Istriku Canduku

Istriku Canduku
bukan siapa-siapa lagi


Inka, Raka, dan Mario masih asyik bercerita. Inka juga menceritakan bahwa selama ini ia tinggal bersama ibunya di Belanda. Raka terkejut, ingin sekali ia menanyakan kabar mantan istrinya itu. Sejujurnya, dari lubuk hati yang paling dalam ia sangat merindukan sang mantan, sudah hampir 15 tahun ia tak bertemu Indah.


Raka kembali tersenyum lebar, saat Inka menceritakan bagaimana Mario melelehkan hatinya kembali. Raka sangat antusias dengan segala hal yang keluar dari bibir putrinya itu, pasalnya Inka bercerita dengan suara yang lembut dan manja, persis saat ia masih kecil, sebelum badai itu datang dan merubahnya menjadi pribadi yang cuek dan tak banyak bicara.


Tiba-tiba Desi datang membawa nampan yang berisikan makanan untuk suaminya.


"Waktunya makan siang. Ayo makan dulu, Pa. Jangan ngobrol terus!" Ucap Desi dengan senyumnya.


Wajah Raka beralih pada Mario dan Inka.


"Sayang, kalian harus makan siang di sini ya!"


Mario menatap Inka, memintanya untuk mengambil keputusan.


"Iya, Pa." Inka mengangguk, lalu di ikuti Mario.


Raka senang mendengar jawaban dari putri dan menantunya.


"Ma, papa ingin makan di meja makan saja. Bawa kembali makanan ini ke dapur."


"Tapi, Pa. Papa masih sakit." Ujar Desi kesal.


"Papa sudah lebih baik, karena obat papa sudah datang." Raka berusaha bangkit dari tempat tidurnya, di bantu oleh Mario.


"Maksudnya?" Tanya Desi.


Raka langsung memeluk Inka dari samping, ketika ia sudah berdiri. "Ini obat, Papa. Anak kesayangan papa."


Inka seperti di taburi banyak bunga di kepalanya. Wajahnya berseri mendengar penuturan sang ayah. Pasalnya, sudah lama ia men-cap buruk ayahnya dan menganggap tak ada.


Inka pun menggandeng Raka.


Raka pun menggandeng Mario. "Ayo kita keluar dan menikmati makan siang bersama."


Desi semakin kesal, dengan kembali dekatnya hubungan Raka dan Inka. Bersusah payah ia memisahkan ayah dan anak itu, sekarang karena ulah yang di buat Adhis sendiri, membuat Raka tak lagi memanjakan anak itu.


Sesampainya di meja makan. Mario menggeser tempat duduk untuk mertuanya, dan Inka tetap menggandeng ayahnya hingga duduk. Lalu, Mario menggeserkan kembali tempat duduk yang berada persis di samping Raka untuk istrinya. Raka tak henti-henti mengulas senyum, melihat cara Mario memperlakukan putrinya dengan sangat baik, dan ketulusan pun terpancar dari wajah tampan pemilik MJ Telemedia itu.


"Wah.. wah ada tamu istimewa rupanya." Suara itu muncul tiba-tiba. Siapa lagi kalau bukan Vino.


Semua menoleh ke arah suara itu, kecuali Raka. Ia bosan melihat tingkah tengil menantunya yang satu ini.


"Tentu saja, Pa. Saya ke sini ingin menjemput istri tercinta." Jawab Vino sambil merangkul Adhis yang kebetulan ada di sampingnya.


Inka terlihat tegang, karena memang suasana di sana tampak menegangkan setelah kedatangan Vino. Entah apa yang terjadi di rumah ini sepeninggalnya? Apa yang terjadi dengan ayahnya selama ini? Begitu banyak pertanyaan muncul di benak Inka.


Mario melihat ketegangan itu di raut wajah istrinya. Mario langsung menggenggam tangan Inka yang berada di atas lututnya sendiri. Sontak membuat Inka langsung menoleh ke arah Mario. Senyum Mario membuat Inka tenang, karena saat ini ia tak lagi sendiri, jika menghadapi masalah dalam keluarganya.


"Hmm.. Sepertinya Bi Asih memasak makanan yang enak." Vino langsung duduk di meja makan tanpa permisi, dan langsung mengambil sendiri hidangan yang telah tersedia di meja. Padahal Raka belum menyentuh satu pun makanan yang ada di sana.


Adhis membantu mengambil piring, minum, dan makanan yang Vino sebutkan. Desi hanya tersenyum dengan adegan yang terjadi, sebenarnya ia malu dengan Mario. Namun, mau di apakan lagi? Nasi sudah menjadi bubur. Yang di gadang-gadang Vino pria baik dan akan menjadi menantu idaman, ternyata tidak. Yang di manja dan di puji bahwa Adhis anak yang penurut dan tidak pernah melawan orangtua, justru malah mencoreng nama baik keluarga.


"Ayo, Nak. Mari kita makan!" Ajak Raka pada Mario. Begitu pun Desi.


Inka menoleh ke arah suaminya. "Kamu mau aku ambilin apa?" Tanya Inka lembut, hingga hampir tak terdengar oleh yang lain kecuali Mario yang persis duduk di sampingnya.


"Apa saja, Sayang." Jawab Mario dengan membalas senyum sang istri.


Inka berdiri dan mengambil beberapa makanan yang menurutnya akan di sukai Mario.


"Ini.. Mau?" Inka menunjuk makanan dengan wajah yang masih tertuju pada suaminya.


Mario mengangguk. "Boleh."


"Kalau ini kamu pasti ngga suka." Inka tersenyum menunjuk rendang yang jumlahnya tidak banyak.


"Oh, kamu tidak suka rendang. Yo?" Raka menimpali pernyataan Inka yang hanya menggoda suaminya saja.


Lalu Inka menceritakan sebab Mario tak menyukai rendang. Sontak Raka tertawa, sementara Desi memaksakan bibirnya menyungging. Vino dan Adhis masih terdiam.


"Itu namanya kamu kena ranjau, Yo. Kalau ini rendang daging." Ujar Raka.


"Iya, Pa. Sekarang Mario juga suka kok. Pokoknya apa yang Inka suka pasti saya juga suka." Jawab Mario menyeringai.


"Hmm.." Inka mencibir sesaat, lalu tersenyum. Begitupun Mario, ia juga membalas senyum Istrinya.


Di sela-sela aktifitas makan siang di meja itu. Vino terus memandangi Inka. kelembutan, perhatian, dan kasih sayang yang Inka berikan pada Mario begitu nampak, membuat hati Vino terasa terbakar. Pasalnya selama berpacaran dengan Inka, tak pernah ada sisi seperti ini dalam dirinya, dan Vino pun tak pernah mendapat perlakuan se istimewa Mario.


Adhis sadar dengan apa yang di lakukan suaminya. Mario pun mengetahui itu, tapi tidak dengan Inka. Karena menurutnya, Vino bukan siapa-siapanya lagi, jadi Inka tak memperhatikan sikap Vino sama sekali.