
Mario semakin gelisah. Pasalnya Inka tidak pernah mengangkat teleponnya sejak tiga hari berturut-turut. Mario hanya menanyakan kabar Inka melalui Indah.
“Bisa?” Tanya Mario pada staff IT andalannya. Ia meminta pegawai andalannya itu untuk menghack isi ponsel Inka.
“Ini agak susah pak, pengamannya sangat ketat, karena istri bapak memakai nomor luar.” Kata si IT itu.
“Bulan depan saya kasih intensf 3x lipat dari gajimu sebelumnya, kalau kamu bisa meretas akses semua yang ada di ponsel istri saya.” Ujar Mario.
“Siap, Bos” ucap pegawai IT itu, dengan senyum mengembang.
Mario beralih untuk mengerjakan pekerjaan yang lain.
Di sisi lain, Inka sudah pamit dengan teman-temannya di butik. Inka resmi resgin dari tempatnya bekerja. Walau sesungguhnya ia masih ragu akan melakukan apa setelah ini, tapi setidaknya janji untuk menyelesaikan pekerjaann di butik ini sudah dilakukan.
“Inka..” Peluk Bella.
“Kita masih akan sering bertemu, Bel. Kita kan akan menjadi saudara.” Ujar Inka dengan senyumnya.
Bella mengangguk.
Sesampainya Inka di rumah, Indah sudah banyak membelikan pernak pernik ke khasan negara kincir angin itu. Indah juga membuat beberapa kue kering untuk Inka bawa ke Jakarta. Karena beberapa hari terakhir, Inka sering sekali memakan makanan camilan, padahal biasanya ia tak seperti itu.
Indah melangkahkan kakinya menuju kamar Inka. Ia membawa satu toples makanan kering untuk di letakkan di kamar putrinya itu.
“Sayang, lagi apa?” Tanya Indah ketika melihat Inka yang sedang mematung di depan cermin kamar mandinya.
Inka terkejut, membuat benda yang sedang ia pegang terjatuh.
“Apa itu, In.” Indah menghampiri Inka, dan memungut benda itu.
Indah tersenyum lebar, sambil tangan kiri menutup mulutnya dan tangan kanan memegang benda yang terjatuh tadi.
“Kamu hamil?” Indah masih tersenyum senang sambil memegang bahi Inka.
Inka mengangguk. “Inka, baru tes tadi pagi.”
“Alhamdulillah, selamat sayang.” Indah memeluk putrinya.
"Mario tahu? Kamu sudah mengabarinya kan?” Inka langsung menggeleng.
“Kenapa? Kalian bertengkar lagi?” Tanya Indah bingung.
Inka menggeleng. “Tidak, Ma.”
“Oh, apa ini ada kaitannya dengan Mario yang suka menelepon mama? kamu tidak mau mengangkat teleponnya, kenapa?”
Inka meraih ponselnya yang berada di nakas, dan memberikan pada Indah. Kemudian, Indah melihat foto yang Inka terima tiga hari yang lalu dari nomor yang tidak di kenal. Namun, dari nomornya tercetak jelas, bahwa nomor itu +62.
“Kamu yakin, Mario seperti ini. Kalau mama kira ini tidak di sengaja, atau orang yang memfoto ini mengambil engel yang kebetulan pas dengan posisi ini.” Indah mencoba menenangkan Inka.
“Kasihan dia, In. Mario lelaki yang baik. Mama lihat dia begitu mencintaimu. Tidak semua laki-laki seperti ayahmu. Jangan jadikan rumah tangga mama dan papamu dulu sebagai ukuranmu sekarang! Jalan hidup orang berbeda-beda, sayang. Nasib mama tidak sama denganmu. Pupuklah rasa percayamu untuk Mario, karena jika sikapmu seperti ini, akan selalu ada masalah di antara kalian. Mario itu pria tampan dan mempunyai materi yang banyak, pasti banyak wanita yang ingin menjadi pendampingnya, tapi dia memilihmu. Pikirkanlah! Jangan kamu pertaruhkan kebahagianmu hanya karena masalalu kami.” Indah menjelaskan panjang lebar, agar putrinya bisa mengerti.
Inka menangis, di sertai Indah. Mereka berpelukan erat.
****
“Sial, rupanya ayah anak kecil itu pelakunya.” Gumam Mario, setelah pegawai IT nya berhasil menjebol isi ponsel Inka.
“Dhan, gue terbang hari ini ke Belnada. Lo atur ulang jadwal gue buat tiga hari kedepan!” Ucap Mario pada ponsel yang ia pegang.
Mario sampai Belanda pada siang hari, mengingat ia berangkat tepat pada waktu dini hari kemarin. Kini, ia berada tepat di depan rumah Karel. Ia melihat Inka yang tengah menyiram tanaman di halaman depan rumah Karel. Ia sengaja berdiri, untuk menikmati wanita yang ia rindukan itu.
Inka tengah menunduk, membereskan tanaman agar terlihat rapih. Tak lama kemudian, ia menegakkan tubuhnya, dan meluruskan pandangannya. Terlihat di hadapannya sosok pria yang selalu ia pikirkan. Inka mengedipkan matanya berulang kali, memejamkan lama lalu membuka mata itu lagi. Sesekali ia pun menepuk pipinya.
“Ya, ampun. Aku memikirkannya sampai berhalusinasi seperti ini.” Gumam Inka dengan suara yang sangat jelas, sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Kamu ngga lagi berhalusinasi sayang. Aku memang sedang ada di sini, di hadapanmu.” Ucap Mario pada telinga Inka.
Inka langsung menoleh ke arah suara itu, dan wajahnya langsung berhadapan pada wajah tampan itu. Inka segera menghamburkan pelukannya.
“Maaf, maaf aku tak menjawab teleponmu beberapa hari terakhir ini.”
Mario bukan menjawab, malah langsung mencium bibir ranum Inka, terus ******* seperti permen.
“Mmmpph..” Inka mulai kehabisan oksigen. Mario pun menyudahi pangutannya, dan membelai wajah istrinya.
“Aku mohon, percayalah padaku! Aku bukan Mario yang dulu, aku bukan Mario si lelaki playboy yang sering kencan dengan beberapa wanita, atau live together dengan pacarnya. Aku adalah Mario yang sudah menikah, dengan wanita bernama Inka Pramesti binti Raka Prayoga. Satu-satunya wanita yang akan aku cintai seumur hidupku, yang akan melahirkan anak-anakku dan menua bersamaku.”
Air yang berada di sudut mata Inka, tak lagi bisa di bendung. Air itu mengalir dengan deras, seiring kata-kata yang keluar dari mulut Mario. Terdengar jujur dari dalam hati.
Inka tersenyum dan mengangguk. “Aku percaya, mulai hari ini aku akan mempercayaimu, dan akan selalu bicara jika ada hal yang mengganjal hatiku.”
Mario pun tersenyum. “Janji!” ia menampilkan jari kelingkingnya.
“Janji.” Kata Inka, membalas senyuman Mario dan menampilkan jari kelingkingnya juga.
Mario masuk ke dalam rumah Karel.
“Kok sepi, Mommy dan Daddy kemana?”
“Mereka sedang ke supermarket dan mas Harris kerja.”
“Aku ga tanya Harris.”
“Ish.. kamu, biar bagaimanapun dia kakakku tau.” Inka cemberut. Lalu Mario merangkul istrinya kembali menuju kamarnya.
Di tengah langkah kaki menyusuri tangga, Mario menceritakan orang yang telah mengirimkan fotonya pada Inka. Inka terkejut tak percaya, karena selama ini Pras sangat baik padanya. Ia tak percaya Pras bisa melakukan hal ini.
“Lihat saja, aku akan blok semua bisnisnya.” Ucap Mario dengan nada dingin, sambil mendudukkan dirinya di ranjang milik Inka.
"Jangan gitu, Kak! Kasihan dia, dia punya anak yang harus di biayai.” Jawab Inka.
“Harusnya dia mikir dulu sebelum berbuat, lawannya siapa? Dampaknya bagaimana kalau aku tahu bahwa ini ulahnya?” Lagi-lagi Mario berkata penuh emosi.
“Iya, tau deh kalau sultan ga bisa di lawan.” Ledek Inka, sambil mendudukkan dirinya di samping Mario.
Kemudian, Mario tersadar bahwa ia tengah mendudukkan sesuatu. “Ini kemejaku?”
Inka mengangguk. “Iya emang, beberapa hari terakhir aku ga bisa tidur. Terus liat kemejamu yang masih tergantung di kamar mandi. Ternyata setelah aku mencium aroma kemejamu, aku langsung bisa tidur. Jadi aku dekap kemeja ini, setiap malam.”
“Hmm… segitu kangennya kamu sama aku. Hah.” Mario langsung memeluk tubuh Inka dan mereka berguling di tempat tidur yang tidak besar itu.
Ketika Mario ingin mencium istrinya lagi, Inka menahannya. “Mandi dulu! Dari kemarin pasti belum bersih-bersihkan.”
“Aku wangi, ini kemejaku yang sudah berminggu-minggu aja belum di cuci, kamu dekap terus.” Ledek Mario, sambil terus mengekang kepala Inka dengan ketiaknya.
Mereka tertawa bersama, hingga akhirnya Inka beranjak dari tempat tidur dan menyiapkan Mario air hangat. Di kamar mandi, Inka sengaja meletakkan alat tes kehamilan yang sudah menunjukkan dua garis merah itu di depan cermin, agar Mario dapat melihatnya.