
Inka melihat Mario yang tengah asyik bermain dengan Maher dan Mahira di ruang keluarga. Ia tertawa saat Mario dengan sukarela menjadikan dirinya seekor kuda yang di naiki oleh Maher dan Mahira bergantian. Sejak pulang dari butik, hingga saat ini, Mario masih tak bicara banyak. Ia akan bicara seperlunya saja, itu pun jika hanya di tanya.
“Saatnya makan malam.” Inka menghampiri anak dan suaminya yang masih bermain di ruang keluarga.
“Sayang, ayo turun. Kasihan pipi sudah kelelahan.” Inka menggendong Mahira yang ada di punggung Mario.
Mario bangun dan kembali duduk di sofa itu.
“Ah, pipi mau ya, Son.” Mario menyenderkan tubuhnya di samping Maher, dan mengambil camilan yang Maher makan.
“Sayang, Ayo makan dulu!” Ajak Inka pada kedua pria di depannya. Yang satu pria kecil yang benar-benar imut, sedangkan satunya lagi pria yang tak lagi kecil dengan wajah yang membuat orang takut.
Mario tidak melihat ke arah Inka, tapi ke arah Maher.
“Let’s go! kita makan, supaya kamu cepat besar.” Mario mengangkat tinggi Maher dan menggendong menuju ruang makan.
Ia mendudukkan Maher di sana, lalu melewati Mahira dan mengelus kepala putrinya.
“Ayo, makan yang banyak.” Mario mencurahkan segala perhatiannya kepada kedua anaknya, tapi tidak dengan istrinya.
Perilaku Mario saat ini, membuat Tari dan Ambar mengeryitkan dahi. Tidak biasanya Mario tidak bersikap romantis pada istrinya, padahal biasanya Mario selalu menjahili Inka yang sedang memasak.
Inka hanya menarik nafasnya kasar. Ia tahu Mario sedang marah padanya, walau ia tak merasa ini adalah sebuah kesalahan besar. Inka juga punya ego yang tinggi, ia wanita yang selalu ingin di mengerti dan tidak mau minta maaf jika dirinya merasa tak bersalah. Ia juga kuat untuk tidak bicara pada siapapun, apalagi tadi Mario bicara dengan nada yang tinggi. Namun, ini hal yang berbeda, jika ia mengikuti keegoannya, maka tidak ada satu pun yang akan mulai bicara.
“Pipi, mau ini.” Tanya Inka ketika menunjuk lauk makanan yang jauh dari jangkauan Mario.
Mario mengangguk tanpa menoleh ke arahnya, padahal Inka tengah menatap suaminya itu untuk melihat ekspresi di wajahnya.
“Mimi, ila mau ayam goleng.” Kata Mahira.
“Ahel juga.” Maher mengangkat piringnya.
“Okey, semua kebagian.” Jawab Inka dengan ceria. Sedangkan Mario sudah menikmati hidangan di hadapannya.
Setelah ritual makan malam selesai, Mario langsung pergi ke ruang kerjanya. Sedangkan Inka menyempatkan untuk bermain bersama putra putrinya, hingga mereka mengantuk dan terlelap di kamarnya.
Inka meninggalkan kamar si kembar dan melangkah menuju kamarnya. Walau ia kesal dengan sikap Mario yang menurutnya berlebihan, tapi ia akan tetap mengajaknya bicara.
Ceklek.
Inka membuka pintu kamarnya, ia mengedarkan pandangan di sana, mencari sosok pria yang saat ini tengah mendiamkannya. Namun sosok yang ia cari tak ada di sana. Inka coba melihat di balkon dan kamar mandi. Tapi tetap tak menemukan Mario.
“Apa dia masih di ruang kerja?” Batinnya, sambil menengadahkan kepalanya melihat jam dinding. Biasanya, Mario sudah berada di kamar jam segini.
Inka membuka gagang pintu ruang kerja Mario.
Ceklek.. Ceklek..
Inka mencoba membuka pintu itu, tapi Mario menguncinya. Sungguh, ini tidak biasa. Entahlah, sepertinya Mario ingin menyendiri.
Inka kembali menarik nafasnya kasar. Ia memang salah, tapi sikap Mario saat ini terlalu berlebihan. Menjadi istri memang harus selalu banyak mengalah.
“Sabar, In. Sabar.” Inka menguatkan dirinya sendiri.
Ia melangkahkan kakinya dengan lesu. Lalu kembali menuju kamar Maher dan Mahira. Sikap Mario yang seperti ini, yang dari dulu tidak Inka sukai. Mario mudah marah dan lebih memilih diam jika ada masalah. Namun, sikap itu tertutupi dengan sikap Mario yang baik dan penyayang. Suaminya adalah sosok yang hangat dan bertanggung jawab, itu yang membuat Inka semakin mencintainya.
****
Suara alarm di ponsel Inka, membangunkan tidurnya yang tak nyenyak. Ia kembali melangkahkan kaki menuju kamarnya. Ya, semalam Inka tertidur di kamar Maher dan Mahira. Memeluk kedua anak itu, sedikit membuatnya tenang dan tidak berpikir egois.
Ceklek.
Inka membuka pintu kamarnya, tapi Mario tetap tak berada di sana. Mario pun memilih untuk tidur di ruang kerja. Inka bergegas ke kamar mandi dan merendamkan diri di bathup dengan aromateraphy kesukaannya. Jika sedang kesal, ia akan berlama-lama di kamar mandi. Ia memainkan bulir bulir busa dan meniupnya. Lalu menenggelamkan diri, hingga tak terlihat di permukaan dan bangun setelah beberapa menit.
Kelakuan Inka jika kesal memang aneh, pernah Raka di buat khawatir saat Inka kesal dan menenggelamkan diri di kolam renang hingga tak muncul beberapa menit di permukaan. Padahal Inka sudah mahir mengatur nafas di dalam air. Ia sering menang, jika sedang beradu kuat tidak bernafas dalam air dengan Jessy, karena ia pernah mengikuti pelatihan sebagai penyelam dan mengikuti diving tour ke beberapa tempat.
Ceklek.
Mario membuka pintu kamar mandi dan sudah terasa aromateraphy menyengat di hidungnya, seperti aroma yang biasa Inka pakai jika berendam di sini. Namun, ia tak melihat sosok Inka di sana. Ia mendekati bathup, dan alangkah kagetnya melihat Inka yang tengah tenggelam di dalam bath up dengan tubuh yang tak bergerak.
Mario panik dan mengangkat tubuh Inka.
“Sayang, bangun!” Mario menarik tubuh Inka dari dalam air bath up.
“Sayang, apa-apan ini. Apa yang kamu lakukan!” Mario masih menggoyangkan tubuh Inka, tapi Inka tetap diam.
“Sayang, maafkan aku.” Mario memeluk tubuh Inka.
"Sayang, bangun. Jangan tinggalkan aku! Aku mohon. Aku tidak bisa hidup tanpamu.” Mario sesegukan, sambil memeluk tubuh polos Inka. Ia mengecup pundak terbuka Inka dengan deraian airmata.
Di balik tubuh Mario, Inka tersenyum dan matanya kembali tertutup saat Mario melepaskan pelukannya.
Mario langsung membopong Inka menuju tempat tidur.
“Ambar, Tari.” Teriak Mario panik.
Ia menyelimuti Inka dengan selimut tebal di sana, karena posisi tubuh istrinya yang belum mengenakan sehelai benangpun. Lalu Mario menarik hidung dan mulut Inka agar terbuka dan memberinya nafas buatan. Mata Inka terbuka satu, ia tak tahan ingin tertawa, melihat kepanikan Mario.
Ambar dan Tari dataang. “Ada apa, Pak”
"Tolong ambilkan minyak angin, cepaat.” Teriak Mario memerintahkan kedua baby sitternya itu.
“Baik, pak.” Ucap gugup Tari dan Ambar bersamaan.
‘Tak lama kemudian. “Uhuk..uhukk.uhuk.”
Inka pura-pura batuk dan tersadar.
Mario langsung memeluk erat istrinya.
“Jangan tinggalkan aku, Sayang. Aku dan anak-anak sangat membutuhkanmu.” Airmata Mario masih berderai.
Lalu ia melepas pelukannya dan menatap wajah Inka dengan intens.
“Apa yang kamu lakukan? Hah.”
“Mengapa kamu melakukan itu?” Tanya Mario kesal dengan perempuan yang selalu membuat jantungnya ingin keluar.
“Karena kamu marah padaku.” Inka pura-pura sedih, padahal bibirnya ingin sekali tertawa.
Mario kembali merengkuh tubuh itu. “Aku tidak pernah bisa marah padamu. Kalaupun aku diam, itu karena aku marah pada diriku sendiri.”
Ya, semalam Mario memang sengaja menyendiri, karena ia benci dengan dirinya sendiri, ia menyesal karena masa lalu nya di habiskan dengan hal-hal yang merugikannya di masa kini. Waktu itu, ia tak memikirkan dampak dari kelakuannya, yang ia tahu hanya bersenang-senang.
Tiba-tiba Ambar dan tari masuk tanpa mengetuk pintu kamar majikannya itu, dan melihat kedua majikannya yang tengah berpelukan.
“Mm.. maaf pak, ini minyak anginnya.” Kata Ambar, tapi Mario tak mendengar, ia tetap memeluk Inka dengan erat.
Lalu Ambar dan Tari mengerti dengan kode yang Inka berikan di balik tubuh Mario. Mereka pun langsung pergi dan tersenyum.
“Jangan seperti itu lagi, oke.” Mario mencium wajah Inka.
“Kamu juga jangan seperti itu lagi.” Kata Inka manja.
“Apa?”
“Jangan bentak aku.” Kata Inka dengan raut wajah sedih.
Mario kembali memeluknya. “Maaf, maaf. Itu tidak akan terjadi lagi.”