
Di daerah puncak, Indah bersama Maher dan Mahira tengah berada di taman bunga buatan Raka.
"Wah.. bunganya bagus-bagus, Kek." Ucap Mahira yang di temani Raka.
"Kamu suka?" Tanya Raka pada cucu perempuannya.
Mahira mengangguk.
"Sayang, kamu suka?" Raka merangkul Indah dari samping dan memandang wajahnya yang masih terlihat cantik itu dengan senyum mengembang.
Indah menoleh ke wajah Raka dan tersenyum. Senyum yang selalu lekat dalan ingatan Raka.
"Ini aku buat untukmu, khusus untukmu yang menyukai bunga-bunga ini." Kata Raka.
Indah tertawa.
"Sejak kapan kamu bisa romantis seperti ini?"
"Sejak mempunyai menantu seperti pengusaha cyber itu. Aku banyak belajar dari cara dia mencintai putri kita." Jawab Raka.
Indah meluruskan pandangannya, menatap lagi rangkaian bunga-bunga yang di tata rapih di sana.
Maher dan Mahira benar-benar gembira. Mereka berlarian kesana kemari, karena Raka pun menyediakan area tempat bermain sedikit untuk cucunya bermain di sana.
Indah mengangguk. Ia memang mengacungi jempol dengan kasih sayang dan kesetiaan yang di berikan Mario pada putrinya, walau Mario pernah melakukan kesalahan, tapi kesalahan itu terjadi karena rasa bersalah masa lalu yang masih melekat pada saat itu.
Kedua tangan Raka memegang kedua bahu Indah. kemudian, mereka berhadapan.
"Indah, aku minta maaf atas luka yang pernah aku berikan padamu. Luka yang mungkin tidak pernah bisa dengan mudah hilang dari ingatanmu. Tapi sungguh, aku pun menderita saat kamu pergi. Ada kekosongan di sini." Raka menunjuk pada dadanya.
"Aku mohon, untuk ke sekian kalinya, maafkan aku. Terima lamaranku." Ucap Raka lagi dengan lirih.
"Apa kata-kata ini, di ajarkan oleh Mario juga?" Tanya Indah sambil tertawa.
Sontak Raka pun ikut tertawa.
"Memangnya aku sebegitu kakunya ya, hingga kamu tak percaya?" Raka balik bertanya.
Indah mengangguk.
"Kamu kaku dan tidak romantis."
"Tapi sekarang tidak seperti itu." Sanggah Raka.
"In, di sisa usiaku saat ini, ku mohon temanilah aku." Raka kembali berkata dengan lirih dan penuh harapan.
Matanya mengisyaratkan penuh harap. Ia berharap kali ini Indah tak menolaknya, karena ini adalah lamaran Raka yang ke enam kalinya. Hampir setiap enam bulan, Raka mengutarakan maksud yang sama.
"Hmm.." Indah mengetuk-ngetuk dagunya.
"Ku mohon jangan menolak." Raka mengantup kedua tangannya.
"Ayo nenek, terima kakek. Ayo!" Celetuk Mahira.
"Hmm.. aku juga sudah berpikir lama, dan.." Indah berkata perlahan.
Jantung Raka bedegup kencang, ia dag dig dug mendengar jawaban wanita yang sangat ia cintai itu.
"Dan aku bersedia menjadi istrimu, lagi." Indah menekankan kata di akhir kalimatnya.
Lalu, Raka langsung memeluk tubuh Indah.
"Aku akan menjadi suami, lagi." Raka pun menekankan kata di akhir kalimat itu, lalu melanjutkan kembali kata-katanya.
"Tapi kali ini, aku tidak mengecewakanmu, lagi." Ia kembali menekankan kata di akhir kalimat itu.
Indah tersenyum dan mereka pun kembali berpelukan.
"Yeaaa.." Maher dan Mahira menghampiri nenek dan kakelnya yang sedang berpelukan.
Mereka menubruk Indah dan Raka. Mereka pun meminta untuk di peluk.
Raka dan Indah tertawa sambil memeluk kedua cucu mereka.
****
Tut.. Tut.. Tut..
Ponsel Inka berdering.
Di sofa yang berada di dalam kamarnya, Mario masih memeluk sang istri yang sedang berbaring di tempat itu sambil menonton televisi. Mereka benar-benar honeymoon di rumah karena kedua anaknya sedang tak berada di sini.
"Sayang, aku terima telepon dulu." Ucap Inka pada Mario yang tertidur di atas dadanya.
"Hmm.."
Ponsel Inka berhenti berdering.
"Sudah tidak bunyi. Cuekin aja." Kata Mario yang malas melepas tubuhnya dari tubuh sang istri.
"Kak.."
"Hmm.."
"Kamu ya semakin hari semakin manja tau ngga." Kata Inka kesal, karena Mario semakin lama semakin manja dan mudah ngembek.
Inka terkadang gemas dengan tingkah possesive suaminya, juga tingkah manjanya yang melebihi Maher.
"Biarin." Jawab Mario santai.
"Ih.." Inka tak bisa mengangkat telepon yang berdering lagi.
Tubuhnya di kungkung oleh badan besar Mario, karena kini Mario terlihat lebih gempal, walau perutnya tidak begitu bulat.