Istriku Canduku

Istriku Canduku
ya kali, Pak Rio ngegosip


"Ms, makan yuks!" Sari dan bianca sudah bersiap untuk makn siang di luar.


"Ayo, tapi tunggu sebentar." Inka merapihkan semua kertas yang menumpuk di meja nya.


Mereka berjalan menuju parkiran. Sari langsung berlari dan membuka pintu mobil untuk Inka.


Bianca menyalakan mobilnya. Setelah Sari dan Ika mesuk ke dalam.


"Kamu udah persis Mario, tau ngga Sar. Lebay!" Inka mencibir Sari yang memperlakukannya istimewa.


"Justru, saya dapat amanat dari Pak Rio, buat jagain Ms, kalau lagi kerja." Jawab Sari sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ya ampun." Inka mengusap wajahnya.


"Bagus donk, Ms. Itu namanya suami siaga." Bianca tersenyum meledek.


"Iya sih, tapi berlebihan banget." Ujar Inka.


"Karena dia sangat mencintai, Ms Inka." Celetuk Sari.


"Iya, Ms. Aku ngga tega banget liat Pak Rio waktu di tinggal Ms Inka. Udah kaya mayat idup." Bianca ikut menambahkan.


"Begitu ya? Terus?"


"Untung ada Ibu Laras. Mamanya pak Rio itu luar biasa, Ms." Kata Bianca.


"Iya, Mertuanya Ms. Inka, baik banget, perhatian sama semua karyawan. Ibu laras tidak pernah ngeluh mengurus anaknya yang lagi down dan butik yang Ms. Inka tinggal secara bersamaan." Kata Sari.


Inka tertunduk lesu. Ia sadar telah merepotkan banyak orang pada waktu itu. Memang saat itu, ia egois, tidak memikirkan apapun, yang penting hatinya yang sedang terluka, bisa terobati.


"Maaf ya." Inka menoleh ke wajah Bianca dan menoleh kebelakang untuk melihat Sari.


"Sudahlah Ms, semua sudah berlalu." Kata Bianca.


"Iya, Ms. Yang penting Ms. Inka udah di sini, bersama kita lagi. Dan Aku seneng liat Ms sama pak Rio bahagia." Ucap Sari.


"Iya, terkadang memang kita merasa seseorang itu sangat berarti, jika sudah tidak di depan mata." Bianca berkata lagi.


"Jiah.. Puitis banget Ms. Bi." Kata Sari menepuk pundak Bianca dari belakang.


"Wah.. Miss Inka emang ngga tau?" Sari menjawab dan Inka langsung menggeleng.


"Ms. Bi, kan lagi deket sama asistennya Pak Rio."


"Sari.. Ember lo." Teriak Bianca.


"Aaaa.. Seriusan? Dhani? Kok Rio ngga pernah cerita." ucap Inka.


"Ya kali, Pak Rio ngegosip, Ms." Sari tertawa.


"Iya juga ya.. Hahahaha." Ketiganya tergelak.


****


Inka, Sari, dan Bianca sampai di sebuah mall di daerah Jakarta Selatan. Tidak terlalu jauh dengan lokasi butik mereka. Ketiganya langsung beralih ke sebuah Resto Jepang dengan konsep memasak langsung di meja makannya. Sesuai permintaan ibu hamil yang sedang menginginkan sukì dan barbeque.


"Bi, Sar. Aku ke toilet dulu ya." Ucap Inka dan beranjak dari duduknya menuju toilet.


Ketika sedang berjalan menuju toilet. Inka bertemu dengan sepasang entah itu suami istri atau masih berpacaran. Pasangan itu yang sedang bertengkar di pojok lorong yang sepi.


"Kamu.. sudah di bilang jangan ikutin aku! Kamu ngga ada kerjaan apa?" Teriak pria itu sambil menunjuk-nunjuk ke wajah si wanita di hadapannya.


Teriakannya membuat Inka merasa ingin tahu, siapa lelaki yang tega berbuat kasar kepada pasangannya itu. Setelah sedikit mendekat, mulut Inka menganga, setelah ia tahu siapa pasangan yang tengah bertengkar itu.


"Sudah, Kak. Aku mohon, jangan lagi kamu selingkuh. Kasihan anak kita, Kak." Suara lirih wanita itu dengan wajah uang sangat memelas.


"Aku ngga peduli, Jangan pedulikan aku. Urus saja anak itu, belum tentu anak itu anakku."


"Apa yang kamu katakan, Kak. Deandra anakmu. Aku terima kalau kamu selingkuh dengan teman kerjamu, tapi aku ngga terima kalau kamu sebut Deandra bukan anakmu. Awas aja, aku akan bilang.." Ucapan wanuta itu terpotong.


"Iya bilang saja terus sama papamu, katakan semua keburukanku, ngadu semua ke papamu. Aku sudah ngga peduli." Lagi-lagi pria itu berteriak.


"Kamu memang seperti anak kecil, aku bodoh karena telah memilihmu pada waktu itu." Pria itu mentoyor kepala wanitanya dan segera pergi.


Inka lagi-lagi hanya bisa menganga dengan apa yang ia lihat. Ya, pasangan itu adalah pasangan suami istri, Adhis dan Vino. Menurut cerita Mario, tepat bersamaan dengan kepergian Inka, Adhis hamil. Oleh karena itu, Raka tak ikut serta membantu Mario untuk mencari Inka, karena saat itu ia pun sedang di pusingkan oleh tingkah Adhis. Apalagi sikap Desi, yang selalu memanjakan Adhis, membuat kepala Raka serasa ingin pecah. Raka selalu di salahkan atas apa yang terjadi dengan anaknya itu. Menurut Adhis, Vino ayah dari anak yang sedang di kandungnya, karena memang pada saat itu status mereka berpacaran, dengan siapa lagi Adhis hamil kalau bukan dengan pacarnya.Tapi Vino tidak mau mengakui, dan memilih untuk kabur, sehingga Raka harus mengejar kemanapun Vino bersembunyi. Sampai àkhirnya Raka menemukan Vino dan dengan terpaksa Vino menerima pernikahan itu.


Sekarang Vino menyiksa Adhis secara psikis, hingga fisik. Membuat Adhis pun sering menyesali perbuatan buruknya pada Inka. Apalagi setelah ia mengetahui kabar, bahwa Inka sudah kembali dan bagaimana Mario yang begitu mencintai kakak tirinya itu.