." Mario tertawa, mengingat bahwa dirinya dengan bodoh telah di bohongi sang istri. Kemudian Tak lama, ia menangis karena telah membohongi istrinya.
Prank..
Dret.. Dret.. Dret..
Ponsel Mario berdering berulang kali. Namun, tak di hiraukan. Ia tetap meneguk anggur itu langsung dari botolnya.
Dret.. Dret.. Ponsel Mario masih berdering.
Di sisi lain. Sasha tengah menunggu putrinya di rumah sakit. Ia tak melihat lagi Mario kembali ke ruang perawatan Bunga. Nafas Bunga kembang kempis, Sasha menangis melihat kondisi Putrinya yang sangat memprihatinkan.
Tiba-tiba, Bunga kejang lagi. Tubuh mungilnya bergetar hebat. Sasha dan Riska panik. Sasha langsung memencel tombol yang dekat dengan kepala Bunga. Suster pun datang, tapi Bunga masih kejang-kejang. Riuh para suster dan dokter berdatangan di ruangan itu. Hingga akhirnya,
Tuuuuutt.. Nada panjang alat monitor jantung di samping Bunga terdengar, membuat Sasha dan Riska menangis kencang.
"Bunga... Bangun sayang, bangun anak mama. Kamu penguat mama, kamu yang membuat mama semangat untuk bekerja dan melanjutkan hidup. Bangun sayang.." Sasha berkata dengan lelehan airmata.
Riska mengangkat tubuh putrinya dan memeluknya untuk tetap tenang.
Sasha terduduk lesu, airmatanya tak berhenti mengalir. Riska mengambil ponselnya dan mendial nomor Mario. Ia ingin mengatakan kabar duka ini pada Mario. Namun, Mario pun sedang larut dalam kesedihannya sendiri, sehingga panggilan Riska di abaikan.
Di sisi lain, Inka tengah duduk di kursi pesawat, ia menatap jendela yang berada di sampingnya. Ia pun menangis, airmatanya tak berhenti mengalir. Mungkin mulai saat ini, ia tak lagi bisa mencintai pria manapun, karena Mario terlalu indah untuk dilupakan. Ia sudah jatuh hati pada pria yang mendadak mengajaknya menikah hanya karena tidak mau di jodohkan sang ayah. Tanpa ia sadari, sesungguhnya ia pun menyukai Mario sejak pandangan pertama. Tepat di pernikahan sahabatnya, kala itu ia tengah di rias menjadi among tamu. Mario terus menatap Inka dari kejauhan. Inka pun menyadari bahwa dirinya tengah di tatap pria tampan bertubuh tegap itu karena sesekali Inka menatap ke arah Mario yang tengah menatapnya.
Kini ketiga insan itu tengah mengalami hal yang sama. Ketiganya larut dalam kesedihan masing-masing. Ketiganya juga tumbuh dalam kenangan buruk di usia yang seharusnya tengah mencari jati diri. Sehingga tercipta situasi rumit seperti ini. Sasha yang sejak baligh mengalami kekerasan seksual oleh orang terdekatnya. Mario yang belum bisa lepas dari rasa bersalah karena kehilangan adik perempuannya. Juga Inka, yang di paksa mengerti hubungan orang dewasa di usia yang labil, dan menjadi korban akibat perceraian orangtua. Ketiganya belum lepas dari bayang-bayang masa lalu yang kelam, hingga menimbulkan keputusan yang merugikan mereka.
#Flashback On
Saat Inka bertemu dengan Harris di cafe. Malam itu sudah hampir larut, Harris mengajak Inka pulang.
"Aku ga mau pulang kerumah." Kata Inka di tengah perjalanan mereka.
"Kenapa, lagi ada masalah dengan suamimu?" Tanya Harris.
Inka hanya terdiam.
"Terus, kamu mau kemana?"
"Antar aku ke hotel JJ aja."
"Baiklah."
Sesampainya di hotel. Inka check in di temani Harris. Lalu, Harris pun menemani Inka, hingga ia masuk ke kamarnya.
"Ya udah sekarang istirahat sana." Harris berkata sambil mengacak-acak rambut Inka.
Kemudian Inka memeluk Harris. Ia menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Harris. Harris pun meraih kepala Inka dan mengelusnya.
"Menangislah, jika itu bisa membuatmu tenang." Kata Harris.
Harris akhirnya menuntun Inka ke dalam kamar. Di sana mereka bercerita banyak hal. Termasuk Inka yang menceritakan bahwa suaminya memiliki anak dari mantan kekasihnya sekaligus cinta pertamanya. Inka menceritakan dari A sampai Z tentangnya dan Mario, hingga sampai pada titik ini.
"Terus, rencana kamu apa setelah ini?" Tanya Harris. Inka hanya menggeleng.
"Kamu tahu, aku tinggal dengan siapa setelah ibuku meninggal?" Inka menggeleng, dari tadi ia pun ingin menanyakan hal itu. Karena setahu Inka sejak usia dua tahun Harris sudah di tinggal ayahnya yang meninggal karena kanker paru.
"Aku tinggal dengan mamamu di Belanda."
"Apa?" Inka terkejut.
"Iya." Harris mengangguk.
"Aku di asuh mamamu di sana, hingga lulus kuliah dan di terima bekerja di sini. Sebenarnya misi ku menerima bekerja di sini, ya karena kamu. Karena tante Indah minta aku ngejagain kamu." Perkataan Harris sontak membuat Inka menangis lagi.
"Tante Indah tidak pernah melupakanmu, In. Dia selalu mengingatmu, dia ingin sekali bertemu denganmu." ujar Harris.
"Kalau kamu merasa lelah di sini, ikutlah denganku ke Belanda. Tante Indah pasti akan senang." Harris memberikan tawaran yang sangat Inka inginkan sekarang.
"Aku mau." Tanpa berpikir panjang Inka mengangguk.
"Tapi Mario punya banyak koneksi mas, dia bisa melacak keberadaanku di mana saja." Kata Inka lesu.
"Suamimu memang ahli cyber, tapi aku ahli meretas. koneksiku banyak untuk hal tipu menipu dokumen. Kalau kamu mau, dalam waktu tiga hari identitasmu sudah berubah. Siap?" Inka terdiam.
Tak lama kemudian, ia mengangguk.
"Oke, deal." Harris menyalami tangan Inka.
"Tante Indah pasti senang sekali mendengar kabar ini. Aku ga bisa bayangkan rona bahagia di wajahnya. Aku banyak berhutang pada ibumu, In. Kini waktunya aku membalas kebaikan itu." ucap Harris.
#Flashback Off
Inka yang tengah menjadi buronan, karena perintah suaminya. Kini berada di sebuah pesawat dengan rute Jakarta-Amsterdarm. Ia lolos ketika boarding pass, karena Inka memakai kacamata besar dan rambut palsu pendek, seperti yang tercetak dalam foto paspor yang di buat Harris.