Istriku Canduku

Istriku Canduku
buah jatuh tak jauh dari pohonnya


Inka tengah berada di Taman kediaman Andreas. Dari luar jendela kamarnya, tempat ini seakan melambaikan tangan untuk meminta di hampiri. Begitupun udaranya yang sejuk seakan memenuhi oksigen di dalam rongga parunya. Inka berdiri di tengah-tengah hamparan bunga yang lumayan banyak jumlahnya. Ia mengenakan dres kemeja di atas lutut, berkerah ‘V’ dengan warna merah muda, menambah aura kecantikannya. Inka juga membentangkan lebar kedua tangannya, menghirup udara banyak dan melepaskannya perlahan.


Mario merenggangkan tubuhnya yang masih berada di tempat tidur. Ia meraba tangannya ke samping, sadar sudah tidak ada orang di sebelahnya, membuat ia langsung membuka matanya.


“Inka..” Mario langsung bangun dan berdiri, mencari Inka di kamar mandi. Kosong.


Mario merasa masih trauma, jika tak mendapati istrinya saat membuka matanya di pagi hari. Lalu, ia melewati jendela, dengan tirai yang sudah dalam keadaan terbuka. Ia melihat istrinya yang tengah berada di taman.


“Oh, kamu bikin aku takut, sayang.” Mario menghela nafasnya, sambil mengurut dada. Ia segera memakai pakaiannya dan menuruni tangga dengan sedikit berlari.


Mario berdiri dari kejauhan, ia menatap Inka yang sedang asyik memetik bunga-bunga bermekaran di sana.


“Cantik.” Ujar Mario, memang pakaian ini yang pertama kali Inka pakai saat pagi pertama berada di kediaman Andreas. Membuat Mario tak bisa menahan hasrat untuk menyentuh istrinya pada saat itu. Walaupun istrinya tak menginginkan itu terjadi sebelum adanya cinta.


Perlahan Mario menghampiri Inka. Namun, Inka tak menyadari kehadiran suaminya sama sekali. Tiba-tiba Mario melingkarkan tangannya pada pinggang Inka.


“Sayang, kamu ninggalin aku di kamar sendirian. Bikin orang jantungan aja.”


Wajah Inka langsung menoleh ke suara itu. Senyum mengembang di wajah cantiknya. Sementara, Tangan kirinya memegang bunga yang tadi dipetik, dan tangan kanannya di angkat ke atas untuk mengelus rambut sang suami.


“Maaf, sayang.”


“Apa?” Tanya Mario dengan penuh senyum mendengar panggilan mesra dari Inka.


“Maaf.”


“Bukan. Tadi kata yang di akhir. Apa?” Mario mencoba memancing Inka.


Inka tergelak dan menutup mulutnya. “Kalau itu ga ada siaran ulang.”


“Pelit.” Mario menelusuri leher jenjang istrinya itu. Kemudian, Inka menengadahkan kepalanya, memberikan jalan agar Mario dapat melakukan sesukanya, dan seolah ia pun menyukai yang sering di lakukan suaminya itu.


“Ah… Pasti di gigit.” Ujar Inka sambil tertawa, karena sebelumnya Mario menelusuri leher jenjang Inka sambil meniupkannya, membuat efek geli.


“Ulang dulu, kata yang di akhir tadi, baru aku berhenti menggigit.” Ucap Mario sambil tertawa.


“Hahahaha… Aww.. Hmm.. sakit. Oke oke!” Inka menghentikan aktifitas Mario tadi. Lalu, membalikkan tubuhnya, menjadi tak ada jarak antara dia dan Mario.


Inka menangkup wajah Mario. “Aku tidak akan meninggalkanmu lagi, Sayang. Tidak akan!” ia berkata sambil menggelengkan kepalanya.


“Karena aku sangat mencintaimu, Sayang.” Inka mengangkat alisnya sambil tersenyum manis.


“Oh, so sweet. Ternyata kamu bisa romantis juga ya, miss galak.” Inka tergelak, mendengar penuturan suaminya.


Mario menatap Inka yang tertawa dari jarak tak berbatas. “Kamu cantik, apalagi kalau tertawa seperti ini.”


“Hmm.. Gombal.”


Mario meraih tengkuk Inka,


Cup


Jauh di seberang sana, Sukma tengah menikmati ‘live romatic’ majikannya.


“Ih, ngapain lo?’ Ujang menepuk pundak Sukma yang masih berdiri mematung di tempatnya.


Arah mata Ujang mengikuti pandangan mata Sukma.


“Wah ya, lo ngintip Den Mario sama Non Inka ciuman.”


“Selama ini, saya cuma bisa liat orang ciuman di drama korea, eh sekarang saya melihat langsung.” Kedua telapak tangan Sukma di dekap ke dadanya, sambil seyam-senyum.


Pletak…


Ujang menyentil kening Sukma.


“Aww.. Sakit tau!” Sukma memegang keningnya sambil cemberut.


“Biasa aja donk! Tuh bibir makin moyong aja.” Kata Ujang sambil membekap mulut Sukma.


Sukma memukul lengan Ujang. “Kamu yang monyong, ngambil kesempatan dalam kesempitan.”


Ujang berlari, lalu Sukma mengejar Ujang hingga ke dalam.


“Mmpphh…” Inka meminta Mario menyudahi pangutan itu, karena jika tidak di kode seperti itu, Mario tidak akan berhenti.


"Udah.” Telapak tangan Inka menutup mulut Mario.


“Belum bengkak.” Ledek Mario.


Inka menggeleng sambil tersenyum. “Ish.. Malu, kak.”


Mario tersenyum juga dan meraih tangan Inka. “Ya udah yuk ke dalam!”


Di sebuah jendela kamar, Laras berdiri melihat ke arah taman, di sana ada dua insan yang tengah dimabuk cinta. Tanpa di sadari dua insan itu, apa yang mereka lakukan banyak di lihat penghuni rumah itu.


“Pa, mama seneng akhirnya putra kita menemukan kebahagiaannya.”


Andreas ikut menghampiri Laras dan mengikuti apa yang sedang istrinya lihat. Tangan Andreas melingkar di pinggang Laras.


“Papa yakin setelah ini, mereka akan selalu bahagia. Karena Mario susah mendapatkan Inka, dan sekarang dia sudah mendapatkannya, pasti dia juga akan selalu menjaganya.” Andreas menelusuri leher jenjang istrinya. Istri yang sudah memasuki usia lima puluh tahun lebih. Namun, tetap cantik dan kerutan tipis yang masih hampir tak terlihat.


“Mario itu sama seperti kamu muda. Persis, ngga kebuang.” Senyum Laras sambil mengelus rambut Andreas yang berada persis di samping kepalanya.


Andreas tergelak dan semakin menciumi istrinya. “sampai sekarang juga masih muda, sayang.”


“Laras mengangguk. “Iya, kekuatan di ranjangmu masih sama dan ga berubah.”


Lalu, keduanya tergelak bersama.


"Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya." Ucap Andreas tersenyum bangga.