
Setelah melakukan perjalan di atas awan kurang lebih satu jam lima puluh menit. Akhirnya mereka sampai di Bandar Udara International Zainuddin Abdul Madjid. Di luar, Mario dan Inka sudah di sambut oleh supir yang akan membawanya ke hotel. Dhani telah menyiapkan semua akomodasi bosnya itu, selama berada di sana.
“Kita di sini berapa lama, Kak?’ Tanya Inka, yang tengah brada di dalam mobil dan duduk di samping Mario.
“Kamu mau nya sampai kapan?’ Mario malah balik bertanya.
“Loh, terserah kamu. Kalau aku waktunya bebas, kalau kamu kan enggak.”
“Aku juga bebas.”
“Ih, jangan lama-lama, kasian Dhani.” Kata Inka merengek.
“Kamu juga jangan lama-lama, kasian Bianca.” Ledek Mario.
“Kalau aku, Bianca udah bisa di lepas.”
“Apalagi, aku. Dhani sudah bekerja hampir 10 tahun, jadi dia udah tau apa yang harus di kerjakan.”
“Ih, kamu jawab terus kalau aku ngomong.”
“Lah, emang kamu engga.” Tangan kiri Mario merangkul lagi leher Inka, dan tangan kanannya mengelus perut buncit istrinya.
“Sayang, ternyata mama kalian lucu juga.” Ucap Mario sambil menatap dan mengelus perut bulat itu.
Dug..
Tiba-tiba perut Inka menyembul di bagian kiri. Mario merasakan ada yang bergerak di perut itu.
“Eh, dia bergerak. Sayang.” Wajah Mario berbinar. Wajahnya langsung di tempelkan pada perut Inka.
“Anak papa, udah pada bangun ya! Mmuaach..” Mario mengecup perut itu, dan Inka mengelus rambut Mario yang dari tadi berada di perutnya.
Tak lama kemudian, mereka sampai di hotel. Inka dengan antusias masuk ke kamar hotel itu.
“Aaa… Kamarnya luas, Kak.” Wajah Inka berbinar.
Lalu Inka berjalan cepat ke balkon, ia membuka pintu balkon itu dan membentangkan kedua tangannya.
“Hmm…” Inka menarik nafasnya banyak-banyak dan mengeluarkan perlahan.
“Kamu senang, Sayang?” Tanya Mario yang tiba-tiba melingkarkan tangannya di pinggang yang tak ramping lagi.
“Banget, Kak. Makasih ya.” Jawab Inka, menngkup wajah Mario dari samping dan mengecup pipinya.
“Benarkan, di sini juga tidak kalah bagus tempatnya.” Ujar Inka lagi, saat keduanya tengah menatap pemandangan indah yang tercetak jelas di hadapannya.
Mario menganggung, dengan dagu yang masih menempel di bahu Inka. Tangannya mulai meraba di bagian dada istrinya yang mengkal. Mulutnya pun mulai menelusuri leher jenjang itu. Menggigit kecil, hingga tercetak beberapa tanda di sana. Inka sesekali berdesah dan menggingit bibir bawahnya. Selama hamil, ia mudah sekali terangsang oleh sentuhan Mario.
Tok.. Tok.. Tok..
Pintu kamar terketuk, membuat mereka menghentikan aktivitasnya.
“Huh.. Ganggu aja sih.” Ucap Maro kesal. Ia meninggalkan Inka di balkon dan melangkah menuju pintu kamar.
Inka hanya tertawa melihat ekspresi suaminya itu.
Ceklek..
Mario membuka pintu kamarnya, ternyata seorang pelayan yang mengantarkan makan siang pesanannya.
“Sayang, ayo makan dulu!.”
Mario menata makanan itu persis di kursi panjang seperti gazebo kecil. Mereka menikmati makan siang di iringi deburan ombak dan angin sepoi-sepoi.
Di malam hari, Mario mulai menggerayangi Inka. Sebelumnya, ia mengelus perut buncit Inka dan berkata. “Sayang, papa tengokin kalian ya.”
Inka menggeleng. “Papa rajin banget ya, nengokian kami.”
Mario menengadahkan kepalanya, menatap ke wajah Inka dan menampilkan cengiran kuda.
****
"Woi, Bro. Akhirnya lo datang juga ke pameran gue.” Ucap Boy setelah, melihat Mario dan Inka datang.
“Sebenernya, gue males dateng, kalau bukan si nyonya yang minta ke sini/” Mario melirik Inka.
“Wah, In. Selamat ya. Luar biasa, lo akhirnya menaklukkan si playboy ini.” Boy tergelak, kala mengingat kelakuan kakak sepupunya itu.
“Tapi, Sepertinya lo lebih beruntung. Bro.” Ucap Boy lagi, dengan menggantung dan penuh isyarat. Inka yang melihat kedua laki-laki di hadapannya itu, hanya bisa mengernyitkan dahi.
“Aku liat-liat di sebelah sana ya.” Inka meninggalkan kedua lelaki itu, menuju beberapa lukisan yang terpampang tak jauh dari mereka.
“Dapet perawan donk, Bro? Gimana rasanya, pasti beda kan?’ Tanya Boy pada Mario, setelah Inka tak lagi bersama mereka.
Mario tertawa. “Lo dari dulu ngga berubah.”
“Belum nemu, nanti kalau udah ketemu yang cocok, gue pasti berubah. Sama kaya lo lah, Bro.”
Mario menggeleng.
“Gue kenal banget Inka, dia cewek yang ngga bisa di sentuh. Enak donk lo, dapet yang pertama.” Ledek Boy lagi.
Sebenarnya sejak duduk di bangku SMA, Boy pun terpesona oleh sosok Inka. Ia suka dengan karakter Inka yang cuek dan susah di dekati lawan jenis. Sewaktu dirinya tahu bahwa Inka menyukai lukisan, itu adalaha alasannya untuk bisa berdekatan dengan Inka. Sayang, ia tak berani mengungkapkan rasa itu, hingga mereka lulus dan tak lagi bertemu.
Mario mengangguk dan senyumnya selalu menghiasi wajahnya. Pikirannya melayang, mengingat bagaiman pertama kali ia menyentuh paksa Inka.
“Rasanya, ngga bisa di katakan dengan kata-kata, Boy. Pokoknya bikin nagih dah.” Jawab Mario.
“Rasa nagihnya terus sampe sekarang malah.” Ucap Mario lagi.
“Wah menang banyak, lo.” Boy menonjok lengan Mario pelan.
Keduanya pun tergelak.
Setelah berkeliling dan puas melihat-lihat lukisan yang terpajang di sana, Inka memesan tiga buah lukisan yang ia suka sejak pertama melihatnya. Ia juga antusias menanyakan tentang makna yang terkandung di balik lukisan yang ia beli itu kepada Boy. Mario yang sama sekali tidak berminat dengan dunia seni tu, hanya ikut mendengarkan obrolan mereka. Sesekali ia menampakkan wajah bosennya kepada Inka. Lalu, Inka mengeratkan pelukannya kepada Mario, isyarat untuk sabar menunggunya berbincang dengan Boy.
“Perut lo udah gede banget keliatannya, In.” Kata Boy, mengalihkan pembicaraan, agar Mario tak bosan dengan obrolan seputar seni yang selalu menjadi topik pembicaraan Inka dan Boy.
“Iya, kembar soalnya, Boy.” Jawab Inka tersenyum sambil mengelus perutnya.
“Wah, jantan banget lo Bro, sekali nyembur langsung jadi dua.” Ledek Boy.
‘Gue gitu loh, kalau soal itu mah, ngga usah di ragukan lagi.” Mario berjumawa ria.
‘Lo, mau nyentuh perut gue, Boy. Sini..” Inka menarik lengan Boy.
Boy menahan tangannya, agar tidak menyentuh perut Inka, karena Mario sudah membulatkan matanya ke arah Boy dengan wajah dingin dan menakutkan.
‘Ngga usah, In. nanti laki lo marah. Tuh liat udah kaya singa kan?” Ledek Boy bergantian melihat ke arah Inka dan Mario.
“Ngga kok. Suami aku mah ngga pernah marah ya.” Senyum Inka ke wajah Mario.
“Paling cuma sering ngegigit aja.” Sontak kedua lelaki itu tertawa.
“Wah ternyata lo bisa ngelawak juga ya.” Ucap Boy.
“Sini pegang perut gue, kayanya gue ngidam nih, perut gue pengen di pegang sama pelukisnya.” Kata Inka lagi.
Mario mengangguk. Akhirnya Boy menempelkan tangannya di perut Inka. Memang hormon ibu hamil itu menyusahkan, ada saja maunya.
“Sayang, ini om Boy. Dia jago melukis, semoga nanti tangan kalian juga mahir seperti dia.” Ucap Inka, saat Boy menmpelkan tangan di perutnya.
Mario langsung menepis. “Jangan, enak aja. Anak kita ngga ada yang jadi pelukis. Dia cukup jadi pebisnis, atau jika perempuan jago ngedesign kaya kamu.” Ujar Mario ketus.
Inka tertawa.
“In, anak lo ngga ngidam pengen minta cium sama pelukisnya juga?’ Boy menyerigai licik.
“Mau mati lo.” Sontak perkataan Mario membuat Boy kabur dengan tawanya yang tak berhenti. Ia senang sekali meledek kakak sepupunya itu.