Istriku Canduku

Istriku Canduku
kangeeenn bangeeet...


Inka melangkah keluar rumah sakit, pertemuan dengan dr. Mediana sudah tak di ingatnya lagi. Ia menaiki taksi, entah kemana arah tujuannya sekarang? Ponselnya langsung di non aktifkan. Ia ingin sendiri dulu hari ini.


"Kita kemana bu? dari tadi saya hanya muter-muter." Supir itu sudah bertanya lima kali, namun tak mendapatkan jawaban dari Inka.


"Bu.. Bu.." Teriak supir taksi itu.


"Ah.. iya." Akhirnya, Inka bersuara.


"Akhirnya, ada suaranya bu. Dari tadi saya tanya, kita mau kemana? Saya pusing muter-muter sini aja."


"Oh, hmm.. Di depan ada mall ya pak? saya berhenti di sana saja." jawab Inka.


"Baik bu."


Inka berhenti persis di lobby mall kasablanka. Ia ingin mencari ketenangannya sendiri, biasanya Inka akan menghabiskan makanan yang banyak, jika ia stres atau frustasi.


"Ini makanannya bu." Si pelayan mengeluarkan 10 menu favoritnya.


"Aaa.. akhirnya, terima kasih" Ucap Inka pada pelayan yang selesai menyuguhkan makanan pesanannya.


"Mari makan!" Kata Inka pada dirinya sendiri.


Setiap orang yang di sana akan menoleh ke arah kursi Inka. Pasalnya ia hanya duduk sendiri, tapi makanannya ada 10 porsi.


Perut Inka terasa penuh, sesekali ia bersendawa keras dan terkadang mual. Ia melangkahkan kaki menuju departemen store, ia akan menghabiskan uang Mario untuk berbelanja. Baru saja Inka melihat-lihat pakaian di sana. Terdengar suara tangisan seorang anak kecil di pojokan stand. Anak kecil itu, di temani oleh beberapa Sales Promotion Girl (SPG) yang bertugas di stand tersebut.


"Kenapa anak kecil itu mba?" Tanya Inka pada SPG yang tengah melayani mencari pakaian yang ia cari.


"Oh, itu bu. Anak kecil itu terpisah dari ayahnya. Tapi di tanya nangis terus, di ajak ke bagian informasi malah ngamuk." ucap SPG itu.


Hati Inka tergerak untuk mendekati anak kecil yang tengah menangis itu. Semakin dekat, Inka semakin mengenal wajah anak itu.


"Angel?" Gumam Inka. Lalu Inka memanggil nama itu dengan suara agak keras.


"Angel.."


Angel menoleh ke arah Inka. Ia pun langsung berteriak dan memeluk Inka.


"Mommy..." Pelukan itu semakin erat.


"Oh, ya ampun. Jadi ibu ini mamanya. Kenapa ga dari tadi bu samperin anaknya." ucap salah satu SPG itu.


"Iya, maaf.. maaf." Inka menjawab sambil kepalanya mengangguk-angguk. Inka malas menjelaskan kepada orang yang di sana, kalau ia bukan ibunya.


Inka langsung menggendong Angel dan berjalan keluar Departemen Store itu.


"Wah setahun mommy ga ketemu Angel, sekarang udah makin tinggi dan berat." Kata Inka saat menggendong Angel sambil berjalan.


"Mommy.. kemana aja sih? Angel tanya papi, jawabnya ngga tau. katanya papi ga punya nomor mommy." Inka tergelak, anak ini memang dewasa sebelum waktunya. Bahkan untuk berbicara saja, dia sudah seperti orang besar.


"Oh, iya ya.. Mommy juga lupa ga simpen nomornya papi." Inka tersenyum memperlihatkan jejeran giginya.


"Sekarang, kita cari papi ya!" Angel mengangguk dan menunjukkan di mana letak mereka berpisah.


Akhirnya, Inka ke pusat Informasi, karena sudah berputar tetapi tak menemukan Pras di sana.


Sesampainya di pusat informasi, sudah terlihat sosok Pras yang berdiri memunggungi Inka dan Angel. Ia sibuk memegang ponselnya dan menelepon.


"Papi.." Angel turun dari gendongan Inka dan berlari ke arah sang ayah.


"Angel.." Pras membentangkan kedua tangannya, ia langsung memeluk Angel dan menciumi seluruh wajahnya.


"Pi, ada Mommy tuh!" Dengan senyum Angel memberitahu sang ayah dan menunjuk ke arah Inka. Inka hanya tersenyum mendapat tatapan dari Pras.


"Angel bilang apa, Mommy pasti nemuin kita." ucap Angel sambil mengalungkan lengannya pada leher Inka.


"Ngga apa mas. Aku juga kan kangen sama Angel. Kangeeen bangeet malah." Inka mengecup pipi Angel.


"Sama mom, Angel juga kangeeeen bangeeet sama mommy." Keduanya pun tertawa. Pras terenyuh melihat keakraban mereka.


Mereka berjalan-jalan bersama. Inka menemani kemana pun Angel pergi. Inka tertawa lepas, tatkala menemukan kata-kata terbalik yang di ucap Angel, atau ucapan kata-kata ke sok tahuannya.


"Mommy, kita ke sini ya. Papi.." Angel merengek pada sang ayah untuk bermain di tempat bermain anak yang tersedia di pusat perbelanjaan tersebut.


Pras mengangguk.


Ketiganya saling tertawa dan bermain bersama. Sungguh kesedihan yang di alami Inka siang tadi, mendadak hilang dengan kehadiran Angel.


****


Di kantor, Mario tengah menatap tempat makan yang di berikan Sherly padanya. Ia tersenyum dengan hasil kreasi makanan Inka yang begitu manis. Di sana, Inka pun menyelipkan note kecil.


'Makanannya di habiskan ya, walaupun rasanya ga tau enak apa ngga, yang penting di buatnya dengan cinta 💕'


Mario tersenyum membaca note itu.


Sebelum memakan hidangan makan siangnya yang sudah terlambat itu, Mario meraih ponselnya dan men-dial nomor Inka. Mario menatap nama panggilan Inka di ponselnya.


"Ah, aku belum merubah namamu di sini." Batin Mario.


Kemudian Mario merubah nama 'My Partner S*x' menjadi 'My Sweet Wife'.


Berulang kali, Mario mencoba menghubungi Inka, namun masih saja suara operator yang menjawabnya. Kemudian Mario menelepon Sari.


"......"


"Sar, apa Inka ada di ruangannya?"


"....."


"Rumah sakit mana?"


"....."


Mario langsung menutup telepon tanpa salam.


Mario masih berpositif thinking, ia berpikir ponsel Inka sedang kehabisan daya. Memang Inka sering seperti itu. Ia berencana akan meneleponnya lagi setelah mengurusi pekerjaannya.


****


Sari tengah di temani pacar barunya. Kebetulan saat ini ia hanya sendiri di ruangannya. Hari ini Inka dan Bianca sedang izin tidak masuk untuk urusan keluarga. Sari tengah asyik bercumbu dengan kekasihnya, tiba-tiba ponselnya berdering tepat saat kekasihnya ingin mengecap gundukan dadanya.


"Halo..."


"....."


"Miss Inka ga ke sini pak, kan memang hari ini beliau tidak masuk karena ingin ke rumah sakit katanya."


"....."


"Saya ga tau pak."


Tut..tut..tut.. Panggilan telepon berakhir.


"Ih main di tutup aja. Dasar horang kaya." Sari mencibir ponsel yang di pegangnya.


"Ya udah sayang, jangan marah-marah!" ujar kekasih Sari.


"Dulu gue pernah gangguin miss Inka sama pak Rio yang lagi... Ternyata kesel ya!" Gumam Sari.