Istriku Canduku

Istriku Canduku
rajin usaha, itu harus..


“Bagaimana, tante?” Tanya Inka saat dirinya tengah berbaring di tempat tidur pasien untuk menjalani pemeriksaan pada rahimnya.


“Udah kok, ini rahimnya sudah bersih. Sudah tidak ada lagi penebalan di sini.” kata Mediana, dengan Mario yang juga memperhatikan monitor yang ada di atas kepala mereka.


“Jadi, sudah siap untuk di buahi kembali?” Tanya Mario, yang membuat Meidiana tersenyum.


“Istrimu kapanpun siap di buahi, pak Rio. Hanya saja terkadang kondisi tubuh kita yang menjadi sebab embrio tak bertahan hingga sampai di tempatnya.”


Mario mengangguk.


“Apa karena faktor usia mempengaruhi juga, tan?” Tanya Inka.


“Tidak, kalian masih terhitung muda untuk bisa punya anak lagi. Sabar saja. Yang penting Hidup sehat, hindari stres dan istirahat yang cukup. Rajin usaha itu juga harus.” Jawab Mediana tersenyum.


“Wah kalau yang itu sih, jangan di tanya. Tante.” Ledek Mario, membuat doketr Mediana terus mengulas senyum.


Wajah Inka merona, sambil memukul pelan pundak suaminya dari samping.


Setelah lama berkonsultasi, mereka pun keluar dari ruangan itu.


“Sayang, sepertinya kita harus honeymoon lagi.”


Inka menggeleng. “Jangan sekarang!”


“Iya sih, aku juga sedang sibuk.” Ucap Mario datar. Pasalnya ia baru saja melegalitas kembali, hotel yang berada di Dubai, kali ini melibatkan Brian dan David yang membuka arena hiburan rekreasi bermain sky buatan terbesar di timur tengah.


****


“Ma, anak-anak sudah tidur?” Tanya Inka yang baru saja masuk ke kamar anaknya.


Indah menoleh ke sumber suara itu dan menagngguk. “Baru saja. Mereka terpejam setelah di cium ayahnya.”


Ya, pada saat Inka sedang membersihkan diri. Mario menyempatkan untuk menyapa kedua anaknya yang ingin terlelap, mengingat kedua orang tuanya hari ini pulang dalam keadaan larut. Kini Mario yang sedang membersihkan diri, berganti dengan Inka yang menyambangi kamar anaknya.


“Ma, Bagaimana dengan papa?” Tiba-tiba Inka menanyakan sesuatu yang pribadi pada ibunya.


“Apa?” Tanya Indah lagi.


“Inka tahu, Ma. Papa sudah cerita. Papa melamar mama lagi kan?” Tanya Inka tersenyum.


“Oh itu.”


“Kok mama biasa saja.”


“Memang harus bagaimana?” Tanya Indah dengan wajah yang saling bertatapan pada puterinya.


“Jawaban mama apa?” Tanya Inka lagi.


“Kira-kira mama harus jawab apa?”


“Ih, mama makin lama udah seperti kak Rio tau.” Cibir Inka.


“Iya nih, lama tinggal di rumah kamu, mama jadi terkontaminasi dengan ulah menantu mama yang selengeyan itu.” Gurau Indah.


Mereka tertawan, lalu sesaat terdiam.


Inka langsung mengangguk, tapi sesaat kemudian ia menggeleng.


“Inka memang ingin seperti itu, tapi Inka tidak mau ini menjadi beban mama. Jika mama tidak mau kembali pun tak apa. Di sini saja bersama Inka dan cucu mama. Inka sangat bahagia.”


Indah menarik nafasnya kasar, lalu meraih tubuh sang puteri untuk di peluk.


“Mama masih ingin sendiri, seperti ini. Di sini bersamamu dan kedua cucu mama. Kamu tidak keberatan kan?” Tanya Indah sambil mengelus kepala puterinya.


“Sama sekali tidak, Ma.” Inka pun membalas memeluk ibunya.


Tak lama kemudian, mereka kembali ke kamarnya masing-masing.


Mario sudah berdiri dengan lilitan handuk di pinggangnya dan rambut yang basah.


Inka duduk d tepi tempat tidur, sambil melihat suaminya yang sedang memakai pakaian di depannya.


“Kenapa?” Tanya Mario.


Inka menggeleng. “Tidak apa.”


Mata Inka mengedarkan pandangan dari kepala hingga ujung kaki suaminya, yang sedang mamakai boxer.


“Ada yang salah?” Mario pun ikut memandangi dirinya sendiri.


“Kamu masih tetap tampan.”


Mario menghampiri Inka. “Ngerayu?”


Inka menggeleng. “Beneran, kamu belum tua kok.”


“Memang kalau aku sudah tua, kamu ngga akan suka lagi?”


Inka tersenyum. “Kalau kamu tua, pastinya aku juga tua lah.”


“Bisa aja ngejawabnya.” Mario mencubit dagu Inka. Lalu mulai mengelitikinya.


“Kak..” teriak Inka.


Inka pun mulai naik ke tempat tidur untuk menghindari kelitikan Mario.


“Kak.. berhenti.” Keduanya tertawa.


“Mama.. tolong..” Inka masih tertawa.


Lalu Mario menindih tubuh istrinya.


“Usaha lagi ya, Sayang.” Kata Mario ambigu.


“Usaha apa?” Tanya Inka bingung.


“Seperti yang di katakan dokter Mediana. Kita harus rajin usaha bukan?”


“Aaa.. itu.” Inka tergelak, dan Mario mulai melancarkan aksinya.