
“Sayang, dasiku mana?” Teriak Mario, hingga terdengar dari kamar Maher.
Inka tengah memakaikan Maher dasi. Maher tampak lucu mengenakan jas hitam dengan dasi kecil melingkar di lehernya. Maher menggunakan setelan yang sama seperti ayahnya, sedangkan amhira menggunakan gaun yang sama seperti ibunya.
“Tar, tolong teruskan ya.” Inka memerintahkan Tari untuk kembali mendandani Mahira.
“Baik, Bu.” Tari mengangguk.
Inka berjalan cepat menghampiri arah suara teriakan Mario tadi.
“Iya, Kak.” Jawab Inka setelah sampai di pintu kamarnya.
“Dasiku mana?’ Tanya Manja Mario.
“Itu apa sih, kak.” Inka menunjuk pada dasi hitam bercorak garis-garis yang sudah ia taruh tepat di atas tempat tidur.
‘Dasi udah di depan mata begini, masih teriak-teriak sih,” Gerutu Inka, sambil meraih dasi dan mendekatkan tubuhnya pada Mario.
Mario tersenyum.
Cup
Ia mencium bibir ranum Inka.
“Kalau cemberut makin sexy.”
“Gombalannya ngga mempan.” Jawab inka sambil memakaikan dasi di leher Mario.
“Mempannya sama kalung atau gelang berlian ya.” Ledek Mario.
“Bukan, tapi sama ini kamu.” Inka meremas kejantanan Mario dengan gemas.
Sontak membuat Mario tergelak. “Nakal.”
Inka tersenyum menyeringai. Lalu pergi meninggalkan Mario yang sudah rapih.
Mario masih berdiri di sana dengan senyum yang lebar sambil menggelengkan kepalanya melihat punggung Inka yang semakin lama menghilang. Hidupnya kini memang penuh dengan warna. Berangkat dan pulang kerja, selalu di sambut kedua anak yang imut-imut dengan teriakan mereka yang memanggilnya pipi. Belum lagi ketika malam harinya, ia di sambut dengan pelukan hangat dan kehangatan tubuh sang istri yang mampu meleraikan lelahnya.
Sungguh kebahagiaan yang tak dapat di tukar oleh apapun. Bahkan oleh segunung emas pun.
Inka, Mario dan kedua anaknya sampai di hotel miliknya yang di akusisi bersama kedua sahabatnya itu. Maher begitu tampan dan lucu, sedangkan Mahira begitu cantik dan menggemaskan. Sejak kaki mereka sampai di tempat ini, mereka menjadi sorotan terutama Maher dan Mahira.
“Miss.” Sapa Sari dan ketiga perempuan yang memang semuanya bekerja di butik Inka.
“Hai.” Inka menyalami satu prsatu dengan saling bercipika cipiki.
“Hai ganteng.” Sapa Sari pada Maher yang sedang berpegangan pada tangan kanan sang ayah. sementara Mahira memegang tangan kiri ayahnya.
“Hai, cantik.” Sapa salah seorang pegawai Inka pada Mahira.
“Miss, sumpah ya, anaknya ganteng dan cantik banget sih.” Kata Sari.
“Ya kan bibitnya juga ganteng dan cantik, Sar.” Jawab salah seorang pegawai Inka.
Inka tersenyum, sedangkan Mario tetap cool.
Tak lama kemmudian, prosesi adat berlangsung. Semua tamu undangan berdiri dan penyaksikan dengan sangat khidmad. Dhani dan Bianca keluar di iringi oleh keluarga dan kerabatnya. Dhani tersenyum saat matanya berpapasan dengan Mario dan keluarganya. Begitu pun Bianca, ia menyempatkan untuk melambaikan tangannya saat menemukan beberapa teman-teman dekatnya tengah berdiri di tempat yang ia lewati.
Mario dan Inka memang datang lebih dulu untuk menyaksikan akad nikah mereka pagi tadi. Karena Mario berjanji pada Dhani akan menjadi saksi di pernikahannya, lagi pula ia pun sudah menganggap Dhani seperti adik sendiri. Kemudian Mario dan Inka pulang lagi untuk menjemput kedua anaknya dan berganti pakaian hingga menunggu sore, menunggu acara resepsi itu di gelar.
“Selamat ya. Dhan, Bi.” Ucap inka saat bersalaman pada kedau mempelai yang berdiri di atas dekorasi megah yang di taburi banyak bunga.
“Terima kasih, Miss.” Jawab bianca dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
“Terima kashi, Bu.” Ucap Dhani.
‘Selamat, Bro. Akhirnya.” Mario memeluk dhani, yang di sambut hangat oleh asisten setianya itu.
“Terima kasih, Pak. Terima kasih untuk semuanya.” Tiba-tiba Dhani melow, dan rasanya ingin menangis di pelukan Mario.
“Jangan nangis lo, Dhan! Saatnya senang-senang, apalagi nanti malam, kalau lo ngga tau caranya, telepon gue.” Bisik Mario di telinga Dhani.
“Walaupun saya belum pernah melakukannya, tapi saya juga sering nonton pak. Jadi saya tau.” Jawaban Dhani sontak membuat Mario tertawa geli. Dhani pun mengikutinya.
‘Jangan bilang Pak Rio, memberikan tips aneh ke Dhani ya, Miss.” Bisik Bianca pada Inka.
“Sepertinya begitu.” Ledek Inka dengan senyum penuh arti.