
Mario melepaskan pelukannya.
"Terima kasih, Yo. Terima kasih atas semua bantuanmu ke aku, selama ini. Terima kasih sudah menjadi kakak terbaikku." Sasha tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Kemudian, mereka tertawa membahas kejadian-kejadian kecil dahulu, ketika mereka bersama. Lalu, Mario meminum jeruk hangat yang di sediakan Sasha sebelumnya.
"Stop, jangan di minum. Yo!" Teriak Sasha, setelah keluar kamar mandi dan berganti pakaian yang lebih sopan.
"Sudah habis, memang kenapa?" Tanya Mario bingung sambil menunjukkan gelas yang sudah kosong.
"Itu.. Itu..." ucap Sasha terbata-bata.
"Itu apa?" Mario menaikkan alisnya.
"Itu minumannya udah aku campur obat pe.. rang..sang." Sasha takut untuk menyebut kalimat terakhirnya.
"Apa?" Sontak membuat Mario terkejut dan langsung berdiri.
"Ah, sial." Mario mengacak-acak rambutnya.
"Maaf, Yo. Maaf. Tadinya aku mau menggodamu."
"Ah, shit." Mario langsung meraih ponselnya. ia harus menelepon Dhani.
Dret.. Dret..Dret..
Hanya terdengar nada sambung, Dhani belum mengangkat teleponnya. Setelah Mario men-dial untuk ketiga kalinya, baru ada suara di sana.
"...."
"Lo ngapain aja sih, dari tadi di telepon ga di angkat-angkat."
"....."
"Sekarang juga, lo jemput Inka dan bawa Inka ke hotel XXX di Yogya. Gue tunggu di kamar 9. Cepet ga pake lama, sekarang Dhan!"
"....."
Mario langsung menutup teleponnya.
Ia bergegas memakai pakaiannya.
"Sha, aku ke hotel ya, aku hanya butuh Inka." Sasha mengangguk dan terus meminta maaf.
"Kamu bisa menahan sampai Inka datang, Yo?"
"Bisa, Sha. Sesampainya di hotel, aku akan berendam untuk menetralisir."
"Sekali lagi maaf, Yo."
"Sudah tak apa. Aku pulang, Sha." Mario juga berpamitan pada Riska.
****
Dhani yang sudah tertidur pulas, mendengar ponselnya berbunyi beberpaa kali. Malas sekali untuk mengangkatnya, tak lama kemudian, Dhani meraih ponselnya dan terlihat kata 'Bos besar' di sana.
"Halo."
"....."
"Maaf pak, saya tadi sudah tidur."
"....."
Dhani dengan cekatan berlari menuju lantai 2, blok tempatnya Mario.
Ting.. Tong..
Berkali-kali Dhani memencet bel, tapi tak kunjung penghuninya keluar dan membukakan pintu. Kemudian Dhani menelepon Inka, tidak ada nada sambung. Ponsel Inka tidak aktif. Akhirnya Dhani berlari ke kediaman Andreas.
Tok.. Tok.. Tok..
Ujang membukakan gerbang, dan mempertemukan Dhani pada Sukma. Lalu, Sukma mengetuk kamar Inka.
"Ada apa, Suk?" Inka membukakan pintu kamar sambil mengucek-ngucek matanya. Pasalnya ia baru terlelap 15 menit yang lalu. Pusing rasanya, jika harus terjaga lagi.
"Ada asistennya pak Mario, Non."
"Ada apa?" Mata Inka langsung segar.
Inka dengan segera mengganti pakaiannya, yang di pikirannya hanya Mario. Ia takut terjadi sesuatu pada suaminya hingga Dhani datang tengah malam untuk menjemput dan menyusul suaminya ke sana.
"Dhan, emangnya kak Rio kenapa? Dia ga kenapa-napa kan?" Suara Inka begitu panik.
"Saya juga ga tau, bu. Suara pak Rio sih, terdengar baik-baik saja. Hanya lebih panik."
"Ya, ampun dia kenapa sih." Inka masih panik memikirkan suaminya.
Satu setengah jam. Akhirnya, Inka sampai di Yogya, ia sudah berdiri di kamar hotel sesuai permintaan Mario.
Ceklek..
Inka membuka pintu kamar itu, dan terlihat Mario yang sedang berbaring di tempat tidur king size dengan sepray berwarna putih. Inka mendekati dan memeluk Mario.
"Kamu ngga apa-apa, Kak?" Tanya Inka sambil memeluk kepala Mario.
Mario membuka matanya. Ia langsung memeluk erat Inka dengan suara berat.
"Aku membutuhkanmu sayang, aku butuh kamu."
"Iya sekarang aku ada di sini."
Mario langsung menindih Inka dan merobek semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Inka hanya pasrah dan menerima apapun yang di lakukan suaminya. Mario benar-benar seperti singa lapar yang mendapatkan mangsanya.
"Aku mencintaimu Inka, aku sangat mencintaimu." Kata-kata itu selalu terucap dari mulut Mario, saat ia tengah menggagahi istrinya.
"Aku juga mencintaimu." Inka membalasnya dengan senyum merekah.
Inka di gempur habis-habisan. Tanpa jeda, Inka terus melayani nafsu suaminya yang bagai kuda. Bisa di bayangkan? Tanpa obat perangsang saja, mario bisa melakukannya berkali-kali, apalagi di tambah obat perangsang. Ah, pusing kepala barbie.
Inka ambruk di dada suaminya.
"Aku lelah, Kak. Udah ya!" Seru Inka.
"Iya sayang, terima kasih sudah melayaniku."
Mario mengecup kening istrinya yang sudah terlelap.
"Aku mencintaimu." Àkhirnya Mario pun ikut terlelap sambil terus mendekap Inka.