
Vino termenung di balik jeruji besi. Ia meratapi nasibnya kini. Ia menyesali atas apa yang terjadi. Memutuskan hubungan dengan Inka adalah awal petaka baginya. Saat itu ia lebih memilih Adhis karena perangainya yang manja dan menyenangkan, tapi siapa sangka di balik sikap polos dan lugu nya Adhis, ternyata gadis itu justru lebih berani. Beberapa kali, Vino memergoki Adhis yang berselingkuh saat mereka masih berstatus pacaran. Mungkin sebenarnya ini bukan hal aneh, karena sebelumnya pun Adhis berani menggoda Mario. Di tambah Raka, yang selalu meremehkan pekerjaannya.
Kemudian, Vino membalas dengan memasukkan Adhis ke dalam perangkapnya. Menghamili putri kesayangan dan menguras harta Raka, itu adalah niat dendam Vino pada Adhis.
Vino menangis, meratapi kebodohannya. Seharusnya, ia tak di butakan oleh sesuatu yang terlihat menarik, padahal belum tentu indah. Seharusnya, ia bersyukur memiliki Inka yang apa adanya, tulus, dan baik.
Nasi sudah menjadi bubur, semua telah terjadi. Ia bertekad akan menjalani hidup lebih baik, setelah ini.
"Pak Vino." Panggil petugas yang sedang dinas di sana.
Vino di minta keluar dan di bawa menuju ruang interogasi.
"Anda memiliki pengacara? Anda bisa menghubunginya sekarang." ucap petugas itu.
Vino menggeleng. "Tidak pak."
Ia sudah pasrah akan nasibnya, mungkin ini tempat yang baik untuk ia sekolah lagi.
Di rumah Raka, Adhis memohon pada ayahnya untuk membebaskan suaminya.
"Pa, Adhis mohon, tolong Vino, Pa. Biar bagaimanapun Vino adalah ayah Deandra. Cucu papa." Ujar Adhis dengan deraian airmata. Namun, Raka hanya diam, tak ada satu jawabanpun yang keluar dari mulutnya.
"Adhis, biar saja Vino di penjara. Dia memang harus mempertanggungjawabkan kelakuannya. Buat apa kamu masih membelanya, kamu juga sudah banyak di sakiti kan?" Kesal Desi, melihat Adhis yang masih saja ingin membela Vino.
"Sejelek apapun kelakuannya, Vino tetap suami Adhis, Ma. Dia tetap ayah Deandra. Apa yang Adhis katakan jika Deandra menanyakan ayahnya. Apa, Ma?" Adhis semakin terisak.
Beberapa saat keadaan di rumah itu hening, kemudian Adhis berdiri dan berkata. "Baiklah, Adhis akan memohon sendiri kepada Kak Rio dan Kak Inka."
Adhis melangkahkan kakinya keluar rumah itu.
"Dhis, tunggu sampai kakakmu keluar dari rumah sakit. Biarkan Inka istirahat, dan biarkan Vino berada di sana sementara untuk merenungi kesalahannya." Perkataan Raka, membuat langkah Adhis terhenti, lalu berjalan lagi setelah mendengar penuturan ayahnya itu.
****
"Kak.. Kapan aku boleh pulang? Aku bosan di rumah sakit." Tanya Inka pada suaminya yang selalu setia menemani.
"Nanti sore, kamu boleh pulang. Sekalian nanti mama ke sini dan jemput kita." Jawab Mario.
"Alhamdulillah, akhirnya." Wajah Inka berbinar senang.
"Sekarang makan dulu ya!" Ujar Mario yang duduk di pinggir tempat tidur Inka, berada persis di sampingnya.
Mario mengambil sendok dan menyuapkan makanan itu ke mulut Inka. Setelah beberapa sendok, makanan yang di suapi Mario masuk kemultnya, Inka langsung meraih sendok yang tergeletak di tempat makan itu.
"Sekarang gantian, aku yang suapin kamu. Aaa.."
"Kamu yang lagi sakit, kenapa jadi aku yang di suapi?" Tanya Mario tersenyum melihat tingkah istrinya.
"Karena kamu sudah melayaniku dari kemarin. Hingga tidak ngantor selama tiga hari. Sekarang gantian aku yang melayanimu. Lagian, kamu juga belum makan Kan?" Jawab Inka dengan suara manja.
"Kamu lebih penting dari apapun, Sayang." Ujar Mario, sambil mengelus pipi mulus Inka.
"Hmm.." Inka memonyongkan bibirnya, membuat hidungnya pun ikut berkerut.
Mario tersenyum dan mencubit hidung Inka.
"Nanti aku tagih, kalau kamu sudah kuat."
"Tagih apa?" Tanya Inka bingung.
"Tadi katanya kamu mau melayaniku. Makanya kamu kuat dulu, sehat dulu, nanti sesampainya di apartemen, baru kamu gantian melayaniku." Ucap Mario dengan senyum liciknya.
Inka menangkap apa yang di pikiran Mario. "Aaa... itu lagi." Inka tertawa sambil memukul lengan Mario, membuat Mario ikut tergelak.
Keduanya tertawa. "Kenapa sih, itu terus yang ada di pikiranmu, Kak."
"Karena itu kenikmatan hakiki, Sayang." Mario berkata di sertai sisa-sisa tawanya.
"Ish.. menyebalkan." Ujar Inka tersenyum melihat kebiasaan suaminya yang menyebalkan. Walaupun tidak di pungkiri, ia juga menyukainya.